Pentingnya Mentalitas dan Kesehatan Mental

Raja Syeh Anugrah
Founder Kolam Baca dan Alumni Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta.
Konten dari Pengguna
29 Maret 2024 9:01 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Raja Syeh Anugrah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Dok. Prokopim Setdako Sawahlunto dalam Diskusi Kolam Kopi ke-8, Kolam Baca, Sabtu, 23 Maret 2024.
zoom-in-whitePerbesar
Dok. Prokopim Setdako Sawahlunto dalam Diskusi Kolam Kopi ke-8, Kolam Baca, Sabtu, 23 Maret 2024.
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Kesehatan mental menjadi isu yang menarik untuk dibicarakan dan diobrolkan di ruang publik. Menarik bukan hanya dari segi tingkat keviralannya, melainkan pada aspek pentingnya menanamkan sikap peduli dan empati terhadap sesama lewat pertemuan positif. Dalam hal ini, lingkar anak muda agar memiliki sikap saling terbuka dan membuka diri.
ADVERTISEMENT
Kolam Baca sebagai salah satu komunitas literasi di Sawahlunto menghadirkan obrolan yang menjadi kebutuhan anak muda dalam hal edukasi pada Sabtu, 23 Maret 2024 di Warung Kita, Kota Sawahlunto. Dasar atau landasannya sederhana, bagaimana ke depan isu kesehatan mental ini bisa menjadi perhatian bersama dan turut membangkitkan rasa berkesadaran di lingkup sosialnya.
Poin penting yang turut menjadi sorotan dalam isu kesehatan mental berangkat dari maraknya kasus bullying atau pengucilan di lingkungan pendidikan. Imbas dari sini mengakibatkan tumbuhnya sikap tidak percaya diri dan cenderung tertutup. Tak kalah lagi stigmatisasi masyarakat terhadap orang-orang yang dianggap berbeda seperti gangguan mental atau penyakit mental. Mereka yang terpinggirkan itu bahkan di satu sisi mendapatkan beban bertubi, bukan rangkulan.
ADVERTISEMENT
Dr. dr. Ambun Kadri, MKM., dalam penjelasannya, menyatakan bahwa permasalahan ini tidak bisa dibiarkan. Sebab dalam pandangan medis, orang-orang yang memiliki sakit secara psikis perlu penanganan medis sebagaimana penyakit-penyakit fisik lainnya. Selain itu, orang yang dianggap memiliki gangguan secara mental pun tak boleh dianggap ‘gila’.
Inilah yang kerap terjadi di tengah-tengah masyarakat kita, kemudian berangkat dari Indonesia secara keseluruhan. Pembahasan mengenai kesehatan mental masih di dalam kisaran 20% saja. Lalu Ambun Kadri menambahkan, jika ditarik dari segi perbedaan generasi dan mengapa generasi X atau Y itu lebih kuat mentalnya ketimbang generasi Z. Disebabkan segi lingkungan dan pola asuh.
Melansir data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), kasus bullying ini kerap meneror anak-anak di sekolah. Tercatat terjadi 226 kasus bullying pada tahun 2022. Berbeda dari tahun sebelumnya, 2020 ada 119 kasus, dan 2021 ada 53 kasus. Perbandingannya pun cukup tajam antara bullying fisik sebesar (55,5%), bullying psikologi (15,2%), dan verbal (29,3%) (dpr.go.id diakses 28 Maret 2024).
ADVERTISEMENT
Data adalah sebagian yang tercatat, bisa saja masih banyak kasus-kasus lain yang belum tercatat. Seperti puncak gunung es di bawah permukaannya ternyata masih banyak lagi. Oleh sebab itu, perlunya mengenal lebih lagi berkaitan kesehatan mental, efek, dampak, dan faktor penyebabnya.
Mengambil Peran
Kesehatan mental itu bisa tumbuh ketika di dalam lingkungan keluarga terbiasa berdemokrasi dalam menentukan sikap atau pendapat. Pelarangan yang terjadi justru mengakibatkan tekanan-tekanan, dan berdampak pada rasa tidak percaya diri untuk melalukan akselerasi ketika di dunia sosial.
Dalam studi psikologi nantinya didapati dua faktor nature dan nurture. Atau faktor warisan biologis sejak lahir dan faktor yang diciptakan berdasarkan pengalaman lingkungan. Meskipun keduanya memiliki kesalingkaitan, namun nature dan nurture adalah dua hal yang berbeda.
ADVERTISEMENT
Nature lebih kepada faktor biologis dari dalam diri seseorang dengan karakteristik genetik yang melekat. Tentunya hal ini menjadi faktor yang memengaruhi sifat seseorang tersebut. Contoh dari nature adalah penampilan fisik seperti warna kulit, warna mata, tinggi badan, yang menurunkan tingkat kepercayaan diri.
Sedangkan nurture lebih diakibatkan faktor lingkungan. Pengalaman yang diterima seseorang dari lingkungannya bisa membentuk kepribadian individu tersebut. Konsep nurture sangat berkaitan erat dengan interaksi dan lingkungan sosial. Hal yang dapat menggambarkan mengenai konsep ini seperti dengan siapa kita bergaul—berkawan, yang akan membentuk pola pikir dan cara tindak-laku di masyarakat (psychology.binus.ac.id diakses 27 Maret 2024).
Datang dari pernyataan Gusnelly, SSTP., M. Si., pemantik kedua yang membagikan kisah pengalaman hidupnya dalam hal kesehatan mental. Beliau termasuk ke dalam bagian individu yang mampu bangkit dari faktor nurture. Maksudnya adalah ketika beliau dinobatkan sebagai siswi sekolah menengah atas Kab. Lima Puluh Koto dan mendapatkan juara umum. Keadilan tidak memihak kepadanya.
ADVERTISEMENT
Oleh sebab keadilan yang tidak memihak menyebabkan timbulnya ketidakadilan, dan ketidakadilan memengaruhi psikis-nya. Lebih lanjut, Gusnelly menyebutkan, “jika anak-anak muda sekarang yang disebut sebagai zilenial atau gen-Z tidak mampu bangkit dari keterpurukan dan tidak memasang mentalitas yang kokoh. Maka kita akan mudah saja digilas oleh zaman.” Karena itu, poin-poin yang menjadi catatan dari Gusnelly yakni, kita perlu meningkatkan self-confident untuk menghindari mental disorders.
Meski secara kondisi yang dialami Gusnelly berdampak pada psikis, namun itu menjadi kekuatan baginya untuk menunjukkan lewat kapasitas dan kesungguhan. Sampailah ia pada muara perjuangan dan diterima menjadi mahasiswi di STPDN (Sekolah Tinggi Pemerintah Dalam Negeri). Begitupun pesannya, “ketika kita berada pada kondisi mindfulness. Tak boleh menjustifikasi orang-orang mindless.”
ADVERTISEMENT
Menjaga Kesehatan Mental
Kesehatan mental memang sesuatu hal yang masih terasa janggal di tengah-tengah masyarakat kita. Padahal keterbukaan informasi telah memberikan banyak sekali edukasi yang bisa dibaca secara seksama. Namun oleh sebab ketidakingintahuan atau ingin tahu tetapi masih sebatas menggalinya secara sekilas-kilas. Membuat isu ini menjadi terpinggirkan dari obrolan ruang-ruang publik.
Perlu diperkuat bahwa kesehatan mental ini bersanding dengan kesehatan fisik. Atau bahasanya bahwa sakit itu tidak melulu menyoal sakit secara fisik yang langsung berpengaruh kepada kondisi badan seperti gejala kepala pusing atau demam tinggi. Melainkan gejala-gejala ketika jantung berdebar, berkeringat, gelisah dan perasaan yang asing. Itu termasuk ke sakit psikis yang perlu diobati.
Melansir dari Kendra Cherry, MSEd., lewat laman (verywellmind.com diakses 27 Maret 2024) ada lima domain kepribadian yang diperlukan agar kesehatan mental ini terjaga; Openness, Conscientiousness, Extraversion, Agreeableness, and Neuroticism atau disingkat (OCEAN). Atau diartikan juga, kehati-hatian, keramahan, stabilitas emosional, keterbukaan dan ekstroversi.
ADVERTISEMENT
Kehatian-hatian di sini bisa dipahami mengenai etos kerja dalam menjalankan suatu amanah dan keroganisasian dengan terbuka secara kerja tim. Keramahan mengacu ke dalam sifat kebaikan dan berempati. Stabilitas emosional mengacu pada ketenangan dan fleksibilitas. Keterbukaan mengacu pada rasa ingin tahu serta mampu berpikir secara analitis. Dan, ekstroversi terkait sikap ketegasan dari diri yang dikonversi menjadi sikap ekstover merunut KBBI VI; bersifat terbuka.
Dari konsep kepribadian yang dikemukakan dalam tulisan Kendra Cherry, MSEd., ini sekiranya bisa menjadi gambaran agar individu bisa memahami kondisi diri dan lingkungan. Bahwa untuk berkembang itu tak lain adalah saling besar-membesarkan sebab di sanalah letak sifat manusia sebagai makhluk sosial tersebut.