Konten dari Pengguna

Tingkatkan Literasi dan Inklusi via Bulan Dana Pensiun 2026

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hasil survei SNLIK 2025 menyebut indeks literasi dana pensiun di Indonesia sebesar 27,79%, sedangkan tingkat inklusi tergolong redah di 5,37%. Angka ini jauh tertinggal dibandingkan indeks literasi keuangan secara nasional yang berada di atas 65% , sedangkan inklusi keuangan nasional di 80%. Data OJK (April 2026) merilis jumlah peserta program dana pensiun di Indonesia mencapai 30,11 juta orang atau 20,33% dari total 147,67 juta pekerja di Indonesia. Komposisinya, sebagian besar merupakan peserta program wajib 16,65% = 24,59 juta peserta, sedangkan peserta dana pensiun sukarela hanya sebesar 3,68% = 5,43 juta peserta. Artinya, minat dan kesadaran masyarakat untuk bergabung secara mandiri ke dana pensiun masih sangat minim.

Faktanya, ada 79,67% atau 117,65 juta orang yang bekerja di Indonesia belum memiliki perlindungan program pensiun. Sekitar 8 dari 10 pekerja belum menjadi peserta dana pensiun. Maka, kondisi hari tuanya menjadi tidak pasti secara finansial dan berpotensi menjadi bagia dari sandwich generatin yang terus berlanjut.

Sebagai upaya meningkatkan indkes literasi dan inklusi dana pensiun, OJK bersama pemangku kepentingan industri dana pensiun akan menggelar “Bulan Dana Pensiun” untuk pertama kalinya pada tahun 2026 sepanjang bulan September 2026. Kegiatan ini menjadi gerakan kolaboratif seluruh ekosistem penyelenggara program pensiun yang bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya mempersiapkan masa pensiun sejak usia produktif, di samping meningkatkan literasi dan inklusi dana pensiun di Indonesia. Kampanyekan dana pensiun ke masyarakat Indonesia.

Nantinya, puncak acara Bulan Dana Pensiun digelar seminar “Indonesia Pension Fund Summit (IPFS) 2026” pada 24-25 September 2026 di Balai Kartini Jakarta. Bertindak sebagai panitia adalah ADPI (Asosiasi Dana Pensiun Inodneisa) dan ADPLK (Asosiasi Dana Pensiun Lembaga Keuangan) dengan tema “Memperkuat Ekosistem Pensiun yang Berkelanjutan: Hidup Sehat, Pensiun Bahagia”, sebagai forum strategis yang mempertemukan regulator, pemerintah, pengelola dana pensiun, lembaga jasa keuangan, organisasi internasional, akademisi, dan pelaku industri untuk membahas arah pengembangan industri dana pensiun Indonesia agar menjadi lebih kuat, inklusif, adaptif, dan berkelanjutan.

Tentu saja, masa pensiun yang sejahtera tidak mmungkin terjadi begitu saja. Sangat dibutuhkan perencanaan yang dimulai sejak dini agar setiap orang dapat mempersiapkan masa depan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya. Karena itu, industri dana pensiun di Indonesia dihadapkan pada 3 (tiga) kendala yang harus diatasi, yaitu:

1. Orientasi jangka pendek, karena masyarakat lebih memprioritaskan kebutuhan harian atau tabungan likuid ketimbang persiapan hari tua.

2. Kurang edukasi dan pemahaman, banyak masyarakat yang belum memhami produk dana pensiun bahkan belum menjangkau pekerja informal yang dominan di Indonesia.

3. Akses digital yang terbatas, sebab sebagian besar partisipasi pensiun masih bergantung pada pekerja formal atau mandatori lewat pemberi kerja.

Maka inisiasi Bulan Dana Pensiun dan IPFS tahun 2026 tidak muluk-muluk. Hanya untuk meningkatkan indeks literasi dan inklusi dana pensiun di Indonesia. Masyarakat menjadi paham dan sadar akan pentngnya mempersiapkan masa pensiunnya sendiri sehingga berdampak konkret pada kepesertaan dana pensiun yang meningkat. Makin banyak masyarakat (pekerja formal dan informal) yang menjadi peserta dana pensiun. Untuk kemandirian finansial di hari tua, di samping kesinambungan penghasilan saat tidak bekerja lagi. #YukSiapkanPensiun #DanaPensiun #BulanDanaPensiun #IPFS2026

kesenjangan dana pensiun di Indonesia