Konten dari Pengguna

Kenapa Hati Sering Lelah, Padahal Hidup Baik-Baik Saja

Syaviera EP Ibrahim

Syaviera EP Ibrahim

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syaviera EP Ibrahim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bahagia Itu Tenang: Membaca Ulang Makna Hidup Menurut Imam Al-Ghazali

illustration of AI
zoom-in-whitePerbesar
illustration of AI

Di tengah kehidupan yang serba cepat, kebahagiaan sering kali diukur dari kekayaan, prestasi, dan pengakuan orang lain. Namun, tidak sedikit orang yang sudah mencapai banyak hal justru masih merasa cemas dan gelisah. Lantas, mengapa hati tetap lelah meskipun kehidupan tampak baik-baik saja?

Imam Al-Ghazali, seorang ulama dan pemikir besar Islam, menawarkan pandangan bahwa kebahagiaan sejati tidak hanya bergantung pada apa yang dimiliki manusia, tetapi juga pada keadaan jiwanya. Dalam karyanya, Ihya’ ‘Ulum al-Din, ia membahas pentingnya memperbaiki hati dan mendekatkan diri kepada Allah sebagai bagian dari perjalanan menuju kebahagiaan.

Kebahagiaan Bukan Sekadar Pencapaian

Dalam pandangan Al-Ghazali, kebahagiaan berkaitan dengan sa‘ādah, yaitu kebahagiaan sejati yang memiliki dimensi spiritual. Kekayaan, jabatan, dan prestasi bukanlah sesuatu yang salah, tetapi semuanya tidak menjamin ketenangan batin.

Contohnya, seorang mahasiswa yang berhasil mendapatkan nilai tinggi mungkin merasa senang. Namun, ketika melihat temannya memperoleh nilai lebih baik, ia kembali merasa kurang. Hal ini menunjukkan bahwa jika kebahagiaan selalu bergantung pada pencapaian dan perbandingan dengan orang lain, seseorang akan sulit merasa cukup.

Oleh karena itu, manusia perlu belajar menghargai proses, menerima kekurangan, dan tidak menjadikan penilaian orang lain sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan.

Menata Hati untuk Menemukan Ketenangan

Kegelisahan juga dapat muncul ketika seseorang terlalu sibuk mengejar pengakuan, takut kehilangan, atau terus membandingkan dirinya dengan orang lain. Bahkan, aktivitas keagamaan pun perlu disertai niat yang tulus agar tidak sekadar menjadi sarana memperoleh pujian.

Al-Ghazali mengajarkan pentingnya memperbaiki batin, bukan hanya memperindah penampilan lahiriah. Hal ini dapat dilakukan dengan meluruskan niat, mengurangi kesombongan, serta melatih qana‘ah, yaitu sikap merasa cukup atas pemberian Allah tanpa berhenti berusaha.

Qana‘ah bukan berarti menyerah pada keadaan. Sebaliknya, seseorang tetap boleh memiliki cita-cita dan bekerja keras, tetapi tidak membiarkan keinginannya menghilangkan rasa syukur dan ketenangan.

Bahagia Dimulai dari Dalam Diri

Pemikiran Al-Ghazali mengingatkan kita bahwa kebahagiaan bukan berarti hidup tanpa masalah. Kebahagiaan juga berkaitan dengan kemampuan menerima kenyataan, mengelola keinginan, dan menjalani kehidupan sesuai nilai-nilai yang diyakini.

Di tengah tuntutan untuk terus berprestasi dan menjadi lebih baik, kita perlu sesekali bertanya kepada diri sendiri: apakah kita benar-benar mengejar sesuatu yang bermakna, atau sekadar ingin memenuhi harapan orang lain?

Mungkin selama ini kita terlalu sering bertanya, “Apa lagi yang belum aku miliki?” Padahal, pertanyaan yang lebih penting adalah, “Apa yang selama ini terlalu menguasai hatiku?”

Pada akhirnya, kebahagiaan tidak selalu datang dari kehidupan yang semakin mewah atau pencapaian yang semakin tinggi. Terkadang, kebahagiaan justru tumbuh ketika kita mampu menata hati, memperbaiki niat, bersyukur, dan mendekatkan diri kepada Allah. Sebab, hidup yang tenang bukan berarti hidup tanpa kekurangan, melainkan hidup dengan hati yang mampu menemukan makna.