Konten dari Pengguna

Menyadari Self Bullying: Ketika Kita Menjadi Penindas Diri Sendiri

Syefani Nova Rizkyka

Syefani Nova Rizkyka

Mahasiswa Pendidikan Administrasi Perkantoran Universitas Sebelas Maret

·waktu baca 4 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syefani Nova Rizkyka tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Canva
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Canva

Self-bullying adalah bentuk perilaku negatif terhadap diri sendiri dimana seseorang memiliki kebiasaan merendahkan dirinya secara berlebihan, dan orang tersebut memperlakukan dirinya sendiri dengan keras, dan tidak bersahabat pada dirinya sendiri.Pola pikir seperti ini dapat menimbulkan tekanan pada emosional mental seseorang, dimana ketika kita tidak sadar mengisi pikiran dengan sesuatu yang buruk.Hal tersebut, akan berakibat pada hilangnya rasa percaya diri dan bahkan kehilangan jati dirinya sendiri.

Menurut Ken Rigby, seorang konsultan pendidikan dan ahli bullying, menjelaskan bahwa bullying berakar pada dorongan untuk menyakiti seseorang, yang dieksekusi secara berulang tanpa rasa tanggung jawab dari pelaku. Self-bullying ini bisa dianggap sebagai proses di mana seseorang memposisikan dirinya sebagai “korban” dan “pelaku” sekaligus dengan cara terus-menerus merendahkan diri sendiri.

Sayangnya kejadian self-bullying ini sering sekali diabaikan dan dianggap sepele, gejala dari membully diri sendiri ini tidak dapat disadari secara langsung oleh diri kita.Akibatnya, seseorang sering kali terjebak dalam pola pikir negatif tanpa tahu bahwa dirinya sedang melakukan penindasan terhadap diri sendiri.Penyebab utama self-bullying terjadi karena pola pikir negatif yang membuat seseorang merasa tidak pantas untuk bahagia.Terkadang, rasa tidak percaya diri ini muncul oleh trauma atau pengalaman tidak dihargai oleh orang lain, sehingga menanamkan pikiran-pikiran buruk tentang diri sendiri.

Saya sendiri memiliki pengalaman pribadi dimana saya tanpa sadar memiliki tanda-tanda self- bullying seperti kebiasaan membandingkan diri dengan pencapaian orang lain,hal ini menunjukkan kurangnya saya dalam menghargai diri sendiri. Saya juga sering melihat orang-orang di sekitar saya berbicara buruk tentang dirinya dengan kalimat yang kurang baik seperti “Aku tidak bisa apa-apa” atau “Aku jelek” dan lain sebagainya. Tanpa disadari, ucapan-ucapan ini berdampak buruk pada kesehatan emosional mereka.

Merasa sulit dalam mengambil keputusan dan takut untuk mengambil kesempatan dan peluang besar yang ada juga tanda dari gejala self-bullying yang sering kali tidak disadari, Ketakutan ini membuat saya membatasi diri untuk meraih kesuksesan, dan justru lebih sering menuruti ketakutan daripada berani untuk mencoba. Hal itu membuat saya kehilangan banyak kesempatan untuk berkembang dan semakin jauh dari potensi diri yang saya miliki.

Ekspektasi seseorang kepada kita juga dapat menjadi pemicu self-bullying, tekanan untuk memenuhi standar-standar tersebut terkadang membuat saya merasa gagal dan kecewa saat tidak berhasil mencapainya.Saya tanpa sadar mengkritik diri secara berlebihan, seolah-olah semua hal bergantung sepenuhnya pada saya. Padahal, tidak semua hal berada dalam kendali kita, dan memaksakan diri hanya akan membuat mental kita lelah dan berujung pada stres, bahkan depresi.

Dampak buruk dari self-bullying ini sangat merugikan, seperti mengalami kecemasan yang berlebih bahkan depresi hingga pikiran untuk menyakiti diri sendiri. Banyak orang tidak menyadari bahwa kebiasaan ini bisa berbahaya dan mengancam kesehatan mental.Selain berdampak pada kesehatan mental,self-bullying juga mempengaruhi hubungan sosial. Ketika kita kehilangan rasa percaya diri, kita cenderung untuk menarik diri dari interaksi sosial dan menjauh dari orang-orang yang seharusnya bisa memberikan dukungan kepada kita.Saya pernah merasakan hal ini ketika saya merasa tidak mencapai sebuah harapan yang diinginkan, sehingga tanpa sadar saya menjauh karena merasa tidak mampu memenuhi harapan orang lain dan merasa rendah diri.

Dari gejala dan dampak self-bullying diatas serta pengalaman yang pernah saya alami, kita dapat untuk lebih menyadari pada diri sendiri bahwa sangat penting bagi kita agar tidak terjerumus dengan emosional yang tidak baik.Hal tersebut dapat dicegah dengan beberapa usaha seperti mencoba untuk mencintai dan berdamai dengan diri sendiri,dimana kita berusaha untuk menerima segala kekurangan dan mencoba memperbaiki diri dengan melepaskan pikiran negatif, menyadari self bullying ini juga dapat di mulai dengan kita mencari tahu apa yang menyebabkan kita tidak memiliki kepercayaan diri atau yang menganggu pikiran dan perilaku kita terhadap diri sendiri. Dari mengetahui penyebabnya, kita dapat melawan self-bullying itu dengan menanamkan pikiran yang positif untuk diri kita sendiri seperti “Aku pasti bisa”, “ Aku Hebat” , dan sebagainya. Dengan menanamkan pikiran tersebut, dapat membantu kita untuk lebih percaya diri.

Self-bullying ini merupakan masalah serius yang sering kali tidak disadari. Penting bagi kita untuk mulai menyadari dan mencegah kebiasaan ini agar tidak terjebak dalam pola pikir negatif yang merusak kesehatan mental kita.Saya sendiri belajar untuk lebih menghargai diri sendiri dan lebih bersyukur dengan potensi yang saya miliki, serta untuk tidak takut maupun ragu lagi pada diri sendiri. Jadilah sahabat bagi diri sendiri, bukan penindas diri sendiri.Dengan mencintai dan menghargai diri sendiri, kita dapat membangun kesehatan mental yang lebih baik dan lebih siap menghadapi tantangan hidup. Jangan biarkan ketakutan menghalangi potensi yang kita miliki, belajarlah untuk tumbuh dari kesalahan dan fokus pada hal-hal positif dalam diri kita.

Syefani Nova Rizkyka, mahasiswa Pendidikan Administrasi Perkantoran Universitas Sebelas Maret.