Pengelolaan sampah Kampung Berseri Astra,Tegeh Sari Denpasar

Narablog, mari berteman di twitter dan instagram syarifani89
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari FITRIA SYARIFANI tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Permasalahan sampah di Kota Denpasar masih menjadi isu yang kompleks. Dilansir dari Kumparan News, tumpukan sampah nampak di depan rumah, warung makan, hingga restoran terjadi mulai Jalan Tukad Bandung , Tukad Teh Aya, Tantular hingga Jalan Letda Kajeng, Kota Denpasar. Hal ini merupakan imbas dari penutupan tahap satu Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Suwung pada Agustus 2025. Di tahap satu, TPA Suwung sudah tak menerima sampah oganik. Kemudian di tahap dua yang akan berlangsung mulai akhir Desember 2025 nanti, TPA Suwung akan ditutup permanen untuk pembuangan sampah terbuka. Setelah ditutup permanen, TPA Suwung hanya akan menerima sampah residu yang telah dipilah dan diolah di tempat lain. Jika dibiarkan terus menerus, maka akan timbul dampak banjir akibat sampah warga di kali atau sungai.
Sebagai informasi, TPA Suwung kerap mengalami kebakaran di tiap puncak musim panas. Kebakaran ini dipicu dari tumpukan sampah yang kedalamannya mencapai puluhan meter dan menimbulkan gas.
Untuk mengendalikan dan mengantisipasi masalah tersebut, masyarakat Banjar Tegeh Sari pun kembali berpegangan pada Perarem yang sama. Disebutkan dalam Perarem itu, bahwa krama ngarep, krama tamiu dan tamiu di wewidangan Banjar Tegeh Sari wajib menjadi pelanggan swakelola sampah Banjar Tegeh Sari. Artinya, warga asli dan warga pendatang, serta orang selain krama ngarep dan krama tamiu yang berada di wilayah banjar untuk sementara atau bertempat tinggal dan tercatat di banjar harus berpartisipasi dalam program pengelolaan sampah mandiri.
Implementasi dari Perarem tersebut kemudian ditunjukkan dengan terpilihnya Banjar Tegeh Sari menjadi Kampung Berseri Astra (KBA) pada 2021 lalu. Sebuah program yang diinisiasi Astra dalam membangun masyarakat melalui 4 pilar yaitu pendidikan, lingkungan, kesehatan dan kewirausahaan.
Pembuatan bank sampah yang menjadi salah satu faktor membangun KBA kini dapat dinikmati oleh warga banjar. Sebanyak tiga bank sampah, yaitu Bank Sampah Banjar Tegeh Sari Lestari, Bank Sampah Intan Lestari dan Bank Sampah Sari Dewi, telah beroperasi di sana.
Pengelolaan sampah di Banjar dilakukan dengan memisahkan sampah organik dan anorganik. Sampah anorganik yang bernilai ekonomi dikumpulkan di bank sampah, sementara sampah organik diolah melalui sumur kompos dan komposter di rumah tangga. Sampah residu inilah yang kemudian diangkut oleh pengangkut sampah ke TPA. Selain itu, KBA Tegeh Sari juga melakukan inovasi program hilirisasi dengan mendaur ulang sampah plastik.
Dengan jumlah penduduk sebanyak 1.312 kepala keluarga (KK), sebanyak 1.162 KK kini sudah terfasilitasi pelayanan pengangkutan dan terdaftar di bank sampah. Bank Sampah Tegeh Lestari sudah bekerja sama dengan Koperasi Manik Galih untuk memfasilitasi bank sampah. Dari tabungan bank sampah kemudian dimanfaatkan untuk membayar BPJS, pulsa, token listrik, dan sebagainya.
Keberhasilan program bank sampah Banjar Tegeh Sari Lestari diakui dan sukses meraih juara 1 Lomba Bank Sampah Kota Denpasar tahun 2019, dan Juara 2 Bank Sampah Unit Binaan dalam Bank Sampah Innovation Competition (BASIC) 2023.
Kiprah Ibu rumah tangga jalankan program Kampung Berseri Astra, Tegeh Sari Denpasar
Ibu-ibu sudah memiliki jadwal berkumpul untuk membawa sampah plastik bernilai ekonomi yang telah dibawa dari rumah. Sampah-sampah itu kemudian ditimbang dan dijual ke bank sampah yang hasilnya berupa tabungan bank sampah. Bank Sampah Sari Dewi dibuka setiap hari Sabtu pada minggu pertama dan ketiga tiap bulan.
Selain menjalankan kampanye bank sampah, Ariani yang merupakan penggagas program KBA Tegeh Sari dan kaum ibu pengurus ZWC Sari Dewi juga turun tangan untuk mengelola kebun berdaya. Mereka berbagi peran dan waktu untuk mengelola kebun dan membuat olahan pangan sehat hasil dari kebun.
Hasil kebun dipanen untuk dijual dan uang penjualannya dijadikan uang kas kelompok. Sementara itu, hasil ternak lele, yang juga ada di dalam area kebun, akan dibagikan ke warga. Menurut ibu-ibu, mereka ingin terus dapat melakukan kegiatan positif.
Beberapa kebun kosong di area Banjar juga dimanfaatkan. Kebun-kebun itu kemudian dikelola secara komunal. Mereka dinamai dengan Kebun Berdaya Krama, Kebun Berdaya Kampung Hijau, Kebun Berdaya yang dikelola ibu-ibu PKK dan anak-anak, serta Kebun Berdaya Sari Dewi yang menggunakan nama lokasi mereka yakni Gang Sari Dewi.
Selain kebun yang dikelola komunal, ada juga kebun yang dikelola warga sendiri. Salah satunya kebun yang terletak di Gang Pinguin yang dikelola oleh personel Nosstress, Gunawarma alias Kupit. Kupit menyebut bahwa kebahagiaan dalam berkebun itu menjadi hal yang spesial.
Inisiatif memanfaatkan lahan kosong untuk berkebun di Banjar Tegeh Sari ini telah didukung melalui peraturan tingkat banjar yang disebut dengan Perarem Banjar Tegeh Sari, Desa Pekraman Tonja No. 01/PERAREM/BTS/IX/2018 yang disahkan tanggal 10 September 2018 tentang Penanjung Batu, Pepeson, Lahan Tidur, Pelanggan Sampah dan sanksi membuang sampah sembarangan di wilayah Banjar Tegeh Sari.
Gerakan anak muda sadar lingkungan
Semangat untuk menjaga lingkungan tak hanya dijalani oleh kaum Bapak dan Ibu Banjar Tegeh Sari. Jika Bapak fokus memberdayakan kebun kosong, sedangkan ibu-ibu turun tangan mengelola sampah rumah tangga maka kaum muda di banjar ini pun punya misi yang lain. Mereka merasa bertanggung jawab untuk menyebarluaskan ajaran-ajaran pengelolaan lingkungan agar semua warga turut berperan dalam melestarikan dan mengelola tempat mereka hidup.
Anak-anak muda Banjar Tegeh Sari, bersama beberapa pemuda lain dari luar Banjar mendirikan Sahabat Alam (Salam) Natah Rare. Pande Komang Jody Wiranatha, salah satu anggota komunitas Salam Natah Rare dan Sekaa Teruna Teruni (STT) di Banjar, menceritakan keprihatinannya pada anak muda yang lebih banyak menghabiskan waktu luang untuk bermain games.
Ia ingin mengajak anak muda untuk produktif berkebun dengan cara melakukan kegiatan membersihkan dan menanam di kebun. Kini, berkebun di Kebun Berdaya Kampung Hijau yang berlokasi di depan Bale Banjar sudah menjadi kegiatan rutin anak-anak Salam Natah Rare tiap minggu.
Selain kegiatan di kebun, komunitas yang bernaung di bawah Yayasan Tegeh Sari juga mengadakan Pasraman Hijau bagi anak-anak tiap tahun. Sebuah acara edukasi lingkungan kepada anak-anak sekolah dasar selama satu minggu. Pada kegiatan tersebut, kaum muda Banjar mengajari anak-anak untuk berkebun organik, melukis di kanvas, dan membuat pewarna alami.
Program yang sudah dijalankan oleh KBA Tegeh Sari tak luput dari tantangan yang memang tak mudah untuk mengubah perilaku tiap orang yang sudah turun temurun tak memilah sampah rumah tangga. Butuh konsistensi serta upaya persuasif mengajak masyarakat guna berpartisipasi memilah sampah rumah tangga masing-masing.
Kisah keberhasilan Gede Mantrayasa, Ariani, dan Jody dalam menciptakan masyarakat yang cerdas dan peduli lingkungan layak menjadi contoh dan diikuti oleh warga lainnya, tak terbatas warga Denpasar. Partisipasi dan kontribusi semua pihak juga dibutuhkan untuk mewujudkan lingkungan yang lestari. Terlebih jika gerakan pelestarian itu didukung oleh pihak pemerintah dan pihak swasta. Empat pilar yang diusung Astra yaitu pendidikan, lingkungan, kesehatan dan kewirausahaan, kini telah menjelma menjadi kehidupan yang seimbang antara manusia dengan alam di Banjar.
APA2025-ISB
Sumber referensi :
https://kumparan.com/kumparannews/denpasar-diserang-tumpukan-sampah-akibat-penutupan-tpa-suwung-25b4ATFOmU7/1
https://bali.suara.com/read/2024/10/28/181748/jalan-panjang-banjar-tegeh-sari-mengelola-bank-sampah-masyarakat-bersama-astra#goog_rewarded
https://balitribune.co.id/content/sewindu-kba-tegeh-sari-komunitas-nata-rare-adakan-pasraman-hijau
https://www.ekuatorial.com/2024/11/membangun-kesadaran-masyarakat-melalui-bank-sampah-di-banjar-tegeh-sari/
