Aku Membawa Suaraku di Tengah Ekspetasi

Mahasiswa UIN Jakarta Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari syifaa Khoirunnisaa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menurut Burhan Nurgiyantoro dalam bukunya Teori Pengkajian Fiksi, tokoh utama adalah tokoh yang paling banyak terlibat dalam berbagai peristiwa yang membangun alur cerita. Tokoh ini menjadi pusat perhatian karena kehadirannya mendominasi jalannya cerita, baik sebagai pelaku maupun sebagai pihak yang mengalami berbagai peristiwa. Melalui penggambaran tersebut, pembaca diajak merasakan suasana kehidupan di sebuah kampung yang masih memandang perempuan sebelah mata. Dalam lingkungan tersebut, perempuan dianggap tidak perlu menempuh pendidikan tinggi karena pada akhirnya hanya akan mengurus rumah tangga dan bekerja di dapur. Di tengah pandangan itu, pembaca diperkenalkan dengan tokoh “Aku” sebagai tokoh utama yang membawa suara perempuan ke atas panggung. Tokoh “Aku” menjadi representasi perempuan yang berusaha menyuarakan mimpi, hak, dan kesetaraan di tengah ekspektasi masyarakat yang membatasi ruang geraknya.
Cerpen Perempuan yang Terbungkam karya Nazia Syauqilla, seorang pelajar SMP IT Ulil Albab Batam yang diterbitkan pada 6 Mei 2026 merupakan sebuah prosa fiksi yang mengangkat persoalan ketidaksetaraan gender melalui sudut pandang orang pertama dengan tokoh utama “aku”. Melalui tokoh tersebut, penulis menggambarkan bagaimana perempuan kerap dibungkam oleh ekspektasi masyarakat, sehingga mimpi, cita-cita, dan pendapat mereka sering kali dianggap tidak penting. Cerpen ini mengajak pembaca melihat persoalan tersebut dari perspektif feminisme liberal yang menekankan bahwa perempuan memiliki hak, kebebasan, dan kesempatan yang setara dengan laki-laki, termasuk dalam menyampaikan pendapat, memperoleh pendidikan, serta menentukan jalan hidupnya.
Melalui tokoh “aku”, penulis menggambarkan bagaimana perempuan kerap dibungkam oleh ekspektasi masyarakat sehingga mimpi, pendidikan, dan pendapat mereka sering dianggap tidak penting. Keberanian tokoh “aku” menyampaikan pidato tentang kesetaraan menjadi simbol perjuangan perempuan untuk menyuarakan hak, kebebasan, dan kesempatan yang setara.
Cerita diawali dengan tokoh utama “aku” yang menceritakan pandangan masyarakat di lingkungannya terhadap perempuan. Sejak kecil, perempuan dianggap harus menjadi anak yang patuh, tumbuh menjadi istri yang tunduk kepada suami, dan mengabdikan hidupnya kepada keluarga. Masyarakat juga memandang bahwa perempuan tidak perlu memiliki cita-cita yang tinggi karena pada akhirnya hanya akan mengurus rumah tangga. Selain itu, laki-laki sering kali lebih diutamakan dalam memperoleh pendidikan, kesempatan, dan berbagai aspek kehidupan lainnya. Namun, tokoh “aku” tak percaya akan kata-kata itu.
“Aku juga bisa, aku juga layak”
Tokoh utama “aku” merasa bahwa pandangan masyarakat terhadap perempuan telah membatasi kebebasannya. Tokoh “aku” menolak anggapan bahwa perempuan harus selalu diam dan tidak boleh menyampaikan pendapat karena hal tersebut merupakan bentuk pembungkaman terhadap perempuan.
Suatu sore, tokoh utama menemani ayahnya yang sedang berbincang dengan para tetangga di teras rumah. Ayahnya dengan bangga menceritakan bahwa tokoh utama diterima di salah satu SMA unggulan. Namun, kebanggaan tersebut justru mendapat tanggapan yang meremehkan pendidikan perempuan karena mereka menganggap perempuan tidak perlu bersekolah tinggi dan pada akhirnya hanya akan mengurus rumah tangga.
”Sekolah di tempat bagus untuk apa? Kan, nanti juga bakal gitu-gitu aja.”
”Bener, mending langsung kerja atau putus sekolah saja untuk bantu ibumu di rumah.”
”Kasihanlah kepada ayahmu yang harus membiayaimu, kamu masih punya adik.”
Mereka juga menganggap biaya pendidikan tokoh “Aku” hanya akan menjadi beban bagi keluarganya. Ucapan tersebut membuat tokoh “Aku” merasa sedih dan mulai meragukan mimpinya.
Tak mau terlalu hanyut dalam berbagai pemikiran yang terus mengganggunya, tokoh “Aku” memutuskan untuk pergi beristirahat karena keesokan harinya ia akan mengikuti lomba pidato antarsekolah.
“Hari ini adalah lomba pidato antarsekolah dan untuk pertama kali aku tidak hanya membawa nama sekolahku, tapi juga membawa sesuatu yang lebih besar dari itu."
"Aku membawa suaraku.”
Cerita kemudian berlanjut ketika tokoh utama “aku” bangun lebih awal untuk mengikuti lomba pidato antarsekolah. Ia mempersiapkan diri dengan penuh semangat karena lomba tersebut menjadi kesempatan baginya untuk menyuarakan pandangannya tentang kesetaraan perempuan. Pidato yang akan dibawakannya berjudul “Perempuan dan Ekspektasi Masyarakat”. Dengan didampingi ayahnya, tokoh utama berangkat menuju aula universitas yang juga menjadi kampus impiannya.
Selama perjalanan menuju lokasi lomba, tokoh “Aku” memperhatikan berbagai perempuanyang ditemuinya di jalan. Tokoh “Aku” melihat ibu-ibu dengan bayi di gendongan sang ibu yang sedang mengendarai motor, kakak-kakak kantoran di bus yang sibuk dengan gadget, dan seorang nenek-nenek yang menaiki mobil seharga UMR kota dikali dua puluh, menikmati masa tua dekat kawan-kawan sosialitasnya. Dari pengamatan tersebut, ia menyadari bahwa setiap perempuan memiliki perjuangan yang berbeda-beda, tetapi semuanya sama-sama berjuang untuk kehidupan yang lebih baik dan untuk mendapatkan pengakuan atas kemampuan mereka.
“Namun, semakin lama kupandang, semakin jelas satu hal mereka semua tetap berjalan di garis yang sama. Mereka sama-sama perempuan yang pernah berjuang, yang mungkin pernah diragukan, pernah dituntut, pernah harus membuktikan diri lebih keras daripada yang lain.”
Kutipan tersebut menjelaskan bahwa perempuan masih menghadapi ketidaksetaraan akibat pandangan masyarakat yang menempatkan laki-laki pada posisi yang lebih tinggi. Oleh karena itu, perempuan perlu terus memperjuangkan hak dan pengakuan agar memperoleh kesempatan yang setara.
Perjalanan itu juga membuat tokoh “Aku” teringat kepada R.A. Kartini
“Kartini bukan hanya seorang pahlawan di dalam kertas, melainkan ia juga berada di sekitar kita. Di ibu yang mengurus anak, di seorang perempuan yang mengejar mimpi siang hingga malam, dan di mereka yang selalu tersenyum walau roda kehidupan selalu berputar tanpa henti.”
Kutipan tersebut menunjukkan bahwa semangat perjuangan Kartini tidak hanya dikenang sebagai bagian dari sejarah, tetapi juga tercermin dalam kehidupan perempuan masa kini yang terus berjuang meraih cita-cita, mempertahankan hak, dan menjalankan berbagai peran dalam kehidupan.
“Kita berutang lebih dari sekadar hari perayaan dan kebaya kepada Ibu Kita Kartini, jasanya yang sangat berarti untuk kebebasan perempuan Indonesia dalam segi berpendapat ataupun pendidikan.”
Kutipan tersebut menegaskan bahwa perjuangan Kartini telah membuka jalan bagi perempuan untuk memperoleh hak yang sama, khususnya dalam bidang pendidikan dan kebebasan menyampaikan pendapat. Oleh karena itu, perjuangan tersebut perlu dilanjutkan oleh perempuan pada masa kini.
“Aku tersadar, sebagai perempuan di generasi ini. Kita berutang lebih dari sekadar hari perayaan dan kebaya kepada Ibu Kita Kartini.”
Kutipan tersebut menunjukkan kesadaran tokoh “Aku” bahwa perjuangan Kartini tidak cukup hanya diperingati, tetapi harus diwujudkan dengan meneruskan perjuangan untuk mencapai kesetaraan gender.
“Saat namaku dipanggil, ku melangkah maju dengan napas yang ku tata perlahan. Aula itu terasa luas, aku merasa kecil di depan, dengan para mata memandangku. Memberanikan diri untuk menatap mata penonton, akupun mulai berbicara. Melantangkan suara yang bergetar, berharap tiada seorang pun menyadari bahwa tanganku bergetar.”
Puncak cerita terjadi ketika nama tokoh “Aku” dipanggil untuk tampil. Dengan penuh keberanian meskipun merasa gugup, ia maju ke depan dan menyampaikan pidatonya. Dalam pidato tersebut, ia berbicara tentang perempuan yang sering dibungkam oleh ekspektasi masyarakat, mimpi-mimpi perempuan yang dianggap remeh, serta pentingnya melanjutkanperjuangan menuju kesetaraan. Ia menegaskan bahwa perempuan berhak memiliki suara, pendidikan, dan kesempatan yang sama.
Pada bagian akhir cerita, tokoh “Aku” berhasil menyampaikan pidatonya di hadapan para peserta lomba. Setelah menyuarakan pandangannya mengenai kesetaraan perempuan, tokoh “Aku” menyadari bahwa keberaniannya untuk berbicara merupakan bagian dari perjuangan perempuan dalam memperoleh hak dan kebebasan.
“Melangkah turun dari panggung yang lebarnya tak seberapa, tetapi aku tau bahwa suaraku akan terdengar ke penjuru negeri. Hari itu, bukan hanya lomba pidato di Hari Kartini.”
Semangat perjuangan untuk memperoleh kebebasan dan kesetaraan perempuan yang telah diperjuangkan sejak masa Kartini terus berlanjut hingga saat ini. Melalui pidato yang disampaikan tokoh “Aku”, penulis menunjukkan bahwa perjuangan tersebut tidak hanya sebatas mengenang jasa Kartini, tetapi juga diwujudkan melalui keberanian perempuan dalam menyuarakan pendapat, memperjuangkan hak, dan memperoleh tempat yang setara di tengah masyarakat.
Daftar Pustaka
Nurgiyantoro, B. (2018). Teori pengkajian fiksi. Yogyakarta. Gadjah Mada University Press.
Syauqilla, N. (2026, 6 Mei). Perempuan yang Terbungkam. Kompas.id.
