Empat Musim Pertiwi: Desa yang Diam Tidak Selalu Damai

Student at Pamulang University. I write character and theme analyses of novels, films, and series, with a focus on why a story feels close to its readers.
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Syifa Nurafiyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Empat Musim Pertiwi karya Kamila Andini bukan sekadar film tentang perempuan yang pulang ke kampung halaman. Film ini membicarakan apa yang terjadi ketika seorang penyintas kekerasan seksual harus kembali hidup di lingkungan yang memilih diam. Topiknya terasa relevan, terlebih film ini kini tayang di bioskop dan terpilih menjadi wakil Indonesia di Oscar 2027.
Berdasarkan sinopsis dan keterangan tim film, Pertiwi yang diperankan Putri Marino pulang setelah dua dekade menjalani hukuman penjara karena membunuh pria yang mencoba memerkosanya. Kepulangannya tidak disambut hangat. Tulisan ini membahas premis dan tema film, bukan adegan-adegan di dalamnya.
Empat Musim Pertiwi dan Makna Pulang yang Tidak Sederhana
Pulang biasanya dibayangkan sebagai akhir yang melegakan. Dalam Empat Musim Pertiwi, kepulangan justru menjadi awal perjuangan baru. Bebas dari penjara tidak otomatis berarti bebas dari tatapan dan prasangka orang kampung.
Kamila Andini menyebut film ini sebagai suspense drama. Kepulangan Pertiwi menjadi bahan pembicaraan warga, sementara siklus musim mengiringi perubahan yang ia alami dalam memahami dirinya sendiri. Judul empat musim pun terasa seperti pengingat bahwa pemulihan berjalan bertahap, bukan sekali jadi.
Desa yang Diam dalam Empat Musim Pertiwi
Sinopsis festival menggambarkan desa yang diselimuti kesunyian dan ketakutan. Dalam kesunyian seperti itu, kekerasan tidak hilang, melainkan berubah bentuk menjadi lebih halus dan sulit ditunjuk. Di titik inilah Empat Musim Pertiwi layak dibaca sebagai kritik sosial, bukan hanya drama personal.
Sutradara menyebut naskahnya bersinggungan dengan berita nyata tentang seorang anak perempuan yang mengalami pelecehan berulang oleh sejumlah orang berkuasa. Dengan latar itu, desa dalam film dapat dibaca sebagai cermin banyak lingkungan, tempat korban kerap diminta tenang sementara persoalannya dibiarkan menggantung.
Pertiwi sebagai Nama dan Simbol dalam Empat Musim Pertiwi
Dalam budaya Jawa, Ibu Pertiwi dikenal sebagai lambang bumi dan sumber kehidupan. Pemilihan nama ini disebut bukan kebetulan, sebab tokohnya adalah perempuan yang membela diri lalu harus menanggung akibatnya bertahun-tahun.
Menurut keterangan film, Pertiwi akhirnya menemukan rumah bersama orang-orang yang terpinggirkan di kampungnya. Rumah di sini tidak lagi berarti bangunan, melainkan komunitas yang mau menerima. Arya Saloka dan Christine Hakim termasuk jajaran pemeran yang melengkapi lingkaran orang-orang tersebut.
Empat Musim Pertiwi dan Tantangan bagi Penontonnya
Empat Musim Pertiwi telah diputar perdana di Toronto International Film Festival 2026 dan dipilih mewakili Indonesia untuk kategori Best International Feature Film di Oscar 2027. Pengakuan itu penting, tetapi pertanyaan yang lebih dekat justru ditujukan kepada penonton di dalam negeri. Bagaimana sebuah komunitas memperlakukan orang yang pernah dianggap bersalah, padahal ia lebih dulu menjadi korban?
Pesan film ini, menurut tim produksinya, adalah bahwa kebebasan bagi Pertiwi merupakan awal dari proses panjang untuk menemukan kembali tempatnya di masyarakat. Proses itu tidak hanya bergantung pada dirinya, tetapi juga pada kesediaan orang sekitar untuk berhenti menghakimi.
Empat Musim Pertiwi dan Keberanian untuk Tidak Diam
Empat Musim Pertiwi pada intinya bukan kisah tentang hukuman, melainkan tentang apa yang terjadi sesudahnya. Lewat Pertiwi, Kamila Andini menunjukkan bahwa pulang bisa jauh lebih berat daripada pergi, terutama bagi perempuan yang membawa luka dan stigma. Desa yang tampak tenang pun dapat menyimpan kekerasan yang belum selesai.
Film ini mengajak penonton memeriksa sikap sendiri terhadap orang yang pulang dengan masa lalu berat. Barangkali pertanyaan paling konstruktif bukan siapa yang pantas diterima, melainkan apa yang bisa dilakukan sebuah lingkungan agar siapa pun, termasuk penyintas, punya tempat untuk pulang.
