Konten dari Pengguna

Memaknai Eloknya Mahakarya Hujan Bulan Juni, Ciptaan Sapardi Djoko Sang Maestro

Syarifah Komalasari

Syarifah Komalasari

Journalism Student Of Padjadjaran University

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syarifah Komalasari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sapardi Djoko Damono, pencipta sajak "Hujan Bulan Juni" (sumber : instagram @damonosapardi)
zoom-in-whitePerbesar
Sapardi Djoko Damono, pencipta sajak "Hujan Bulan Juni" (sumber : instagram @damonosapardi)

Tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni,

Dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu.

Bagian bait dari sajak sang legenda sastra Indonesia, Sapardi Djoko Damono dalam mahakarya legendaris bertajuk “Hujan Bulan Juni”. Tak ada yang lebih bermakna selain mengenal sang penyair melalui karya beliau yang tercetak abadi.

Meski telah tiada, jejak beliau abadi menghiasi sastra bumi pertiwi. Bersama dengan buku “Hujan Bulan Juni” Sapardi menyusun untaian puisi sederhana yang bermakna. “Hujan Bulan Juni” merupakan bentuk bagaimana beliau memanifestasikan rasa menjadi kata. Tak heran mahakarya ini berhasil terbit di beberapa negara hingga menembus dunia layar lebar.

Berikut sajak legendaris karya Sapardi Djoko Damono – Hujan Bulan Juni

Tak ada yang lebih tabah

dari hujan bulan Juni

Dirahasiakannya rintik rindunya

Kepada pohon berbunga itu

Tak ada yang lebih bijak

dari hujan bulan Juni

dihapusnya jejak-jejak kakinya

yang ragu-ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif

dari hujan bulan Juni

dibiarkannya yang tak terucapkan

diserap akar pohon bunga itu

Setiap kata atau diksi dalam sajak “Hujan Bulan Juni” memiliki makna romantisme tersendiri. Tersirat dalam bait bagaimana sang penyair menyampaikan rindu dengan menganalogikannya sebagai pohon yang berbunga. Setiap bait sajak dalam puisi “Hujan Bulan Juni” didominasi oleh analogi sang penyair kepada alam namun tetap mengindahkan sebuah cerita romantisme yang klasik.

Meskipun puisi adalah karya seni yang terbuka untuk penafsiran, “Hujan Bulan Juni” tetap memiliki makna yang melekat seperti percintaan, kehilangan, dan kesedihan. Makna sesungguhnya tentang hujan yang turun pada Bulan Juni adalah bentuk analogi tentang kesedihan yang melanda seseorang, seperti bagaimana semesta dapat menjelaskan cara kerja hujan yang turun ketika musim kemarau telah tiba.

Sapardi Djoko Damono, pemegang kendali atas penciptaan “Hujan Bulan Juni” berhasil memenangkan berbagai penghargaan pada akhir perjalanannya. Penghargaan yang berhasil diraih sang maestro diantaranya Anugerah Seni Indonesia, Kalyana Kretya Menristek RI, Achmad Bakrie Award, Khatulistiwa Award, dan masih banyak penghargaan lainnya.

Menghembuskan napas terakhir pada 19 Juli 2020, seluruh kenangannya akan abadi dalam ingatan para pembacanya. Terkenal sebagai sosok yang rendah hati dan bersahaja membuat Sapardi Djoko Damono beserta jajaran karyanya dikenang luas hingga akhir hayatnya.

“Hujan Bulan Juni” yang eksis hingga kini adalah salah satu bukti bagaimana penciptaan beliau abadi di hati pembacanya. Sindy, salah satu penggemar karya Sapardi Djoko Damono menyampaikan beribu terima kasih atas segala mahakaryanya, “Terima kasih Eyang, di dalam bait-bait sajak ini, kau abadi. Semoga tenang di alam sana.”