Konten dari Pengguna

The Doll Ghawiah: Saat Boneka yang Tersesat Mencari Jalan Pulang

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syifa Nurafiyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Image by Alexa from Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Image by Alexa from Pixabay

The Doll Ghawiah tampak seperti film horor boneka yang mengandalkan kejutan. Namun akar ceritanya berasal dari legenda urban yang dikenal warga Bandung, yaitu kisah anak perempuan bernama Uci dan boneka kesayangannya. Film garapan Guntur Soeharjanto ini dijadwalkan tayang di bioskop pada 29 Oktober 2026, menjelang Halloween.

Ceritanya berlatar Bandung pada 1988. Arya yang diperankan Darius Sinathrya dan Evi yang diperankan Titi Kamal meninggalkan Jakarta untuk memulai hidup baru di kawasan Babakan Siliwangi bersama dua putri mereka. Tulisan ini membahas premis dan tema berdasarkan sinopsis serta keterangan tim film, bukan keseluruhan cerita.

The Doll Ghawiah dan Legenda Uci yang Hidup di Bandung.

Menurut cerita yang beredar di masyarakat, Uci adalah anak perempuan yang meninggal dalam kecelakaan di Jalan Siliwangi. Konon, boneka kesayangannya terlepas dari pelukannya dan tidak pernah ditemukan. Sebelum meninggal, ia disebut berkali-kali menanyakan di mana bonekanya.

Legenda ini membuat Jalan Siliwangi lekat dengan kisah hantu boneka. Dalam film, Uci diceritakan meninggal akibat kecelakaan tabrak lari dua tahun sebelum rangkaian peristiwa utama berlangsung. Penggunaan legenda lokal memberi film ini akar yang dekat dengan masyarakat setempat.

Mengapa The Doll Ghawiah Menamai Bonekanya Tersesat.

Nama Ghawiah memiliki arti harfiah tersesat. Pemilihan nama itu terasa tepat untuk boneka yang dalam legendanya hilang dari pemiliknya. Benda yang tersesat dan arwah yang mencari menjadi dua sisi dari satu kisah kehilangan.

Menurut sinopsis, seorang anak misterius di hutan memberikan boneka bernama Ghawiah. Hubungan antara boneka itu, sang anak, dan arwah Uci menjadi bagian dari misteri yang diurai film. Kehilangan yang belum selesai tampak menjadi inti dari teror yang menghantui keluarga tersebut.

Keluarga yang Memulai Hidup Baru dalam The Doll Ghawiah.

Arya dan Evi pindah ke Bandung untuk memulai hidup baru. Keputusan itu lazim dialami banyak keluarga yang berharap menemukan ketenangan di tempat berbeda. Namun dalam cerita horor, rumah baru kerap menjadi tempat berbagai rahasia lama muncul.

Kedua putri mereka, Gita yang diperankan Aisyah Aqilah dan Nala yang diperankan Laura Moane, ikut berada di tengah teror. Fokus pada keluarga membuat ketakutan terasa lebih personal, sebab yang terancam adalah orang-orang terdekat. Film ini memadukan latar akhir 1980-an dengan kisah arwah anak dan boneka misterius.

The Doll Ghawiah dan Upaya Menyegarkan Waralaba.

Film ini menjadi bagian terbaru dari The Doll Universe, waralaba yang sudah hadir sejak sekitar satu dekade lalu. Rocky Soraya menyebutnya sebagai upaya menyegarkan waralaba tersebut. Cerita yang berpijak pada legenda lokal menjadi salah satu caranya.

Hitmaker Studios disebut menyiapkan anggaran setara tiga film horor, termasuk membangun set rumah kaca berskala besar secara nyata. Sutradara Guntur Soeharjanto menyatakan keselamatan pemain menjadi perhatian selama produksi. Film ini juga tayang dalam format IMAX, yang menunjukkan skala produksinya.

The Doll Ghawiah pada intinya bukan hanya film tentang boneka berhantu. Lewat legenda Uci, film ini membicarakan kehilangan yang belum selesai dan rasa tersesat yang terus mencari jalan pulang. Keluarga yang baru pindah menjadi saksi sekaligus korban dari kisah yang bukan milik mereka.

Barangkali pelajaran paling sederhana dari premisnya adalah bahwa kehilangan perlu dihadapi dengan empati, bukan dilupakan. Cerita yang diwariskan dari mulut ke mulut layak diingat dengan hormat, terutama bagi mereka yang pernah benar-benar kehilangan.