Konten dari Pengguna
Sebuah Ruang Singgah Warga Kudus Menyambut Ramadan
7 Januari 2026 17:51 WIB
·
waktu baca 2 menit
Kiriman Pengguna
Sebuah Ruang Singgah Warga Kudus Menyambut Ramadan
Menjelang Ramadan, Dandangan kembali meramaikan Kudus. Tradisi tahunan ini menjadi penanda datangnya bulan suci sekaligus ruang berkumpul warga lintas generasi.Syifazahra Salsabila
Tulisan dari Syifazahra Salsabila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Tidak semua pengunjung datang ke Dandangan untuk berbelanja atau mencoba permainan. Ada pula yang sekadar melangkah santai di tengah kerumunan, menatap cahaya lapak-lapak pedagang, menghirup wangi makanan, dan menikmati suasana khas yang hanya hadir setahun sekali. Suasana itu seolah menjadi isyarat diam-diam bahwa Ramadan kian mendekat.
ADVERTISEMENT
Saat senja berganti malam, pusat Kota Kudus perlahan dipadati warga. Lampu-lampu dagangan menyala bergantian, berpadu dengan suara langkah kaki dan percakapan ringan. Tanpa perlu pengumuman, Dandangan kembali hadir. Warga sudah memahami ritmenya.
Tradisi Dandangan telah mengakar dalam kehidupan masyarakat Kudus. Ia lebih dari sekadar pasar malam, menjadi ruang persinggahan sebelum memasuki bulan suci. Orang-orang datang bersama keluarga, sahabat, atau sendiri, hanya untuk menikmati waktu sebelum keseharian berubah saat Ramadan tiba.
Bagi sebagian warga, Dandangan juga menyimpan kenangan personal. Syafira Aini (26) mengaku sudah akrab dengan tradisi ini sejak kecil. Setiap menjelang puasa, ia terbiasa datang bersama orang tuanya. “Kalau Dandangan tidak ada, rasanya ada yang kurang,” tuturnya. Bukan soal membeli sesuatu, melainkan kebiasaan menyambut Ramadan yang telah melekat.
ADVERTISEMENT
Setiap tahun, suasana Dandangan selalu terasa baru. Lapak-lapak makanan berganti, jajanan baru bermunculan, dan pengunjung datang dengan cerita masing-masing. Bagi Syafira, kuliner menjadi magnet tersendiri. “Selalu ada makanan baru tiap tahun. Jadi walaupun acaranya sama, tetap ada yang dinanti,” katanya.
Sepanjang area dipenuhi pedagang makanan, mainan, hingga pernak-pernik. Pengunjung berjejal namun tidak tergesa. Ada yang berhenti membeli camilan, ada pula yang hanya berjalan sambil berbincang. Di tengah keramaian itu, tercipta kehangatan yang khas.
Bagi warga Kudus, Dandangan adalah ruang jeda. Tempat berkumpul, tertawa bersama, dan menghabiskan waktu sebelum memasuki bulan yang lebih hening dan khusyuk. Tidak ada kewajiban untuk membeli apapun, hadir dan menikmati suasana sudah cukup.
Saat malam semakin larut dan para pedagang mulai menutup lapaknya, Dandangan perlahan meredup. Namun maknanya tetap tertinggal. Ia menjadi penanda tahunan bahwa Ramadan bukan hanya tentang ibadah, tetapi juga tentang mempersiapkan diri secara perlahan, bersama-sama.
ADVERTISEMENT
Syifa Zahra Salsabila, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

