Tetangga Baru Pensiun, Tumpengan di Kantor Meriah tapi Bingung

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Tetangga saya, seminggu lalu sudah pensiun. Berhenti bekerja setelah 28 tahun. Hari terakhirnya kerja, dia cerita kantornya menggelar acara perpisahan. Bikin tumpengan sambil foto-foto sama teman sekantor. Dapat apresiasi dari pimpinan dan dijadikan contoh sebagai karyawan teladan yang loyal pada perusahaan. Meriah sekali, katanya. Keren sekali tetangga saya, jadi ikut bangga.
Sesampainya di rumah, tetangga saya senyumnya sumringah. Dia cerita suka-dukanya orang bekerja. Mulai dari berangkat pagi, pulang malam hari. Selain untuk menafkahi keluarga, semua hidupnya didedikasikan untuk pekerjaan. Bahkan dia cerita, ikut membangun perusahaannya dari masa-masa sulit hingga maju seperti sekarang. Maklum baru pensiun, jadi masih semangat bila cerita urusan kantor. Beliau memang pantas disebut pekerja keras. Sehari-hari hidupnya hanya untuk pekerjaan dan kantor. Itu cerita seminggu lalu ketika beliau pensiun.
Tapi semalam, saya melihat beliau termenung di teras rumahnya. Ada sesuatu yang beda dan tidak seperti biasanya. Matanya seperti kosong. Kayak lagi melamun. Beliau duduk lama di kursi depan rumahnya. Diam sambil menatap jalanan yang gelap.
Saya bertanya "Bapak kenapa?"
Beliau jawab pelan, "Iya Pak, besok nggak ada lagi tempat yang harus dituju."
“Ya nggak apa-apa Pak, kan memang sudah pensiun. Tinggal dinikmati saja” ujar saya menghibur.
Beliau menjawab, “Itulah masalahnya, bagaimana dengan biaya hidup di hari tua?”
Ternyata, masa pensiun bukan soal kesepian. Tapi soal pekerjaan dan gaji. Apalagi tetangga saya selama ini identitasnya adalah pekerjaannya. Dan sekarang itu hilang. Ditambah satu ketakutan yang nggak beliau ucapkan. Apakah uang pensiun yang tersisa cukup buat hidup?
Banyak pekerja khawatir jelang pensiun, apalagi yang sudah pensiun. Dulu selagi aktif, katanya pensiun masih lama. Tapi begitu waktu pensiun tiba, banyak pekerja yang tidak siap. Maka wajar, 8 dari 10 pensiunan akhirnya mengandalkan biaya hidup dari anggota keluarganya yang bekerja (BPS, 2024). Ada 1 dari 2 pensiunan yang meminta transferan dari anaknya setiap bulan (ADB, 2024). Begitulah realitas pensiunan di Indonesia.
Seperti tetangga saya yang pensiun itu. Kini hanya melamun setiap malam. Bingung harus ngapain dan bagaimana cara menutupi kebutuhan hidupnya. Pengen bekerja lagi tapi fisiknya sudah tidak sekuat dulu. Sementara biaya hidup terus berjalan. Baginya, apalah arti tumpengan ketika pensiun. Apalah arti dijadikan teladan sebagai karyawan yang loyal. Tapi masa pensiun yang nyaman sama sekali tidak dipersiapkan saat masih bekerja.
Dari obrolan dengan tetangga saya yang sudah pensiun. Saya pun berjanji ke diri sendiri. saya tidak mau pensiun tanpa persiapan. Untuk apa berjaya saat kerja tapi merana saat pensiun. Dan saya tidak mau anak-anak saya terbebani karena Bapaknya pensiun dan tidak punya uang. Karenanya, saya akan pastikan untuk pensiun dengan nyaman dan mandiri secara finansial. Agar tidak merepotkan anak-anak secara ekonomi.
Saya juga bekerja keras. Bahkan membangun penghasilan tambahan. Tapi yang paling penting, saya sudah persiapkan masa pensiun dengan mengikuti DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan). Agar tetap punya kesinambungan penghasilan di hari tua. Bukan cuma buat saya. Tapi buat bilang ke anak-anak suatu hari nanti, "Tenang saja Nak, Bapak punya uang untuk biaya hidup bahkan membantu kamu bila diperlukan".
Begitulah spirit punya dana pensiun nsejak dini. Biar tenang di masa pensiun dan tidak tergantung kepada siapapun, #YukSiapkanPensiun
