Konten dari Pengguna

The Third Place dan Kehidupan yang Kurang Mendayu-Dayu

Syifa Syarifa

Syifa Syarifa

Dosen Universitas Negeri Jakarta

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syifa Syarifa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Potret Pentas Jalanan di Malioboro (Sumber: Dokumen Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Potret Pentas Jalanan di Malioboro (Sumber: Dokumen Pribadi)

Siklus pergi kerja-pulang ke rumah menjadi rutinitas monoton sekaligus maraton tiada akhir yang mereduksi makna hidup setiap individu. Media sosial, sebagai jalan pintas untuk memperoleh dopamin, perlahan mulai bergeser menjadi sumber kortisol yang bukannya memicu rasa senang, melainkan stres.

Isu-isu seperti minimnya lapangan kerja, meningkatnya kemiskinan, merebaknya kriminalitas hingga ketidakpastian masa depan yang ditampilkan, justru malah menambah beban mental. Alhasil, tidak mengejutkan apabila Menkes RI (2026) mengungkapkan bahwa sekitar 10% atau 28 juta masyarakat Indonesia mengalami masalah kesehatan mental.

Angka ini bahkan lebih besar dari jumlah masyarakat miskin yang terdata secara statistik, yakni 23,36 juta jiwa pada tahun 2025. Artinya, masalah kesehatan mental juga menjadi isu krusial yang perlu mendapat perhatian.

Bagi sebagian orang, mendapatkan akses untuk pendampingan psikologis merupakan hal yang tidak mudah, entah karena kendala prosedur atau biaya yang mahal, terutama untuk tindakan cepat non-BPJS.

Belum lagi, mereka harus bergelut dengan stigma masyarakat yang memandang masalah mental sebagai konsekuensi dari kurang beribadah atau kurang bersyukur. Padahal, gangguan mental juga memerlukan ikhtiar berupa penanganan, sama halnya dengan penyakit fisik.

Kondisi inilah yang membuat sebagian orang mulai bersuara, “Psikolog mahal, mending ke konser King Nassar”. Sekilas, ajakan tersebut tidak menyelesaikan akar permasalahan karena hanya menyentuh gejala, bukan penyebab. Siapa yang akan berpikir kalau bernyanyi “Seperti mati lampu, ya sayang!” akan menyembuhkan luka batin? Namun, bila ditelisik, siapa sangka kalau ajakan tersebut juga bisa ada benarnya.

Ray Oldenburg, sosiolog asal Amerika Serikat, dalam bukunya The Great Good Place, pernah mengungkapkan bahwa idealnya, manusia memiliki tempat ketiga (the third place) selain rumah dan tempat kerja atau sekolah. Tempat ketiga dianggap penting sebagai penopang kehidupan sosial dan kesehatan mental, di mana individu dapat melepas penat dari rutinitas kerja dan rumah tangga, menjalin interaksi dengan orang-orang baru dan membangun komunitas tempat ia menjadi dirinya sendiri.

Tempat ketiga ini bisa berupa lapangan padel, fitness center, taman kota, perpustakaan, hingga kafe. Sayangnya, tidak sedikit orang harus berhadapan dengan keterbatasan akses dan finansial terhadap fasilitas-fasilitas ini.

Karenanya, tidak mengherankan apabila konser-konser affordable atau pertunjukan jalanan menjadi opsi yang accessible. Semula, beberapa rekan saya cukup jaim untuk datang ke konser-konser dangdut yang identik dengan busana gemerlapan dan instrumen yang mendayu-dayu. Termasuk saya. Mungkin, tuntutan konformitas membuat kita cenderung menyesuaikan selera agar dapat diterima dan tidak dianggap berbeda di suatu kelompok. Akan tetapi, seiring dengan meningkatnya toleransi generasi muda dalam menghargai selera musik dan kesadaran mereka terhadap kesehatan mental, perlahan sesuatu yang dianggap gengsi mulai jadi bergengsi.

Tepat seminggu lalu ketika berkunjung ke Jogja dan tidak sengaja berpapasan dengan pentas jalanan di Malioboro, saya melihat begitu banyak orang dari berbagai usia dan status melepas gengsi dengan turut bergoyang dan bernyanyi. Sebagai orang Sunda yang tidak paham lirik Jawa, tubuh saya mulai mengikuti irama lagu Pamer Bojo-nya Didi Kempot.

Dimulai dari sepasang ibu jari tangan yang bergerak memutar, bahu yang naik turun, hingga berakhir dengan seluruh badan yang ikut berjoget sebisanya. Ternyata, itu semua cukup untuk setidaknya melepaskan endorfin, zat kimia di otak yang memperbaiki suasana hati.

Selain menjadi catatan bagi pemerintah untuk memperbanyak fasilitas umum yang bermanfaat dan menunjang produktivitas, sepertinya kita juga perlu untuk sedikit membuka diri terhadap hal-hal yang digemari. Bisa jadi, lelahnya menjalani hari disebabkan oleh kehidupan yang terlalu datar, hambar dan kurang mendayu-dayu. Di sini, kehidupan yang mendayu-dayu bisa dimaknai sebagai kehidupan yang berirama, penuh rasa, dan berwarna, yang mungkin bisa kita temukan di tempat ketiga.