Konten dari Pengguna

Always Lalisa: Siapa Diri Seseorang saat Mengambil Jeda dari Grup?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syifa Nurafiyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Image by Pexels from Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Image by Pexels from Pixabay

Always Lalisa tampak seperti dokumenter penggemar tentang seorang bintang K-pop asal Thailand. Namun premisnya menyentuh pertanyaan yang jauh lebih umum, yaitu siapa seseorang ketika harus melangkah sendiri setelah bertahun-tahun menjadi bagian dari grup. Dokumenter ini mulai tayang terbatas di bioskop dan IMAX pada 12 Oktober 2026 sebelum hadir di YouTube Premium.

Film ini disutradarai Sue Kim dan mengikuti Lisa atau Lalisa Manobal selama satu tahun ketika ia mengambil jeda dari BLACKPINK. Dalam periode itu, ia merilis album solo debut Alter Ego, melakoni debut akting di The White Lotus musim ketiga, dan bersiap tampil solo di Coachella 2025. Tulisan ini membahas premis dan tema berdasarkan keterangan resmi film.

Always Lalisa dan Jeda yang Mengubah Arah.

Selama bertahun-tahun, Lisa dikenal sebagai bagian dari grup yang mendunia. Menurut sinopsis, ia mengambil jeda satu tahun untuk pertama kalinya sejak kecil dan menjalani karier solo. Jeda itu membuka ruang bagi pertanyaan tentang siapa dirinya di luar grup.

Pertanyaan itu juga relevan bagi banyak orang di luar dunia hiburan. Setiap orang yang pernah meninggalkan lingkungan lama, entah sekolah, pekerjaan, atau komunitas, pernah berhadapan dengan perasaan serupa. Dokumenter ini tampak membingkainya lewat pengalaman seorang artis.

Mengapa Always Lalisa Menekankan Risiko dan Reinvensi.

Sinopsis menyebut dokumenter ini memotret tahun penuh risiko, reinvensi, dan penemuan diri. Berjalan sendiri di pasar musik Barat disebut membawa tekanan baru dan sorotan yang ketat. Karena itu, kisahnya bukan hanya tentang pencapaian, tetapi juga tentang proses menentukan arah sendiri.

Sutradara Sue Kim menyebut ia tertarik karena Lisa berada di titik hidup yang sangat spesifik, yaitu mengambil jeda dari grup selama setahun. Sudut pandang ini memberi dokumenter fokus yang jelas pada momen transisi. Transisi sering kali lebih menarik daripada puncak, sebab di sanalah pilihan dibuat.

Dari Thailand ke Panggung Dunia dalam Always Lalisa.

Lisa lahir dan tumbuh di Thailand, lalu meninggalkan rumah pada usia empat belas tahun untuk berlatih di sistem K-pop Korea Selatan yang menuntut. Perjalanan itu menjadi latar bagi kisah yang kini ia tulis sendiri. Dokumenter ini menempatkan masa lalu tersebut sebagai bagian dari pertanyaan jati diri.

Kisah perantau yang berhasil di negeri orang akrab bagi banyak penonton Asia Tenggara. Kebanggaan atas pencapaian bercampur dengan pertanyaan tentang apa yang ditinggalkan. Always Lalisa tampak menempatkan dua rasa itu berdampingan.

Always Lalisa di Layar Lebar dan Layar Streaming.

Dokumenter ini diproduksi Sony Music Vision bersama RCA Records dan Tremolo Productions, dan dirilis terbatas di IMAX serta bioskop lewat Trafalgar Releasing. Setelah itu, film akan tayang eksklusif di YouTube Premium. Pemutaran perdananya berlangsung di Toronto International Film Festival 2026.

Waktu rilisnya berdekatan dengan EP terbaru Lisa, Press Play, yang dijadwalkan terbit pada 23 Oktober. Kedekatan itu membuat dokumenter terasa sebagai pengantar bagi babak berikutnya. Bagi penggemar maupun penonton umum, film ini menawarkan potret proses di balik hasil.

Always Lalisa pada intinya bukan hanya dokumenter tentang seorang bintang. Film ini bicara tentang jeda, risiko, dan keberanian menjawab pertanyaan siapa diri seseorang di luar peran yang selama ini melekat. Pertanyaan itu bisa dihadapi siapa saja yang sedang berada di persimpangan.

Barangkali pelajaran paling sederhana adalah bahwa menemukan diri tidak selalu berarti meninggalkan masa lalu. Kadang cukup dengan berani mengambil jeda, lalu memutuskan sendiri langkah berikutnya.