Konten dari Pengguna

Feodalisme atau Adab? Membongkar Persepsi Miring terhadap Budaya Pesantren

Syaviera EP Ibrahim

Syaviera EP Ibrahim

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syaviera EP Ibrahim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Belakangan ini, dunia pesantren kerap menjadi sorotan hangat di ruang publik. Sebagian kalangan melayangkan tudingan miring, menyebut adanya pola hubungan feodal antara kiai dan santri. Namun, di sisi lain, tidak sedikit pula yang membela bahwa apa yang tampak di permukaan itu murni merupakan wujud adab serta bentuk penghormatan dalam tradisi keagamaan.

Tuduhan "feodalisme" ini sering kali membuat masyarakat melihat pesantren melalui kacamata yang terlalu sempit. Akibatnya, banyak yang gagal paham mengenai dimensi sejarah, nilai-nilai keagamaan, hingga metode pembelajaran yang sesungguhnya terjalin erat antara seorang guru dan murid di lingkungan pesantren.

illustration of gemini
zoom-in-whitePerbesar
illustration of gemini

Akar Hubungan Kiai dan Santri: Antara Sanad Keilmuan dan Akhlak

Hubungan batin antara kiai dan santri sebenarnya berakar dari tradisi transmisi ilmu Islam yang mendalam. Di pesantren, kiai bukan sekadar pengajar yang mentransfer ilmu dari kitab kuning, melainkan juga figur teladan moral serta pembimbing spiritual dalam mengarungi kehidupan.

Sikap hormat yang ditunjukkan santri kepada kiai bukanlah bentuk ketundukan buta seperti dalam relasi kuasa politik. Sebaliknya, hal itu merupakan manifestasi dari adab dan akhlak mulia yang diajarkan secara turun-temurun dalam tradisi keilmuan Islam. Sistem yang sekilas tampak hierarkis ini sesungguhnya berfungsi untuk mendidik kedisiplinan, merawat keteraturan kehidupan bersama, serta menjaga kesinambungan tradisi keagamaan—bukan untuk menindas atau merampas hak orang lain.

Secara sosiologis, feodalisme adalah sistem yang menempatkan masyarakat kecil dalam posisi sangat bergantung kepada penguasa, biasanya lekat dengan eksploitasi kekuasaan dan kepemilikan tanah. Sementara itu, adab di pesantren berporos pada penghormatan terhadap ilmu, keluhuran budi pekerti, dan ketulusan pengabdian kepada guru. Banyak pihak salah kaprah karena menyamakan tradisi seperti mencium tangan atau kepatuhan mutlak kepada guru dengan sistem feodal, padahal keduanya berasal dari fondasi moral yang bertolak belakang.

illustration of gemini

Tantangan Era Digital: Dari Ulah Oknum hingga Ujian Citra Pesantren

Di era modern ini, lanskap informasi turut dipengaruhi oleh kehadiran para influencer agama dan penceramah dari kalangan santri. Sayangnya, tidak semua figur membawa dampak positif. Sebagian oknum justru menampilkan perilaku yang mencederai citra pesantren, seperti merokok tanpa batas, melontarkan guyonan tabu yang murahan, hingga menampilkan gaya arogan (mlete dan petantang-petententeng) layaknya penguasa lokal. Fenomena ini tak luput dari kritik tajam para tokoh pesantren yang peduli, salah satunya dikritik secara terbuka oleh pengamat dan pendakwah seperti Ismael Al Kholilie.

Ujian terhadap citra pesantren juga semakin diuji lewat derasnya arus media sosial yang kerap menyajikan pemberitaan kurang akurat. Beberapa waktu lalu, publik sempat dihebohkan oleh tayangan salah satu stasiun televisi swasta yang menyoroti kehidupan di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Potongan video yang menampilkan kiai sepuh KH. Anwar Mansur menaiki mobil mewah, tradisi santri berjalan dengan lutut (ndengkul) saat bersalaman, hingga momen pemberian amplop, memicu reaksi keras dari para alumni. Gelombang protes serentak menggema di dunia maya dengan tagar boikot, lantaran dinilai mengabaikan konteks kultural, keikhlasan, serta kedalaman adab yang telah mengakar kuat di pesantren. Padahal, figur seperti beliau adalah sosok sepuh yang mendedikasikan seluruh hidupnya hanya untuk mengaji dan mendidik santri dengan penuh keikhlasan.

Belum lagi kasus-kasus viral terkait infrastruktur pesantren—seperti kunjungan Kementerian PU ke Lirboyo atau video gotong royong pembangunan di Pesantren Al Khoziny Sidoarjo—yang sering kali dipelintir oleh narasi media yang dangkal, seolah-olah santri dieksploitasi sebagai tenaga kerja konstruksi. Padahal, aktivitas tersebut murni bentuk gotong royong dan keterlibatan spontan para santri di waktu libur mereka.

illustration of gemini

Menjembatani Tradisi dan Era Modern

Peristiwa-peristiwa di atas menjadi pengingat penting bahwa realitas pesantren tidak bisa dihakimi sekadar dari kulit luarnya saja. Nilai-nilai luhur yang dijunjung tinggi di dalamnya sering kali bertabrakan dengan logika media modern yang serba instan dan haus sensasi.

Untuk keluar dari perdebatan kusir antara tuduhan feodalisme dan pembelaan adab yang membabi buta, diperlukan langkah nyata dari berbagai lini:

Dari Sisi Pengelolaan Internal: Pesantren perlu memperkuat kode etik pengasuh, membuka kanal pengaduan yang aman, serta meningkatkan transparansi pengawasan.

Dari Sisi Pendidikan: Pentingnya pembinaan berkala bagi para tenaga pengajar agar senantiasa menghindari pendekatan kekerasan, penyediaan layanan konseling bagi santri, serta penguatan kurikulum adab yang proporsional.

Dari Sisi Komunikasi Publik: Pesantren dan para pemangku kepentingannya perlu lebih adaptif dalam mengelola isu digital secara terbuka, jujur, serta membangun dialog konstruktif dengan masyarakat luas agar tidak terjadi distorsi informasi.

Penutup

Anggapan miring bahwa pesantren bersifat feodal umumnya lahir dari cara pandang luar yang melihat tradisi penghormatan tanpa mau memahami esensi maknanya secara utuh. Adab adalah mahkota yang harus terus dijaga dalam tradisi pesantren, namun hal itu harus berjalan seiring dengan akuntabilitas, keterbukaan, dan perlindungan terhadap hak-hak santri.

Jalan terbaik adalah merajut dialog yang sehat: merawat keluhuran adab di satu sisi, sekaligus memperkuat tata kelola yang modern di sisi yang lain. Dengan ikhtiar memperkuat aturan internal, pendidikan akhlak yang humanis, serta literasi media yang baik, stigma keliru tentang "feodalisme" versus "adab" dapat diikis. Pada gilirannya, pesantren akan terus berdiri kokoh sebagai benteng moral bangsa yang aman, bermartabat, dan senantiasa dipercaya oleh masyarakat.

Catatan: Artikel ini disusun dengan merujuk pada esai asli dan literatur pendukung terkait dinamika kultural pesantren.