Mengapa Seseorang Sulit Move On? Tinjauan dari Perspektif Psikologi

Mahasiswa Aktif UIN Syarif Hidayatullah Fakultas Psikologi
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Syifa Azzahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Putusnya sebuah hubungan sering kali menjadi pengalaman emosional yang tidak mudah dilalui. Baik hubungan yang berlangsung dalam waktu singkat maupun bertahun-tahun, perpisahan dapat meninggalkan luka psikologis yang mendalam bagi seseorang. Tidak jarang seseorang masih memikirkan mantan pasangan berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun setelah hubungan berakhir. Kondisi inilah yang dalam kehidupan sehari-hari sering disebut sebagai kesulitan untuk move on.
Istilah move on umumnya digunakan untuk menggambarkan kemampuan seseorang menerima berakhirnya suatu hubungan dan melanjutkan kehidupannya tanpa terus-menerus terikat pada masa lalu. Namun, pada kenyataannya proses tersebut tidak selalu mudah. Ada individu yang mampu bangkit dalam waktu relatif singkat, sementara ada pula yang terus terjebak dalam kenangan, penyesalan, atau harapan bahwa hubungan tersebut dapat kembali seperti semula.
Dari sudut pandang psikologi, kesulitan move on bukan sekadar persoalan kurangnya kemauan untuk melupakan seseorang. Proses ini melibatkan berbagai aspek psikologis yang kompleks, mulai dari keterikatan emosional, pola pikir, pengalaman masa lalu, hingga cara individu mengelola kehilangan. Oleh karena itu, memahami alasan psikologis di balik sulitnya move on dapat membantu seseorang menghadapi proses pemulihan secara lebih sehat.
Perpisahan sebagai Bentuk Kehilangan
Dalam psikologi, berakhirnya hubungan romantis dapat dipahami sebagai bentuk kehilangan (loss). Ketika seseorang kehilangan pasangan, yang hilang bukan hanya kehadiran fisik orang tersebut, tetapi juga berbagai harapan, impian, kebiasaan, dan rencana masa depan yang telah dibangun bersama.
Perasaan sedih setelah putus hubungan sebenarnya merupakan respons yang normal. Sama seperti kehilangan anggota keluarga atau sahabat dekat, kehilangan pasangan dapat memunculkan berbagai reaksi emosional seperti kesedihan, kemarahan, penyesalan, kekecewaan, hingga rasa hampa. Reaksi tersebut merupakan bagian dari proses penyesuaian diri terhadap perubahan yang terjadi dalam kehidupan seseorang.
Masalah muncul ketika individu terus terjebak dalam fase kehilangan tersebut dan mengalami kesulitan untuk menerima kenyataan bahwa hubungan telah berakhir. Akibatnya, pikiran dan emosinya tetap berfokus pada masa lalu sehingga proses pemulihan menjadi lebih lambat.
Keterikatan Emosional yang Mendalam
Salah satu alasan utama seseorang sulit move on adalah adanya keterikatan emosional yang kuat terhadap mantan pasangan. Dalam teori attachment, hubungan romantis sering kali menjadi sumber rasa aman, kenyamanan, dan dukungan emosional bagi individu.
Ketika hubungan tersebut berakhir, individu kehilangan salah satu sumber keterikatan yang selama ini menjadi bagian penting dalam kehidupannya. Kehilangan tersebut dapat menimbulkan perasaan kosong dan kesepian yang mendalam. Semakin besar keterikatan yang terbentuk selama hubungan berlangsung, semakin besar pula tantangan yang harus dihadapi dalam proses pemulihan.
Bagi sebagian orang, mantan pasangan bukan hanya seseorang yang dicintai, tetapi juga sahabat, tempat berbagi cerita, dan sumber dukungan emosional utama. Oleh karena itu, perpisahan sering kali terasa seperti kehilangan sebagian dari diri mereka sendiri.
Harapan yang Belum Selesai
Banyak individu mengalami kesulitan move on bukan karena masih mencintai mantan pasangannya, melainkan karena masih terikat pada harapan yang belum terwujud. Mereka terus membayangkan bagaimana hubungan tersebut seharusnya berjalan, kehidupan yang mungkin bisa dibangun bersama, atau berbagai rencana yang gagal diwujudkan akibat perpisahan.
Dalam psikologi, kondisi ini sering berkaitan dengan proses rumination, yaitu kecenderungan untuk terus-menerus memikirkan suatu peristiwa secara berulang tanpa menemukan solusi yang jelas. Individu yang mengalami rumination cenderung menghabiskan banyak waktu memikirkan apa yang salah, siapa yang bersalah, atau bagaimana jika situasinya berbeda.
Pola pikir seperti ini membuat seseorang sulit menerima kenyataan karena pikirannya terus kembali pada kemungkinan-kemungkinan yang sebenarnya sudah tidak dapat diubah. Akibatnya, proses pemulihan emosional menjadi terhambat.
Pengaruh Self-Esteem terhadap Proses Move On
Harga diri (self-esteem) juga memiliki peran penting dalam menentukan bagaimana seseorang menghadapi perpisahan. Ketika hubungan berakhir, sebagian individu mulai mempertanyakan nilai dirinya sendiri. Mereka merasa tidak cukup baik, tidak cukup menarik, atau tidak layak untuk dicintai.
Perasaan tersebut sering kali muncul terutama apabila perpisahan terjadi akibat penolakan, perselingkuhan, atau keputusan sepihak dari pasangan. Individu kemudian mengaitkan berakhirnya hubungan dengan kekurangan yang dimilikinya sehingga kehilangan kepercayaan diri.
Semakin rendah harga diri seseorang, semakin besar kemungkinan ia terus mencari validasi dari mantan pasangan atau merasa bahwa kebahagiaannya hanya dapat diperoleh jika hubungan tersebut kembali terjalin. Kondisi ini membuat proses move on menjadi semakin sulit.
Kesepian dan Ketakutan Memulai Kembali
Alasan lain yang membuat seseorang sulit move on adalah ketakutan menghadapi kesepian. Setelah terbiasa berbagi waktu, perhatian, dan pengalaman dengan pasangan, hidup sendiri sering terasa asing dan tidak nyaman.
Tidak sedikit individu yang sebenarnya lebih takut kehilangan kebiasaan bersama dibanding kehilangan orangnya. Mereka merindukan rutinitas yang pernah dijalani, percakapan sehari-hari, atau perasaan memiliki seseorang yang selalu hadir dalam hidupnya.
Selain itu, sebagian orang juga merasa khawatir tidak akan menemukan pasangan yang lebih baik di masa depan. Ketakutan tersebut membuat mereka terus bertahan pada kenangan lama meskipun hubungan yang telah berakhir sebenarnya tidak lagi sehat untuk dipertahankan.
Peran Media Sosial dalam Memperpanjang Luka Emosional
Di era digital, proses move on menjadi semakin kompleks karena kehadiran media sosial. Berbeda dengan masa lalu ketika seseorang dapat benar-benar kehilangan kontak dengan mantan pasangan, saat ini kehidupan mantan pasangan masih dapat dipantau melalui berbagai platform digital.
Melihat unggahan, foto, aktivitas, atau kehidupan baru mantan pasangan dapat memicu kembali emosi yang sebenarnya mulai mereda. Bahkan, kebiasaan memeriksa akun media sosial mantan secara berulang dapat memperpanjang proses pemulihan emosional.
Fenomena ini juga berkaitan dengan social comparison atau perbandingan sosial. Individu sering membandingkan dirinya dengan kehidupan baru mantan pasangan dan merasa dirinya lebih gagal, lebih sedih, atau lebih tidak bahagia. Akibatnya, luka emosional yang seharusnya mulai sembuh justru terus terbuka kembali.
Bagaimana Cara Move On yang Sehat?
Dalam perspektif psikologi, move on bukan berarti melupakan seluruh kenangan atau menghapus semua perasaan yang pernah ada. Move on berarti menerima bahwa hubungan tersebut telah berakhir dan belajar melanjutkan kehidupan tanpa terus terikat pada masa lalu.
Langkah pertama yang penting adalah memberikan ruang bagi diri sendiri untuk merasakan emosi yang muncul. Menekan kesedihan atau berpura-pura baik-baik saja justru dapat memperpanjang proses pemulihan. Sebaliknya, mengakui perasaan sedih, kecewa, atau marah merupakan bagian dari proses penyembuhan yang sehat.
Selain itu, individu perlu mengurangi perilaku yang mempertahankan keterikatan dengan masa lalu, seperti terus memantau media sosial mantan pasangan atau mengulang-ulang kenangan yang menyakitkan. Mengembangkan aktivitas baru, memperluas hubungan sosial, dan fokus pada pengembangan diri juga dapat membantu membangun kembali identitas yang sempat terganggu akibat perpisahan.
Apabila kesedihan berlangsung terlalu lama dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, mencari bantuan profesional dari psikolog dapat menjadi pilihan yang tepat untuk membantu proses penyesuaian diri.
