Tadris Bahasa Indonesia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Mendunia

Dosen, Penikmat Alam, Salt Water Fishing
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Syihaabul Hudaa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bahasa Indonesia sedang menemukan ruang baru di panggung internasional. Ia tidak lagi hanya dipandang sebagai bahasa nasional yang mempersatukan masyarakat Indonesia, tetapi sebagai bahasa yang memiliki potensi untuk menjadi bagian dari diplomasi pendidikan dan kebudayaan. Perjalanan menuju posisi tersebut tentu tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat. Diperlukan perguruan tinggi, dosen, mahasiswa, dan berbagai lembaga yang secara konsisten memperkuat kualitas pembelajaran sekaligus memperkenalkan bahasa Indonesia kepada masyarakat dunia.
Dalam konteks tersebut, Program Studi S1 Tadris Bahasa Indonesia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta memiliki posisi yang strategis. Pada Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) IPTABI dan Seminar Nasional 2026 di Pamekasan, Madura, 17–18 September 2026, program studi TBI memperoleh sejumlah penghargaan yang bukan sekadar menjadi capaian institusional, tetapi dapat dibaca sebagai momentum untuk melihat lebih jauh masa depan Bahasa Indonesia di tingkat internasional.
Penghargaan tersebut antara lain pengakuan sebagai Program Studi Tadris Bahasa Indonesia Terakreditasi Internasional, peringkat pertama dalam produktivitas publikasi SINTA terbaik, serta peringkat pertama sebagai program studi dengan mahasiswa asing terbanyak. Pada kesempatan yang sama, penghargaan juga diberikan kepada program studi terakreditasi nasional dan dosen senior Tadris Bahasa Indonesia yang inspiratif kepada Mahmudah Fitriyah, M.Pd.
Deretan penghargaan tersebut memberikan satu pesan penting: internasionalisasi bahasa Indonesia harus dimulai dari penguatan kualitas di dalam negeri. Bahasa yang ingin diperkenalkan kepada masyarakat internasional harus memiliki ekosistem akademik yang kuat. Perguruan tinggi tidak cukup hanya mengajarkan tata bahasa, keterampilan membaca, menulis, berbicara, dan menyimak. Perguruan tinggi juga perlu menciptakan lingkungan akademik yang memungkinkan bahasa Indonesia berkembang sebagai bahasa ilmu pengetahuan, penelitian, dan komunikasi lintas budaya.
Keberadaan mahasiswa asing menjadi salah satu indikator menarik dalam proses tersebut. Ketika mahasiswa dari negara lain memilih mempelajari bahasa Indonesia di UIN Jakarta, sesungguhnya yang terjadi bukan hanya proses pembelajaran bahasa. Ada proses perjumpaan budaya. Mahasiswa asing mengenal Indonesia melalui bahasa, sementara masyarakat Indonesia mendapatkan kesempatan untuk melihat kebudayaannya dari perspektif masyarakat internasional.
Di sinilah bahasa Indonesia dapat memainkan peran sebagai diplomasi budaya. Bahasa menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan kekayaan Indonesia yang jauh lebih luas. Melalui pembelajaran bahasa Indonesia, mahasiswa asing dapat dikenalkan pada sastra, sejarah, tradisi, kuliner, kesenian, kehidupan masyarakat, hingga keragaman bahasa daerah yang ada di Indonesia.
Momentum Rakornas IPTABI yang berlangsung di Madura menjadi semakin bermakna karena internasionalisasi bahasa Indonesia tidak boleh membuat kita melupakan akar kebudayaan lokal. Madura, misalnya, memiliki bahasa, sastra, tradisi, kesenian, dan nilai-nilai sosial yang menjadi bagian penting dari identitas Indonesia. Ketika Bahasa Indonesia dibawa ke dunia internasional, kekayaan budaya seperti Madura justru dapat menjadi materi penting untuk memperkenalkan Indonesia secara lebih utuh.
Karena itu, bahasa Indonesia dan bahasa daerah tidak seharusnya ditempatkan dalam posisi yang berlawanan. Bahasa Indonesia berfungsi sebagai bahasa nasional dan bahasa persatuan, sedangkan bahasa daerah menyimpan pengetahuan serta identitas kebudayaan masyarakat. Keduanya dapat berjalan bersama. Bahkan, internasionalisasi bahasa Indonesia akan menjadi lebih bermakna apabila masyarakat dunia diperkenalkan pada Indonesia sebagai negara dengan keragaman bahasa dan budaya.
Program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) menjadi salah satu instrumen penting dalam proses tersebut. BIPA tidak seharusnya hanya menjadi ruang untuk mengajarkan struktur bahasa. BIPA dapat menjadi ruang diplomasi kebudayaan. Pembelajar asing dapat belajar Bahasa Indonesia melalui cerita rakyat, karya sastra, film, musik, kuliner, tradisi masyarakat, dan kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, mereka tidak hanya menguasai bahasa, tetapi memahami masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta memiliki modal akademik untuk mengambil bagian dalam perjalanan tersebut. Produktivitas publikasi, keberadaan mahasiswa asing, akreditasi, serta kualitas sumber daya manusia merupakan fondasi penting untuk memperkuat posisi Bahasa Indonesia dalam lingkungan akademik internasional. Namun, penghargaan bukanlah garis akhir. Justru, penghargaan merupakan tanggung jawab untuk terus menjaga kualitas dan memperluas kontribusi.
Ke depan, internasionalisasi Bahasa Indonesia membutuhkan kolaborasi yang lebih luas antara perguruan tinggi, pemerintah, pengajar BIPA, peneliti, komunitas kebudayaan, dan masyarakat. Teknologi digital juga dapat dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan pembelajaran Bahasa Indonesia sehingga bahasa ini dapat hadir tidak hanya di ruang kelas, tetapi di berbagai ruang digital global.
Bahasa Indonesia menuju dunia internasional bukan berarti menjadikan bahasa Indonesia kehilangan akar. Sebaliknya, bahasa Indonesia melangkah semakin kuat dengan memperkenalkan kekayaan budaya yang melahirkannya.
