Konten dari Pengguna

Seen Tapi Gak Dibalas: Anxiety Digital yang Diam-Diam Bikin Kita Kesepian

Syaura Putri Mahendra

Syaura Putri Mahendra

Saya adalah mahasiswi jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang (UNPAM)

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syaura Putri Mahendra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

(ilustrasi orang main hp. sumber: freepik)
zoom-in-whitePerbesar
(ilustrasi orang main hp. sumber: freepik)

"Udah Di-read Tapi Gak Dibales" - The Ultimate Modern Anxiety

Siapa yang pernah ngalamin ini: kirim chat ke gebetan atau bestie, langsung keliatan read tapi gak ada balesan. Terus pikiran langsung kemana-mana. "Aku salah ngomong apa ya?" "Dia lagi marah sama aku?" "Apa dia udah gak suka sama aku?"

Sound familiar? Congrats, kamu udah jadi korban anxiety era digital!

Zaman dulu komunikasi tuh simple banget. Ketemu, ngomong, selesai. Sekarang? Everything is complicated banget. Chat aja ada seen-nya, Instagram story ada viewers-nya, bahkan typing indicator pun bisa bikin overthinking. Padahal mungkin orangnya lagi ke kamar mandi doang, guys.

Plot Twist: Makin Connected, Makin Lonely

Ini dia yang aneh. Punya ratusan followers di Instagram, ribuan friends di Facebook, tapi kok rasanya sepi banget ya? Kenapa sih makin banyak platform komunikasi, malah makin susah dapat temen yang real? Jawabannya simpel: kita udah terlalu fokus sama image daripada connection yang genuine. Kamu liat sendiri kan, berapa banyak orang yang posting caption inspiratif tapi sebenernya lagi broken inside? Atau yang always posting happy moments tapi real life-nya berantakan?

Real Talk: Performative vs Authentic Communication

Coba deh dipikir, berapa kali:

  • Post quote "strong independent woman/man" padahal abis nangis sejam karena putus

  • Kasih selamat ulang tahun dengan template copy-paste yang sama ke 10 orang berbeda

  • Kirim "Hbd, wish u all the best" tanpa mikir dua kali

  • Pake filter wajah karena takut keliatan jelek pas video call

Nah, itu namanya performative communication - komunikasi yang dipaksain buat keliatan bagus di mata orang lain. Bandingkan sama authentic communication:

  • Ngaku kalo lagi gak baik-baik aja

  • Beneran dengerin cerita temen tanpa sambil main HP

  • Bilang "aku gak ngerti, explain dong" daripada sok tau

Etika Digital: Beyond "Jangan Ngetik Pake CAPS"

Kebanyakan orang kalo ditanya soal etika digital pasti jawabnya soal sopan santun online basic: jangan spam, jangan toxic, dll. Tapi actually, etika komunikasi di era digital tuh way more complex than that.

Attention = Currency Baru

Di zaman sekarang, attention tuh basically mata uang. Kalo temen cerita masalah personal, mereka sebenernya lagi "bayar" dengan trust dan expect dikasih attention balik.

Contoh real case:

Bestie kirim chat panjang banget cerita soal drama keluarga. Kamu yang lagi sibuk main game, jadi cuma bales "yah kasian". Technically udah bales, tapi etically? Not cool, bro. It's like someone giving you their heart and you just go "ok cool". Ouch.

Scenarios yang bikin bingung:

  • Screenshot chat private trus share ke grup lain (big no-no)

  • Tag orang di Instagram story tanpa izin (annoying much?)

  • Nelpon berkali-kali gara-gara chat gak dibales (stalker vibes)

Ancient Wisdom Meets Modern Problems

Fun fact: masalah komunikasi yang kita hadapin sekarang sebenernya udah dipikirin sama para philosopher zaman dulu lho. Cuma konteksnya aja yang beda. Martin Buber, seorang philosopher, bilang ada dua cara kita relate sama orang lain:

1. I-It relationship

  • Treat orang lain kayak objek

  • Liat followers cuma sebagai angka

  • Pake temen buat konten doang

  • Chat orang cuma kalo butuh sesuatu

2. I-Thou relationship

  • Treat orang lain sebagai manusia seutuhnya

  • Genuine interest sama kehidupan mereka

  • Dengerin dengan hati, bukan cuma telinga

  • Kasih ruang buat orang lain jadi vulnerable

Guess which one yang lebih healthy?

Echo Chamber Effect

Pernah gak notice algoritma Instagram atau TikTok cuma munculin konten yang sejalan sama opinion kita? That's called echo chamber - cuma denger suara sendiri yang diulang-ulang. Philosopher Jürgen Habermas punya konsep "ideal speech situation" dimana komunikasi tuh harusnya:

  • Gak ada yang mendominasi

  • Everyone gets equal chance to speak

  • Fokus nyari truth bareng-bareng, bukan menang-menangan

Try to imagine itu di comment section Instagram. Impossible? Yeah, that's the problem.

How to Not Suck at Digital Communication

1. Think Before You Send

Before ngirim chat, tanya diri sendiri:

  • Apakah pesan ini helpful atau cuma nambah drama?

  • Gimana rasanya kalo yang nerima chat kayak gini?

  • Beneran care sama orangnya atau cuma pengen keliatan baik?

2. Actually Listen (Shocker, I Know)

  • Baca chat dengan lengkap, jangan skim doang

  • Acknowledge perasaan mereka, bukan cuma facts-nya

  • Ask follow-up questions yang menunjukkan actually interested

Wrong: "Oh gitu ya"

Right: "That sounds really tough. Gimana perasaan kamu sekarang?"

3. Match the Energy

Kalo ada yang sharing something personal, jangan langsung memberikan nasihat. Terkadang ada orang hanya ingin didengar. Dan jika memang tepat, bagikan sesuatu yang pribadi kembali dengan level yang sama.

4. Digital Detox Challenge

  • Coba deh sesekali komunikasi tanpa gadget:

  • Ketemu face-to-face tanpa foto-foto

  • Telpon tanpa sambil ngapa-ngapain

  • Tulis surat fisik (sounds ancient tapi surprisingly therapeutic)

Feel the difference.

Simple reminder: Di balik setiap username, profile picture, atau avatar, ada manusia dengan perasaan yang sama kayak kita. They have bad days, insecurities, dreams, dan fears. When you communicate dengan mindset ini, technology jadi bridge, bukan barrier.

So next time mau ngirim "K" as response to your friend's heartfelt message, maybe think twice? What would make this interaction more human?

Hot take: Mungkin menjadi komunikator yang baik di era digital bukanlah tentang menguasai semua platform - melainkan tentang tidak kehilangan kemanusiaanmu saat menggunakannya. Dan sejujurnya? Itu jauh lebih keren daripada memiliki estetika Instagram yang sempurna.

P.S.: Kalo baca artikel ini sampe habis, congrats! Udah praktikin attention yang dibahas tadi. See? Communication skills: unlocked.