ASAL USUL DESA PENYARANG

Mahasiswa S1 Keperawatan Universitas Al-Irsyad Cilacap
·waktu baca 18 menit
Tulisan dari Syifa Aulia Izzatunnisa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Desa Penyarang adalah desa di Kecamatan Sidareja, Cilacap, yang dikenal dengan potensi wisata alam dan budayanya. Desa ini berada di perbukitan dengan formasi geologi unik, dan memiliki beberapa tempat wisata alam seperti Puncak Purut serta tempat wisata budaya berupa makam Panembahan Cisagu, yang merupakan makam pendiri Kadipaten Penyarang yaitu Adipati Sepuh dan Adipati Anom. Kehidupan pedesaannya digambarkan sebagai perpaduan antara tradisi dan modernitas, dengan suasana pedesaan yang damai.
Panembahan Cisagu merupakan salah satu bagian penting dari identitas budaya dan sejarah Desa Penyarang, dan sering disebutkan dalam konteks cerita rakyat atau sejarah lokal daerah Cilacap, khususnya yang berkaitan dengan era Kadipaten Penyarang. Panembahan Cisagu sekarang digunakan sebagai situs ziarah atau petilasan. Banyak warga lokal maupun peziarah yang datang untuk menghormati tokoh tersebut atau untuk tujuan spiritual tertentu.
Kadipaten Penyarang sendiri itu merupakan kadipaten yang didirikan oleh Adipati Ranggasena atas dasar perintah dari sang ayahnya Prabu Ciung Wanara salah satu Raja Kerajaan Pajajaran, yang bertujuan sebagai penghubung antara Kerajaan Pajajaran dengan kerajaan lain di Tanah Jawa.
ASAL USUL KADIPATEN PENYARANG
Di tanah Pasundan berdiri kerajaan yang besar bernama Kerajaan Pajajaran. Kerajaan tersebut dipimpin oleh raja yang bijaksana yaitu Prabu Ciung Wanara. Sang Prabu memiliki istri yang cantik jelita dan memiliki adik yang mengabdi di Keraton Surakarta. Ia dikaruniai tujuh orang anak, yaitu Punggung Kencana (Lingga Hingwang), Lingga Wesi, Susuktunggal, Anggalarang, Siliwangi, Mundingwangi, dan Mundingmalati (Ranggasena). Dari putra ketujuh, yaitu Mundingmalati atau Ranggasena, Sang Prabu dikaruniai empat orang cucu, yaitu Segarawangi, Wadas Malang, Gunung Sari, dan Sena Reja atau Hajar Sena.
Pada suatu hari, Prabu Ciung Wanara memerintahkan Ranggasena dan keempat putranya untuk mengembara. Ranggasena dan keempat putranya dipercaya untuk mendirikan sebuah kadipaten di Tanah Jawa. Pada saat itu Ranggasena belum menjabat apapun di kerajaan.
Sang Prabu berpesan kepada Ranggasena agar mengembara ke arah matahari terbit, menyusuri hutan perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah, carilah tempat yang menurutnya baik untuk dijadikan tempat tinggal dan mendirikan kadipaten yang bertujuan menjadi penggubung antara Kerajaan Pajajaran dan kerajaan lainnya di Tanah Jawa.
Tanpa banyak bertanya Ranggasena bersedia menjalankan peritah dari Sang Prabu. Ia harus rela meninggalkan istri dan ibu tercintanya di Kerajaan Pajajaran. Sebenarnya, istrinya tidak rela jika keempat putranya ikut mengembara dengan Ranggasena dan istrinya juga khawatir jika nantinya Ranggasena akan memiliki istri baru di tempat pengembaraanya. Namun, keberatan dan kekhawatiran sang istri itu tidak menggoyahkan niat Ranggasena untuk menjalankan perintah ayahandanya, Prabu Ciung Wanara. Dengan segala upaya, dia berusaha meyakinkan istrinya bahwa apa pun yang terjadi dia akan tetap setia kepadanya.
Tiba waktunya berpisah, Pajajaran tidak seramai biasanya. Suasana sedih menyelimuti warga kerajaan. Tiada senyum dan gurau terlontar. Tidak ada satu pun kata canda terlempar. Semua muka menunduk lesu. Hanya air mata yang berbicara, menatap kepergian Ranggasena dan keempat putranya. Sebelum pergi mereka menghadap kepada Prabu Ciung Wanara untuk meminta izin atas perintah yang diberikan beliau.
Sang Prabu berpesan sekali lagi “Ranggasena, kebulatan tekadmu menjalankan perintahku merupakan cermin jiwa kesatria pada dirimu. Aku tahu, semua ini memang berat. Berat meninggalkan Kerajaan tercinta, berat meninggalkan ayah-ibu, dan berat meninggalkan istrimu, tetapi langkah inilah yang akan menentukan masa depanmu. Oleh karena itu, jangan kamu ragu. Janganlah kota atau negara besar yang kau tuju. Pergilah, belahlah hutan lebat dan sepi. Jadikan tempat itu bersemi. Langkahkan kakimu ke arah terbit matahari” .
Dengan langkah mantap Ranggasena dan keempat putranya pergi meninggalkan Kerajaan Pajajaran. Rasa sedih karena harus berpisah dengan orang-orang yang dicintainya sudah tidak tampak di raut wajah mereka, digantikan dengan perasaan senang dan bersenda gurau di sepanjang perjalanan seakan tidak ada beban pada diri mereka. Dalam pengembaraan itu, mereka tidak lagi mengenakan pakaian kerajaan. Kemewahan Kerajaan Pajajaran sengaja ditanggalkan agar identitas mereka sebagai putra Raja Pajajaran tidak diketahui orang. Mereka menyamar sebagai orang desa dengan pakaian yang sangat sederhana.
Hari demi hari, waktu demi waktu, mereka terus melangkah melewati Jalan terjal, hutan rimba penuh onak dan duri mereka sibak, tetapitempat yang di amanatkan oleh Sang Prabu tidak kunjung mereka temui. Meski demikian, mereka tidak pernah menyerah, mengeluh, atau putus asa. Bahkan, tidak pernah sedikit pun terlintas rasa ingin pulang ke Pajajaran.
Tanpa terasa, dua tahun telah berlalu. Selama itu pula mereka telah mengembara dari satu tempat ke tempat lainnya. Pada saat itu mereka sampai di tengah hutan yang penuh dengan pohon besar. Daun-daunnya yang rindang seakan menjadi atap sebuah alam yang terbuka. Di sela-sela kerindangan daun dan ranting terdapat banyak sarang burung yang menandakan kebebasan hidup burung di sana. Sementara itu, di balik pohon banyak hewan berseliweran ke sana-kemari. Tampak sekali jika hutan itu masih asli dan belum dirambah orang. Belum ada manusia yang berani datang atau tinggal di tempat itu. Barangkali, Rangasena dan keempat putranyalah manusia pertama yang menginjakkan kaki di hutan itu.
Hari mulai gelap, terlebih lagi hutan di tempat Ranggasena dan putranya beristirahat sangat lebat, lengkaplah kegelapan menyelimuti tempat itu. Ranggasena kemudian memutuskan untuk tinggal di tempat itu.
Ranggasena mengajak keempat putranya untuk mencari kayu dan dedaunan untuk membuat rumah sederhana untuk tempat istirahat sementara. Dalam waktu singkat, rumah pohon sederhana telah berdiri di antara batang-batang pohon besar, cukup kuat untuk mereka berlima beristirahat pada malam itu. Daun-daun yang terkumpul mereka susun sebagai atap dan dinding untuk menahan dinginnya udara. Tidak lupa, mereka juga membuat api unggun. Selain untuk menghangatkan lingkungan, api itu juga digunakan sebagai penerangan supaya jika ada binatang buas yang mendekat dapat terlihat.
Malam hari pun telah tiba, kegelapan menyelimuti seluruh hutan. Namun, Ranggasena enggan menyusul keempat putranya tidur, ia masih duduk di dekat api unggun. Ranggasena tampak merenung, sesekali ia melihat sekitarnya memikirkan apakah tempat ini yang dimaksud oleh ayahandanya, jika benar tempat ini yang dimaksud apa yang harus ia lakukan dengan hutan yang sangat lebat ini. Lama Ranggasena merenung, angan demi angan terus menggelayut, membebani setiap celah pikirnya. Semua kembali pada pertanyaan, langkah apa yang harus ia lakukan dengan tempat itu. Sementara, tidak ada seorang pun yang tinggal menghuni tempat sesunyi dan sengeri itu. Renung demi renung dilaluinya, akhirnya rasa kantuk pun menghampiri. Mata tidak lagi mampu tersangga. Dengan langkah yang mulai lemas, ia naik ke rumah pohon me nyusul keempat putranya yang telah terlelap. Irama malam dan nyanyian kesunyian di hutan itu pun mengayunnya dalam mimpi.
Suasana tenang di hutan itu membuat Ranggasena dan keempat putranya merasa nyaman. Mereka merasa betah tinggal di tempat itu. Apalagi bagi Ranggasena, ia meyakini bahwa tempat itu adalah tempat yang dimaksudkan oleh ayahandanya. Keyakinan itulah yang membuatnya bertahan. Sehari, dua hari, dan sampai berhari-hari mereka belum menemukan tanda-tanda adanya orang lain yang mau tinggal di tempat itu. Namun, ketika berjalan-jalan di sekitar hutan, Ranggasena dan putranya dikejutkan oleh adanya sekelompok orang yang berada di tengah hutan.
“Salam, Ki Sanak,” sapa Ranggasena kepada mereka sambil menyalami satu per satu.
“Maaf, kami mengganggu. Perkenalkan nama saya Ranggasena dan ini keempat anak saya. Kami pengembara yang kebetulan sampai di tempat ini dan merasakan betapa tenteram dan asrinya hutan ini.”
“Selamat datang, Ki Ranggasena. Semoga berkah Tuhan menyertai pengembaraan Ki Rangga,” jawab seorang yang paling tua dalam kelompok itu.
“Terima kasih, Ki. Maaf, bagaimana kami harus menyebut Kiai?”
“Oh, ya, sampai lupa memperkenalkan diri. Saya Ngabei Tangerang. Mari, silakan singgah ke gubuk saya. Tidak enak kita berbincang sambil berdiri seperti ini,” Kiai Ngabei Tangerang mempersilakan. Setelah mereka masuk dan duduk, Kiai Ngabei Tangerang melanjutkan ceritanya, “Oh, ya, kami ini adalah penduduk asli di hutan ini. Kebetulan, saya yang paling tua dan dituakan oleh mereka. Mereka memanggil saya Kiai Ngabei Tangerang. Kami sudah cukup lama tinggal di Hutan Penyayangan ini.”
Hutan Penyayangan merupakan nama hutan yang mereka tempati saat ini. Nama Penyayangan itu sendiri merupakan sebutan dari Kiai Ngabei Tangerang sendiri. Karena, hutan ini banyak pohon besar dan rindang, banyak binatang yang tidak pernah saling bermusuhan, dan berbagai jenis burung yang hidup dan bersarang di sela ranting pepohonan. Hutan dan semua binatang itu hidup berdampingan tanpa ada permusuhan seakan hidup saling menyayangi.
Kiai Ngabei Tangerang menceritakan dengan rinci semua keadaan di hutan itu. Dari tutur katanya tampak sekali bahwa sebenarnya ia bukan orang sembarangan. Sebenarnya, Kiai Ngabei Tangerang adalah seorang yang sudah tersohor ke mana-mana sebagai seorang ahli agama. Selain itu, dia juga dikenal sebagai seorang yang memiliki ilmu kesaktian. Di hutan itu dia hidup bersama dengan dua orang anaknya, yaitu Tejalamat dan Megalamat.
Setelah mendengar penjelasan Kiai Ngabei Tangerang yang cukup rinci, Ranggasena mencoba menjelaskan kembali alasan mengapa mereka sampai di hutan itu. Akan tetapi, ia tidak menceritakan bahwa dirinya adalah putra Prabu Ciung Wanara, Raja Pajajaran. Hal itu ia lakukan agar Kiai Ngabei Tangerang tidak curiga pada mereka. Meski kenyataanya, Beliau tidak menaruh curiga sedikit pun terhadap Ranggasena dan anak-anaknya. Namun, tetap saja ada orang yang tidak suka atas kehadiran Ranggasena. Hal itu sesuai dengan cerita Kiai Ngabei Tangerang bahwa di Penyayangan masih ada perselisihan kecil antar penduduk disana karena perebutan lahan atau perbedaan pendapat. Ia sudah berusaha mencari cara agar mereka tidak saling bermusuhan, tetapi belum berhasil.
Kondisi penduduk Penyayangan yang demikian membuat Ranggasena merasa khawatir. Ranggasena bertekad untuk membantu Kiai Ngabei Tangerang dalam menghadapi permasalahan tersebut. Ranggasena dan keempat anaknya juga berniat berguru ilmu kepada Kiai Ngabei Tangerang. Melihat kesungguhan Ranggasena, Kiai Ngabei Tangerang akhirnya menyetujui dan menerima mereka. Bahkan, Kiai Ngabei Tangerang meminta mereka untuk tinggal bersama di gubuknya.
Tanpa terasa sudah bertahun-tahun Ranggasena dan anak-anaknya berguru pada Kiai Ngabei Tangerang. Selama itu mereka menerima ilmu agama, ilmu kebatinan, dan ilmu-ilmu lainnya. Ranggasena pun juga sudah mengerti dan memahami keadaan hutan dan karakter penduduk Penyayang. Ranggasena merasa sudah saatnya untuk mengemukakan niat akan tujuan sebenarnya pengembaraan yang ia lakukan yaitu mendirikan sebuah kadipaten di temapat itu kepada Kiai Ngabei Tangerang.
Pada hari itu, Ranggasena menemui Kiai Ngabei Tangerang dengan tujuan meminta izin untuk mendirikan kadipaten di Penyayangan.
“Maaf, jika saya lancang, Kiai. Penduduk Penyayang makin lama makin banyak, sekarang ini pun tampaknya sudah banyak. Jika Desa Penyayang ini dibiarkan terus begini seakan-akan tidak pernah berkembang dan maju,” kata Ranggasena kepada Kiai Ngabei Tangerang.
“Maksudmu bagaimana?”
“Saya berpikir, sudah saatnya kita mengubah Desa Penyayang menjadi sebuah kadipaten, Kiai.”
“Lalu, apa yang akan kamu lakukan?”
“Jika Kiai setuju, saya mohon izin menggerakkan warga untuk mewujudkan kadipaten itu.”
“Secara pribadi, aku setuju. Namun, hal itu tidak berarti dapat langsung dikerjakan. Semua itu harus dirembuk bersama seluruh warga.”
Pada saat itu, ada salah satu penduduk yang tidak suka kepada Ranggasena mendengarkan percakapan Ranggasena dan Kiai Ngabei Tangerang. Penduduk tersebut langsung menyebarkan berita tesebut kepada sekelompok penduduk yang tidak suka kepada Ranggasena. Dan, menghasut semua penduduk agar tidak setuju atau menolak usulan Ranggasena, dengan hasutan-hasutan bahwa Ranggasena ingin menguasi Hutan Penyayangan itu.
Pada suatu hari, Kiai Ngabei Tangerang mengumpulkan penduduk Penyayang. Mereka duduk berkumpul di pelataran depan rumah sang Kiai. Tujuan mengumpulkan mereka semua adalah membahas apa yang tempo hari sempat ia dan Ranggasena diskusikan. Penduduk yang hadir semua diam. Mereka menunggu dengan rasa penasaran, sebenarnya apa yang akan disampaikan oleh sesepuh mereka itu.
Kiai Ngabei Tangerang menyarankan agar Ranggasena sendiri yang menjelaskan rencananya di depan semua penduduk. Ranggasena lalu mengemukakan apa yang menjadi maksud dan rencananya, yaitu mengembangkan Penyayang menjadi sebuah kadipaten. Mendengar ucapan Ranggasena semua penduduk mengangguk-angguk. Namun, tiba-tiba mereka berteriak-teriak tidak setuju. Mereka berdalih bahwa Ranggasena bukan penduduk asli. Mereka curiga Ranggasena hanya akan merusak tatanan yang selama ini sudah berjalan dengan baik.
Suasana semakin memanas, penduduk tetap tidak setuju dengan rencana Ranggasena. Meskipun sudah dijelaskan tujuanya hanya ingin mengembangakan Penyayangan menjadi lebih maju. Penduduk tetap pada pemikiranya yang mengnggap Ranggasena ingin menguasai Penyayangan untuk dirinya sendiri, sampai ada yang menantang Ranggsena untuk adu kekuatan. Kiai Ngabei Tangerang mencoba mendinginkan suasana yang panas dan mulai tidak terkendali itu. Namun, upayanya sia-sia. Penduduk belum mau menerima. Mereka lebih senang jika yang membangun kadipaten adalah Kiai Ngabei Tangerang sendiri.
Kiai Ngabei Tangerang paham dengan kekhawatiran penduduk, ia memberi pemahaman kepada penduduk bahwa dirinya tidak muda lagi untuk memimpin pembangunan kadipaten. Maka dari itu perlu seseorang yang masih muda, pandai, dan bijaksana seperti Ranggasena untuk memimpin kadipaten.
Setelah mendengar ucapan Kiai Ngabei Tangerang semua penduduk terdiam seribu bahasa. Mereka merasakan ucapan tulus itu keluar dari orang yang selama ini mereka hormati. Apalagi ketika sang Kiai menegaskan bahwa dia juga akan turut mewujudkan kadipaten itu, penduduk semakin yakin bahwa ucapan itu benar. Mereka semakin terbuka pikirannya. Mereka juga menyadari bahwa sebenarnya Ranggasena tidak memiliki niat jahat, tetapi tulus untuk memajukan Penyayang. Yang terpenting lagi, seperti kata sang Kiai, bahwa mereka akan menjadi saksi berdirinya kadipaten di tempat itu. Akhirnya, satu demi satu mereka menyetujui rencana Ranggasena dan bersedia membantu membangun kadipaten.
Ranggasena merasa lega karena tujuanya membangun kadipaten dapat terlaksanakan. Ia juga merasa senang karena para penduduk tidak curiga kepada dirinya lagi dan mereka rela bergorong royong membantu mendirikan kadipaten.
Tanpa berlama-lama, keesokan harinya mereka membagi tugas menyiapkan lahan untuk membangun kadipaten. Ada yang menebang pohon, mencari kayu yang cocok untuk bangunan. Ada yang membersihan rumput ilalang yang ada di tempat yang direncanakan. Ada pula yang membangun jalan agar pantas menjadi sebuah pusat pemerintahan. Semuanya bekerja sama termasuk para wanita yang membantu dibelakang menyiapkan makanan dan minuman untuk mereka semua.
Satu demi satu pekerjaan terselesaikan dengan gotong-royong. Kebersamaan itu telah menghasilkan wujud nyata. Ranggasena dan Kiai Ngabei Tangerang dan sebagian penduduk bertugas membangun pendapa dengan kayu dari hutan itu juga. Anak-anak Ranggasena pun mendapat tugas masing-masing. Salah satunya adalah membangun jalan kadipaten. Setiap hari, seakan tanpa lelah, mereka menjalankan tugas mereka sehingga pembangunan dapat terselesaikan dengan cepat. Pendapa kadipaten telah berdiri megah, rumah-rumah di sekitar pendapa itu pun sudah berdiri dan siap dihuni, Jalan-jalan juga sudah dapat dilalui. Semua terselesaikan dengan rapi dan lancar tanpa satu pun halangan. Dapat dikatakan sebuah kadipaten telah berdiri, tetapi pemerintahannya belum berjalan karena belum ada pimpinan yang tetap.
Suatu hari, Kiai Ngabei Tangerang, Ranggasena berserta anak anaknya, dan penduduk berkumpul di pendapa. Mereka berembuk tentang nama yang baik dan pas untuk kadipaten yang mereka dirikan. Selain itu, mereka juga berembuk tentang siapa yang patut menjadi pimpinan, menjadi adipati. Rembukan itu berjalan dengan baik dan lancar. Rembukan dalam suasana kekeluargaan itu akhirnya menyepakati bahwa Ranggasena yang patut menjadi adipati.
Dalam menentukan nama kadipaten tersebut banyak pendapat. Ada yang mengusulan namanya tetap Penyayangan. Namun, ada yang menyanggah bahwa nama itu sudah menjadi nama salah satu desa. Ranggasena kemudian angkat bicara. Ia mengusulkan kadipaten itu diberi nama Penyarang. Karena, ketika belum dibangun kadipaten dan masih berupa hutan, tempat itu banyak sarang burung dan hewan lainnya. Akhirnya pertemuan tesbebut menghasilkan keputusan tanpa adanya pertentangan. Mereka memutuskan nama kadipaten yang baru mereka bangun adalah Kadipaten Penyarang. Mereka juga sepakat mengangkat Ranggasena menjadi Adipati Penyarang.
Keesokan hari Ranggasena resmi menjabat sebagai adipati di Kadipaten Penyarang dengan gelar Adipati Ranggasena. Penobatannya sebagai adipati dilakukan oleh Sinuhun Keraton Surakarta. Pada saat itu seluruh penduduk terlihat bersuka cita. Sorak sorai menggema di mana-mana. Pesta ala kadarnya mereka gelar sebagai luapan rasa bahagia. Diam-diam, ternyata sudah cukup lama Ranggasena jatuh cinta kepada putri Kiai Ngabei Tangerang yang bernama Tejalamat. Oleh karena itu, setelah diangkat menjadi adipati, Ranggasena melamar Tejalamat agar bersedia menjadi pendamping hidupnya. Cinta tak bertepuk sebelah tangan, Tejalamat menerima lamaran itu dan bersedia menjadi istri Adipati Ranggasena. Kiai Ngabei Tangerang pun merestui niat suci Adipati Ranggasena mempersunting putrinya.
Setelah menjabat sebagai adipati, Adipati Ranggasena membuat struktur kadipaten agar memperlarcar jalanya pemerintahan Kadipaten Penyarang. Ia menempatkan anak-anaknya dalam posisi penting dalam pemerintahan. Wadas Malang bertanggung jawab di bidang keagamaan, Gunung Sari bertanggung jawab di bidang keamanan, sedangkan Sena Reja atau Hajar Sena bertanggung jawab di bidang ekonomi. Banyak juga penduduk yang juga mendapat tanggung jawab dan kepercayaan untuk mengelola dan ikut memajukan Kadipaten Penyarang. Kiai Ngabei Tangerang, meskipun sudah tua, juga mendapat bagian. Ia diangkat menjadi penasihat karena sangat berjasa atas pendirian Kadipaten Penyarang dan pengangkatan Adipati Ranggasena. Namun sayang, belum lama memangku jabatan sebagai penasihat, Kiai Ngabei Tangerang meninggal dunia.
Untuk kelancaran pelaksanaan tanggung jawab, tidak semua putra Adipati Ranggasena tinggal di kadipaten. Wadas Malang dan Gunung Sari tinggal di wilayah kadipaten sebelah barat. Segara Wangi tinggal di wilayah kadipaten sebelah timur. Hanya Sena Reja atau Hajar Sena yang tetap tinggal di kadipaten untuk membantu ayahnya mengelola kadipaten.
Sifat tidak pilih kasih Adipati Ranggasena terhadap putra dan penduduknya menjadikan Kadipaten Penyarang semakin maju dan berkembang. Saat itu agama Islam sudah masuk ke Kadipaten Penyarang, tetapi penduduk belum dapat memelajari ajaran tersebut. Oleh karena itu, Adipati Ranggasena memerintah Wadas Lintang untuk mengupayakan penyebaran ajaran itu. Gunung Sari ditugasi untuk menjaga keamanannya agar tidak terjadi gejolak dalam penyebaran agama dan utamanya menjaga ketenteraman dan ketenangan masyarakat. Sena Reja ditugaskan untuk mengatur semua kegiatan perekonomian serta semua pekerjaan warga Kadipaten Penyarang. Segara Wangilah diperintahkan untuk memantau dan mengendalikan kegiatan penduduk sehari-hari.
Kemajuan Kadipaten Penyarang semakin terkenal. Terlebih lagi ketika Adipati Ranggasena memperkenalkan Kadipaten Penyarang ke Pusat Pemerintahan Surakarta dan Pajajaran. Untuk membuktikan kemajuannya, Adipati Ranggasena mengirimkan kayu ke Pajajaran untuk membangun pendapa. Pada waktu itu belum ada kendaraan untuk mengangkut kayu dari Kadipaten Penyarang ke Pajajaran. Kayu-kayu itu dikirim dengan cara diseret menggunakan ikat pinggang oleh murid-murid Sunan Kalijaga. Hanya merekalah yang mampu melakukan karena memiliki kesaktian yang diajarkan oleh Sunan Kalijaga.
Kerjasama yang dilakukan Adipati Ranggasena dengan pemerintahan Keraton Surakarta Dan Kerajaan Pajajaran menjadikan Kadipaten Penyarang semakin terkenal. Sekarang semua penjuru sudah mengetahui keberadaan Kadipaten Penyarang dan Adipati Rangasena. Tentang penduduknya yang mengolah dan mengelola hutan dengan baik sehingga dapat dijadikan tempat tinggal yang layak dihuni dan hidup dengan tentram. Namun, Adipati Ranggasena teringat satu amanat dari sang ayahandanya yang memerintahkannya untuk membuat jalan penghubung antara wilayah Surakarta dan Pajajaran.
Adipati Ranggasena merasa tidak mampu, karena membuat jalan bukanlah suatu hal yang mudah. Sebelumnya Kiai Ngabei Tangerang tiada ia selalu dibantu oleh beliau, tapi sekarang ia harus melakukanya sendiri itu yang membuat Adipati Ranggasena merasa tidak mampu melakukanya sendiri dan harus mencari Orang lain untuk membantunya. Ilmu yang ia dapat dari Kiai Ngabei Tangerang masih belum cukup untuk membangun jalan dari Surakarta ke Pajajaran. Dalam hal inilah kesabaran dan ilmunya diuji. Ia harus mencari cara agar jalan dapat dibangun dengan baik dan lancar. Ia terus memikirkan hal itu sampai-sampai tidak tidur beberapa hari.
Pada suatu malam, tanpa sengaja Adipati Ranggasena tertidur. Ia bermimpi bertemu dengan Kiai Ngabei Tangerang.
“Ranggasena, tugas yang harus kamu jalankan memang berat. Tidak mudah membuat jalan. Namun, kamu tidak perlu putus asa. Semua pasti ada jalan. Ada ilmu yang dapat digunakan, tetapi harus memiliki kesabaran dan pemikiran yang suci. Putramu dapat membantu menyelesaikan tugas itu.”
Adipati Ranggasena terkejut lalu terbangun dari tidurnya. Ia berusaha mengingat-ingat pesan Kiai Ngabei Tangerang dalam mimpinya.
Keseokan hari Adipati Ranggasena mulai menjalankan apa yang dipesankan Kiai Ngabei Tagerang dalam mimpinya. Ia mulai membangun jalan ke arah barat, yang akan menghubungkan Kadipaten Penyarang dengan Pajajaran. Setiap hari ia menjalankan tugas itu dengan sabar. Ia tidak pernah marah kepada siapa saja yang membantunya. Meskipun putranya ikut membantu, ia tetap harus ikut serta melakukan dan memimpin pelaksanaan tugas tersebut.
Bertahun-tahun Adipati Ranggasena dibantu putra-putranya serta penduduk Kadipaten Penyarang yang tidak kenal lelah. Sedikit demi sedikit Pembangunan jalan selesai dengan lancar. Mereka merasa lega karena pekerjaan yang mereka pikir mustahil dikerjakan nyatanya telah selesai. Meski belum terlihat rapi tapi jalan penghubung antara Kadipaten Penyarang dan Kerajaan Pajajaran sudah dapat dilewati dengan nyaman. Setiap daerah yang dilalui jalan itu diberi nama dengan sebutan “Ci” oleh Adipati Ranggasena, seperti Cipari, Cikangleles, Cikalong, Cinangsi, Cibenda, dan Ciloning. Kata ci memiliki makna ‘sumber air’.
Penamaan dengan sebutan ci tersebut dimaksudkan agar daerah yang diberi nama dengan kata itu tidak pernah kehabisan air.
Pembangunan kadipaten dan jalan telah selesai yang menandakan bahwa amanat dari Prabu Ciung Wanara telah ia laksanakan. Namun, Adipati Ranggasena tidak ada niatan untuk Kembali Kekerajaan Pajajaran. Ia sudah bertekad sejak diangkat sebagai adipati bahwa ia memilih menetap dan menyatu dengan penduduk kadipaten, itu semua dibuktikan dengan tetap menjabat sebagai adipati sampai usia senjanya.
Kekuatan manusia ada batasnya. Karena usianya yang semakin tua, Adipati Ranggasena merasa tidak mampu lagi menjadi adipati. Oleh karena itu, ia menyerahkan tampuk pimpinan Kadipaten Penyarang kepada putra bungsunya, yaitu Sena Reja atau Hajar Sena. Ia menjadi adipati kedua di Kadipaten Penyarang dengan gelar Adipati Anom Ranggasena. Seperti halnya ayahnya, penobatan Adipati Anom Ranggasena pun dikukuhkan oleh Sinuhun Keraton Surakarta.
Sebelum meninggal dunia Adipati Ranggasena berpesan kepada istri, anak, dan semua penduduk Kadipaten Penyarang.
“Anak dan cucuku semua, jika waktuku tiba, aku harus meninggalkan kalian semua. Tapi, jika kalian minta apa saja kepadaku, aku sanggup.” Setelah berpesan seperti itu, Adipati Ranggasena menghembuskan napasnya yang terakhir. Ia lalu dimakamkan di wilayah Kadipaten Penyarang yang disebut Cisagu. Kata cisagu berasal dari pesan Adipati Ranggasena yang “sanggup” memenuhi permintaan anak, cucu, dan penduduk semua. Kata sanggup dalam bahasa Jawa adalah saguh. Jadi, nama Cisagu berasal dari kata ci dan saguh. Selanjutnya, makam Adipati Ranggasena disebut Panembahan Cisagu. Sampai saat ini makam tersebut menjadi tempat ziarah yang terkenal dan banyak didatangi peziarah dari berbagai penjuru.
