Conjurig: Saat Kostum Hantu Menjadi Cara Menemukan Diri

Student at Pamulang University. I write character and theme analyses of novels, films, and series, with a focus on why a story feels close to its readers.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Syifa Nurafiyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Conjurig tampak seperti film komedi tentang orang-orang yang berdandan menjadi hantu di alun-alun kota Bandung. Namun di balik kostum menyeramkan itu, film ini membicarakan hal yang jauh lebih manusiawi, yaitu bagaimana seseorang bangkit setelah patah hati dan kehilangan pekerjaan. Film garapan Tubagus Deddy ini sudah tayang di bioskop sejak 1 Oktober 2026.
Ceritanya terinspirasi dari komunitas cosplayer hantu bernama Comjurig di Bandung. Tokoh utamanya, Piit atau Ace Abdulov yang diperankan Dito Darmawan, kembali ke Bandung dan bertemu dunia baru tersebut. Tulisan ini membahas premis dan tema berdasarkan sinopsis serta keterangan tim film.
Conjurig dan Patah Hati yang Mengubah Arah Hidup.
Piit digambarkan sedang galau karena putus cinta. Dalam sinopsisnya, kegundahan itu bukan satu-satunya persoalan, sebab tema film juga mencakup kehilangan pekerjaan. Dua pukulan itu membuat arah hidupnya kehilangan pegangan.
Situasi ini terasa dekat dengan banyak anak muda yang pernah mengalami masa ketika semuanya terasa goyah sekaligus. Conjurig tidak langsung menawarkan jawaban yang megah. Film ini tampak memilih jalan yang lebih sederhana, yaitu menemukan tempat untuk kembali berpijak.
Mengapa Conjurig Memilih Cosplayer Hantu.
Cosplayer hantu adalah sosok yang unik di ruang publik. Kostum menyeramkan yang seharusnya menakutkan justru hadir di tengah keramaian alun-alun. Kontras itu menjadi sumber humor sekaligus ironi dalam cerita.
Dengan latar Alun-Alun Bandung, film ini membawa penonton ke dunia yang biasanya hanya dilihat sekilas. Di balik kostum, ada manusia dengan masalah dan mimpinya masing-masing. Film ini mengajak penonton melihat orang di balik topeng.
Identitas di Balik Kostum dalam Conjurig.
Tema identitas menjadi salah satu inti cerita. Piit dan Tamy, dua cosplayer dalam film ini, sama-sama menghadapi persoalan hidup dan mencari jati diri. Kostum hantu menjadi simbol yang menarik, sebab ia menyembunyikan wajah sekaligus membuka ruang untuk menjadi diri yang berbeda.
Gagasan ini relevan bagi siapa pun yang pernah merasa harus memainkan peran tertentu di hadapan orang lain. Terkadang topeng membantu seseorang bertahan, tetapi juga bisa membuat jati diri semakin sulit ditemukan. Conjurig tampak mengajak penontonnya merenungkan perbedaan antara berperan dan menjadi diri sendiri.
Conjurig dan Kekuatan Komunitas.
Film ini terinspirasi dari komunitas nyata, bukan dari karakter fiktif semata. Hal itu memberi lapisan keaslian pada kisahnya. Conjurig juga menunjukkan bahwa komunitas bisa menjadi tempat pulang bagi mereka yang sedang kehilangan arah.
Dari sisi teknis, film berdurasi 95 menit ini mendapat klasifikasi Remaja 13 Tahun dari Lembaga Sensor Film. Tubagus Deddy bertindak sebagai sutradara sekaligus penulis, dengan Muhammad Ariza Darmawan dan Budi Ismanto sebagai produser. Klasifikasi tersebut membuat ceritanya dapat dinikmati penonton yang lebih luas.
Conjurig pada intinya bukan hanya komedi tentang cosplayer hantu. Film ini membicarakan patah hati, kehilangan pekerjaan, dan pencarian jati diri melalui dunia yang tidak biasa. Kostum hantu menjadi cara yang unik untuk membahas ketakutan yang sangat manusiawi.
Barangkali pesan paling sederhana dari premisnya adalah bahwa menemukan tujuan hidup bisa dimulai dari tempat yang tak terduga. Selama ada komunitas yang menerima, seseorang tidak harus sempurna untuk mulai bangkit.
REFERENSI
