Konten dari Pengguna

Tetap Berharga Meski Tak Dipilih

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Belajar menerima kenyataan bahwa kita tidak selalu dilibatkan, tidak selalu diajak, bahkan terkadang diabaikan oleh orang-orang di sekitar kita adalah bagian dari proses pendewasaan. Tidak mudah melihat teman-teman berkumpul tanpa mengajak kita, mengetahui rekan kerja makan siang bersama tanpa memberi tahu kita, atau menyadari bahwa sebuah acara berlangsung tanpa kehadiran kita. Ada rasa kecewa, sedih, bahkan muncul pertanyaan dalam hati, “Apa ada yang salah dengan diriku?” Perasaan itu manusiawi. Kita semua ingin dihargai, diterima, dan dianggap berarti. Namun, jangan sampai keinginan untuk diterima membuat kita terus-menerus menyalahkan diri sendiri hanya karena tidak menjadi bagian dari lingkaran orang lain.

Kedewasaan dimulai ketika kita memahami bahwa tidak semua orang harus menyukai kita, tidak semua lingkungan harus menerima kita, dan tidak semua pintu harus terbuka untuk kita. Bayangkan suatu hari kita mengetahui bahwa teman-teman kantor mengadakan acara bersama tanpa mengundang kita. Daripada menghabiskan malam dengan memikirkan alasan mereka atau sibuk mempertanyakan nilai diri sendiri, mengapa tidak menggunakan waktu itu untuk beristirahat, menikmati makan malam bersama keluarga, membaca buku, atau melakukan hal yang membuat hati lebih tenang? Kita tidak bisa mengendalikan keputusan orang lain, tetapi kita selalu punya pilihan untuk menentukan bagaimana meresponsnya. Jangan biarkan ketidakhadiran kita dalam agenda orang lain berubah menjadi ketidakhadiran kita dalam kebahagiaan sendiri.

Damai meski sendiri
zoom-in-whitePerbesar
Damai meski sendiri

Mulai sekarang, tanamkan dalam hati bahwa harga diri tidak ditentukan oleh berapa banyak undangan yang kita terima, berapa sering nama kita disebut, atau seberapa ramai orang yang menemani langkah kita. Ada kalanya kita tidak diajak bukan karena kita tidak berharga, melainkan karena setiap orang memiliki kedekatan, kepentingan, dan prioritas yang berbeda. Jika seorang sahabat mulai jarang menghubungi kita, misalnya, kita boleh merasa kehilangan, tetapi tidak perlu memohon perhatian hingga melupakan kehormatan diri sendiri. Tetaplah bersikap baik, tetaplah membuka ruang untuk hubungan yang sehat, tetapi jangan memaksa diri bertahan di tempat yang membuat kita terus merasa tidak berarti. Kita boleh merindukan kebersamaan, tetapi jangan sampai kehilangan diri sendiri demi mendapatkannya.

Ketahuilah, hidup bukan perlombaan untuk menjadi orang yang paling dikenal, paling sering diajak, atau paling banyak memiliki teman. Ada ketenangan yang justru hadir ketika kita mampu menikmati secangkir kopi sendirian, berjalan-jalan tanpa harus menunggu seseorang menemani, atau menghabiskan akhir pekan dengan melakukan sesuatu yang kita sukai. Sendirian bukan berarti kesepian, sebagaimana dikelilingi banyak orang tidak selalu berarti merasa bahagia. Belajarlah merasa cukup tanpa menutup diri dari kasih sayang, mandiri tanpa menjadi dingin, dan tegar tanpa kehilangan kelembutan hati. Sebab, ketika kita berhenti menggantungkan kebahagiaan pada penerimaan orang lain, kita mulai memahami satu hal yang penting: kita tidak harus selalu dipilih oleh orang lain untuk tetap berharga. Terkadang, kedamaian terbesar datang ketika kita berani memilih diri sendiri.