Konten dari Pengguna

Krisis Penanganan Sampah di Indonesia Jadi Ancaman Serius bagi Lingkungan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syifa Nur Syiami tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pexels.com/Emmet/Ilustrasi tumpukan sampah
zoom-in-whitePerbesar
Pexels.com/Emmet/Ilustrasi tumpukan sampah

Sampah plastik di Indonesia kini menjadi persoalan yang tidak bisa lagi ditunda penyelesaiannya. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menunjukkan bahwa timbulan sampah nasional pada 2023 mencapai 56,63 juta ton, namun hanya sekitar 39 persen yang berhasil terkelola dengan baik. Artinya lebih dari separuh sampah masih tidak memiliki alur penanganan yang jelas dan sebagian besar berasal dari konsumsi sehari-hari masyarakat modern.

Dari total sampah nasional, sekitar 18,71 persen merupakan sampah plastik. Angka tersebut tercatat dalam Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional yang dikeluarkan KLHK. Plastik menjadi jenis sampah yang paling sulit dikendalikan karena sifatnya yang tidak mudah terurai, murah diproduksi, dan digunakan dalam berbagai kebutuhan harian. Di tengah pertumbuhan penduduk dan ekspansi gaya hidup berbasis konsumsi yang pesat, produksi sampah plastik pun tumbuh lebih cepat daripada kemampuan negara dalam menanganinya.

Dampaknya terlihat jelas di lingkungan perkotaan. TPA di berbagai daerah sudah berada pada titik jenuh, sementara kemampuan daur ulang masih belum maksimal. KLHK bahkan menilai pengelolaan sampah plastik membutuhkan pendekatan industrialisasi agar tidak lagi menjadi beban, tetapi berubah menjadi sumber ekonomi sirkular. Sayangnya upaya tersebut belum sejalan dengan realitas di lapangan karena pemilahan sampah dari rumah tangga masih rendah dan fasilitas pengolahan belum merata secara nasional.

Masalah semakin berat ketika menengok kondisi laut Indonesia. Laporan yang dirilis PKS mencatat adanya kebocoran sampah plastik ke laut sebesar 2,25 juta ton pada 2023. Angka tersebut mencerminkan betapa seriusnya polusi laut yang dapat merusak ekosistem dan menimbulkan ancaman pada rantai makanan yang akhirnya kembali ke manusia. Mikroplastik ditemukan di ikan, garam, air minum, hingga udara kota besar yang kualitasnya semakin memburuk.

Dari perspektif ekonomi dan kependudukan, tumpukan sampah plastik adalah konsekuensi dari pola konsumsi masyarakat urban yang terus meningkat. Kota-kota besar dengan populasi padat menghasilkan volume sampah plastik yang jauh lebih tinggi daripada kapasitas pengelolaannya. Kesenjangan ini menimbulkan biaya ekonomi yang besar. Kerugian akibat banjir yang diperparah oleh sampah, biaya kesehatan karena kualitas lingkungan yang menurun, serta investasi tambahan untuk membuka lahan TPA baru hanyalah sebagian dari beban yang harus ditanggung negara.

Kondisi ini seharusnya menjadi peringatan bagi pemerintah dan masyarakat. Solusi tidak cukup hanya dengan kampanye pengurangan kantong plastik atau imbauan memilah sampah. Pengelolaan sampah plastik memerlukan kebijakan yang lebih struktural, mulai dari kewajiban produsen mengurangi kemasan sekali pakai hingga investasi besar pada fasilitas daur ulang dan sistem pengumpulan sampah yang bekerja dari hulu ke hilir.

Indonesia saat ini berada pada titik di mana setiap keputusan terhadap sampah plastik akan menentukan kualitas lingkungan dan ketahanan ekologi di masa depan. Jika perubahan tidak dilakukan sekarang, tumpukan sampah plastik bukan hanya menjadi masalah kebersihan tetapi akan berubah menjadi beban generasional yang terus diwariskan tanpa solusi yang berarti.