Tepuk Tangan yang Tak Pernah Cukup

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ada seorang pekerja bernama Raka yang selalu berusaha menjadi yang terbaik. Setiap tugas ia kerjakan dengan sempurna, setiap penampilannya ia pikirkan matang-matang, bahkan setiap unggahan di media sosial harus terlihat seolah hidupnya baik-baik saja. Diam-diam, ia menunggu satu hal: pujian. Ketika atasannya memuji, ia bahagia. Ketika teman-temannya mengagumi, ia merasa berharga. Namun ketika kerja kerasnya tidak mendapat apresiasi, semangatnya runtuh seketika.
Lama-kelamaan Raka lelah. Bukan karena pekerjaannya terlalu berat, tetapi karena ia merasa harus terus membuktikan dirinya kepada semua orang. Ia mulai membandingkan hidupnya dengan orang lain, takut dianggap gagal, dan bahkan sesekali berpura-pura menjadi sosok yang sebenarnya bukan dirinya. Ia lupa bahwa manusia tidak pernah memiliki satu standar yang sama. Apa yang dipuji seseorang, bisa saja dianggap biasa oleh orang lain. Apa yang kita anggap hebat, belum tentu membuat semua kepala bertepuk tangan.
Suatu malam, setelah melihat hasil kerjanya yang kembali sepi apresiasi, Raka bertanya kepada dirinya sendiri, “Sebenarnya, untuk siapa aku melakukan semua ini?” Pertanyaan sederhana itu membuatnya terdiam lama. Ia sadar, selama ini hidupnya terlalu bergantung pada penilaian orang lain. Ia bekerja bukan hanya karena ingin menghasilkan sesuatu yang baik, tetapi karena ingin dianggap hebat. Ia berusaha terlihat sempurna, bukan karena mencintai prosesnya, melainkan karena takut dianggap tidak cukup.
Sejak saat itu, Raka mulai mengubah cara pandangnya. Ia tetap bekerja keras, tetapi tidak lagi menjadikan pujian sebagai tujuan. Ia mulai bertanya kepada dirinya sendiri: Apakah aku sudah jujur dalam proses ini? Apakah aku sudah memberikan yang terbaik? Apakah aku masih menjadi diriku sendiri? Perlahan, ia menemukan ketenangan yang selama ini ia cari dari tepuk tangan orang lain. Ia menyadari bahwa penghargaan paling tulus kadang bukan berupa pujian, melainkan perasaan damai karena tahu dirinya telah menjalani sesuatu dengan niat yang baik.
Sebab pada akhirnya, orang lain tidak menjalani hidup kita. Mereka tidak menanggung setiap kegagalan, tidak merasakan setiap perjuangan, dan tidak menentukan ke mana langkah kita akan berakhir. Maka jangan serahkan harga diri kepada opini yang mudah berubah. Kita boleh senang ketika dihargai, tetapi jangan hancur ketika tidak dipuji. Teruslah bertumbuh, teruslah berproses, dan lakukan yang terbaik—bukan demi membuat semua orang kagum, melainkan agar suatu hari kita bisa menatap diri sendiri dan berkata, “Aku mungkin belum sempurna, tetapi aku sudah hidup dengan tulus menjadi diriku sendiri.”
