Belajar dalam Industri Kreatif F&B: Pengalaman magang di Grande Garden Cafe

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Syayif Izzuddin Karimi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
SURABAYA – Sejak menerima pengumuman penempatan magang dari The Survival Outbound Team (TSOT), saya sudah mengetahui bahwa saya akan ditugaskan di Grande Garden Cafe, salah satu unit usaha TSOT yang bergerak di bidang food and beverage. Saat itu saya langsung membayangkan suasana kafe yang terbuka, asri yang cocok untuk membuat konten sosial media yang menarik. Dan ternyata, bayangan itu benar adanya.
Magang ini berbeda dari yang saya kira sebelumnya. Ternyata kami tidak datang ke lokasi setiap hari. Justru sebagian besar kegiatan dilakukan dari rumah. Di hari-hari biasa, fokus kami lebih ke proses editing konten, menyusun caption, dan mengunggah konten ke Instagram maupun TikTok. Sedangkan pengambilan konten seperti foto dan video produk lebih banyak dilakukan di akhir pekan atau hari libur, saat suasana lebih lebih ramai dan kita bisa mengambil konten mengenai pengunjung yang tentunya lebih ramai.

Saya sendiri dipercaya sebagai ketua tim. Peran ini membuat saya harus bertanggung jawab terhadap alur kerja tim, membagi tugas anggota, sekaligus memastikan bahwa setiap konten yang kami hasilkan selaras dengan identitas visual dan pesan yang ingin disampaikan oleh Grande Garden Cafe. Walaupun kami lebih sering bekerja dari jarak jauh, diskusi dan koordinasi tetap berjalan intensif melalui grup Whatsapp.
Salah satu kekuatan dari program magang ini adalah adanya bimbingan langsung dari mentor lapangan. Kak Laras, pembimbing dari pihak Grande Garden Cafe, yang banyak membantu kami dalam menyempurnakan konsep visual maupun strategi penyampaian pesan. “Saya senang melihat tim ini punya semangat dan inisiatif. Mereka tidak sekadar menunggu perintah, tapi aktif menyampaikan konsep sendiri yang kadang justru memperkaya konten kami,” ujar Kak Laras saat kami mengevaluasi hasil kerja di pertengahan program.
Tidak hanya itu, bimbingan dari dosen pembimbing kampus juga sangat berperan. Insan, dosen pembimbing saya dari Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, turut mendorong agar pengalaman magang ini tidak hanya menjadi rutinitas kerja, tapi benar-benar menjadi proses pembelajaran karakter dan profesionalisme. “Magang adalah kesempatan nyata untuk membentuk karakter kerja. Peran Syayif sebagai ketua tim menunjukkan bahwa mahasiswa bisa memimpin dan beradaptasi di luar zona nyamannya,” ujar beliau saat saya melakukan konsultasi laporan kemajuan.
Dari pengalaman ini saya belajar bahwa mengelola media sosial bisnis bukan sekadar posting konten menarik. Ada perencanaan, konsistensi, riset audiens, dan banyak pertimbangan visual. Kami bahkan beberapa kali harus mengubah konsep agar tone warna, gaya bahasa, dan isi pesan sesuai dengan citra Grande Garden Cafe yang ingin dibangun.
Tantangan terbesar saya terjadi menjelang bulan Ramadan, saat perangkat utama saya untuk editing konten tiba-tiba rusak. Padahal kami sudah menyiapkan banyak rencana konten untuk momentum itu. “Saya belajar bahwa dalam situasi seperti itu, hal paling penting adalah tetap tenang dan berpikir solusi. Sebagai ketua, saya sadar saya harus jadi penopang semangat tim, bukan malah panik,” ungkap Syayif saat merefleksikan proses tersebut.
Secara keseluruhan, pengalaman magang di Grande Garden Cafe sangat membekas. Kami diberikan ruang untuk berekspresi, didengarkan idenya, dan benar-benar dipercaya untuk terlibat langsung dalam pekerjaan nyata. Pengalaman ini tidak hanya memperkaya keterampilan teknis, tapi juga membentuk kepercayaan diri dan pola pikir profesional yang akan sangat berguna di masa depan.
