Kemajuan yang Belum Sampai di Ujung Jalan

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Medan Area
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Angga Yusril Sitorus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

penulis:Angga Yusril Sitorus
Setiap kali pemerintah mengumumkan capaian pembangunan, kita disuguhkan angka-angka yang meyakinkan. Pertumbuhan ekonomi meningkat, investasi terus mengalir, dan berbagai proyek infrastruktur berhasil diselesaikan. Semua itu menjadi alasan untuk optimistis bahwa negeri ini sedang bergerak ke arah yang lebih baik.
Namun, kemajuan tidak selalu hadir dalam bentuk angka. Bagi sebagian orang, kemajuan berarti jalan menuju sekolah yang tidak lagi berlumpur. Bagi petani, kemajuan berarti hasil panen dapat diangkut ke pasar tanpa biaya transportasi yang tinggi. Bagi seorang ibu, kemajuan berarti layanan kesehatan dapat dijangkau tanpa harus menempuh perjalanan berjam-jam. Kemajuan memiliki makna yang berbeda ketika dilihat dari kehidupan masyarakat sehari-hari.
Di sinilah letak persoalan pembangunan yang masih kita hadapi. Pembangunan sering kali lebih mudah dilihat dari apa yang berdiri, tetapi lebih sulit diukur dari siapa yang benar-benar merasakan manfaatnya. Padahal, tujuan utama pembangunan bukan sekadar menghadirkan bangunan baru, melainkan memperbaiki kualitas hidup manusia.
Masih ada daerah yang berjuang mengejar ketertinggalan. Di beberapa wilayah Sumatera Utara, seperti sebagian desa di Kabupaten Dairi dan Kabupaten Tapanuli Selatan, akses menuju layanan publik belum sepenuhnya mudah. Jalan yang rusak, transportasi yang terbatas, hingga infrastruktur digital yang belum merata menjadi hambatan bagi masyarakat untuk berkembang. Kondisi ini menunjukkan bahwa pembangunan belum sepenuhnya menjangkau semua lapisan masyarakat.
Ketimpangan seperti ini tidak hanya berdampak pada ekonomi. Dalam jangka panjang, ia memengaruhi kualitas pendidikan, kesehatan, kesempatan kerja, bahkan kepercayaan masyarakat terhadap hadirnya negara. Anak-anak yang tumbuh dengan fasilitas terbatas harus berjuang lebih keras untuk memperoleh kesempatan yang sebenarnya menjadi hak setiap warga negara.
Pembangunan yang berkeadilan seharusnya mampu menghapus hambatan-hambatan tersebut. Negara tidak cukup hanya membangun pusat pertumbuhan ekonomi, tetapi juga harus memastikan daerah yang selama ini tertinggal memperoleh perhatian yang sama. Pemerataan bukan berarti setiap wilayah harus berkembang dengan cara yang seragam, melainkan setiap masyarakat memiliki kesempatan yang setara untuk meningkatkan kualitas hidupnya.
Di tengah tantangan itu, mahasiswa memiliki peran penting untuk terus menyuarakan realitas yang terjadi di masyarakat. Kampus bukan hanya tempat memperoleh ilmu, tetapi juga ruang untuk melahirkan gagasan yang mampu mendorong perubahan. Melalui penelitian, diskusi, dan tulisan opini, mahasiswa dapat mengingatkan bahwa pembangunan tidak boleh hanya dipandang dari sisi ekonomi, tetapi juga dari sisi kemanusiaan.
Pada akhirnya, keberhasilan pembangunan tidak ditentukan oleh seberapa banyak proyek yang selesai dikerjakan, melainkan oleh seberapa banyak kehidupan masyarakat yang berhasil diperbaiki. Sebab, kemajuan yang sesungguhnya bukanlah ketika gedung-gedung semakin tinggi atau jalan-jalan semakin lebar, tetapi ketika tidak ada lagi warga yang merasa tertinggal hanya karena tempat mereka dilahirkan.
Pembangunan akan memiliki arti apabila mampu menjangkau setiap ujung jalan, setiap desa, dan setiap keluarga. Ketika semua orang merasakan manfaatnya, saat itulah kemajuan benar-benar menjadi milik bersama, bukan sekadar cerita yang indah di atas kertas.
