Konten dari Pengguna

Tidak Punya Empati?

Syarif Yunus

Syarif Yunusverified-green

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Makin ke sini, banyak orang makin tidka punya empati. Bahkan rasa peduli kian tergerus. Fenomena orang “tidak punya empati” terasa menakutkan, karena empati adalah fondasi utama hubungan manusia. Secara sederhana, empati adalah kemampuan untuk memahami dan merasakan apa yang orang lain alami. Ketika kemampuan ini rendah atau tidak berkembang dengan baik, seseorang bisa kesulitan membaca emosi, menangkap sinyal sosial, atau menyadari dampak dari tindakannya terhadap orang lain.

Dalam banyak kasus, kurangnya empati bukan sekadar “pilihan”, melainkan hasil dari berbagai faktor. Bisa karena pola asuh yang minim kehangatan emosional, pengalaman traumatis, atau lingkungan yang mengajarkan bahwa perasaan orang lain tidak penting. Ada juga kondisi psikologis tertentu yang membuat seseorang memang memiliki keterbatasan dalam merasakan empati, sehingga respons mereka terhadap situasi sosial berbeda dari kebanyakan orang.

Hal yang membuatnya terasa “seram” adalah karena mekanisme kontrol internal yang biasanya dimiliki orang lain, seperti rasa bersalah atau penyesalan, tidak bekerja dengan cara yang sama. Rasa bersalah biasanya muncul ketika kita menyadari bahwa kita telah melukai orang lain. Namun, jika seseorang tidak benar-benar memahami atau merasakan penderitaan orang lain, maka sinyal untuk merasa bersalah itu pun tidak pernah aktif. Orang tidak punya empati, cenderung arogan dan subjektif!

Dari sudut pandang mereka, dunia bisa terlihat sangat berbeda. Mereka mungkin menilai tindakan berdasarkan logika pribadi, keuntungan, atau pembenaran internal, bukan berdasarkan dampak emosional terhadap orang lain. Karena itu, hal-hal yang bagi kita terasa kejam atau tidak pantas, bagi mereka bisa terasa wajar, netral, atau bahkan benar.

Melatih empati di taman bacaan

Penting untuk diingat, memahami fenomena ini bukan berarti membenarkan perilakunya. Justru ini membantu kita lebih waspada dan menetapkan batasan yang sehat. Berhadapan dengan orang yang minim empati sering kali membutuhkan kehati-hatian, kejelasan dalam komunikasi, dan kemampuan untuk melindungi diri sendiri secara emosional, karena kita tidak bisa mengandalkan mereka untuk secara alami “merasakan” apa yang kita rasakan.

Dan ternyata orang yang kurang empati itu serem banget. Jangankan untuk memahami kondisi orang lain, untuk sekadar sadar bahwa tindakannya menyakiti pun mereka tidak mampu. Dan yang lebih seram lagi adalah mereka tidak merasa bersalah. Dalam kepalanya, semua tampak wajar, semua tampak layak bagi orang yang kurang empati. Mengerikan sekali.

Maka latihlah empati dan peduli sejak dini. Jadilah relawan dan berkiprah di TBM Lentera Pustaka. Untuk selalu berbuat baik dan menebar manfaat kepada ratussan anak-anak yang gemar membaca di taman bacaan masyarakat. Salam literasi!