Budi Yanto Lusli, Presiden Direktur Synthesis Development “Developer Krismon”

We are growing property developers in Indonesia. We have an integrated project management, consultant, design and development.
Tulisan dari Synthesis Development tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Tak banyak yang tahu bahwa pusat perbelanjaan pertama di Yogyakarta, Plaza Malioboro dengan sejuta aktivitas bisnis yang telah dilakukan di dalamnya adalah berkat sentuhan tangan dingin sosok muda 28 tahun, kala itu. Atau bahkan kokoh berdirinya Gedung Granadha yang kini akrab di telinga sebagai Plaza Semanggi, Jakarta, juga mulai dijamahnya pada 1999 lalu. Pria ini memang jago menyulap gedung kusam menjadi cemerlang, seperti Graha Asia Work yang tak kelihatan di belakang Gedung Sarinah, Thamrin, dan QB World Plaza di Pondok Indah menjadi gedung yang mampu menggambarkan citranya perusahaan.
Budi Yanto Lusli memang sosok petarung sejati, meski aral merintang depan mata. Dia mengarungi bahtera hidupnya penuh perjuangan hingga meraih sukses dan bahkan mendirikan beberapa perusahaan, termasuk di bidang properti. Meski demikian, dia tetaplah Budi yang rendah hati dan mau berbagi kepada banyak orang. Pun demikian ketika berbincang dengan tim Property and The City, di penghujung September 2016. Sosok inspiratif low profile ini pun bersahaja membagi kisah hidupnya sedari nol hingga merintis usahanya sukses dengan bendera Synthesis Development dan Fajar Agro Sejahtera.
Lembaran perjalanan sukses Budi dimulai pada tahun 1989, selepas menyelesaikan studi di Teknik Sipil Universitas Katolik Parahyangan, Bandung. Sarjana muda tersebut pun mengadu nasib ke sebuah perusahaan pabrik Indah Kiat Pulp & Paper di Pekanbaru sebagai konsultan sipil di perusahaan tersebut. Namun Budi hanya bertahan tiga bulan. “Selama tiga bulan itu saya tidak pernah ketemu orang. Hanya di kantor saja,” ujar ayah dua anak ini.
Mengisi separuh waktu yang kosong, pria kelahiran Jakarta, 29 Desember 1965 ini pun melanjutkan studinya ke Business Administration, Management and Operations di Wijawiyata Manajemen Institut Pendidikan dan Pengembangan Manajemen (IPPM). “Awalnya saya ingin masuk ke MBA, tapi nggak punya duit. Akhirnya masuk ke Wijawiyata karena di sini boleh ngutang dulu,” ungkap putra bungsu dari empat bersaudara ini sembari tertawa. Setelah menyelesaikan studinya pada 1990, barulah Budi mencari pekerjaan sembari melunasi utang sekolahnya. “Jadi lulus dengan posisi ngutang, tapi akhirnya saya bisa lunasi selama sekitar 3 tahun,” imbuhnya.
Karir Budi di perusahaan properti dimulai ketika bergabung di salah satu lini usaha milik taipan properti, Ir. Ciputra, yakni Mal Citraland di Grogol, Jakarta Barat dengan tanggung jawab sebagai Marketing Executive. Sejatinya pekerjaan tersebut bukanlah hal baru bagi Budi. Semasa kuliah, dia pun pernah keluar masuk berbagai department store untuk menawarkan berbagai produk garmen milik kerabatnya. Pengalaman ini pula yang kemudian menghantarkannya pada tanggung jawab lebih besar di Mal Citraland sebagai Manajer Pemasaran dan Promosi.
Meski telah mapan sebagai profesional muda di pusat perbelanjaan tersebut, namun niat Budi begitu bulat mendirikan usaha sendiri. Tak punya banyak modal, namun dia optimis, bahkan istrinya yang baru sebulan dinikahinya pun harus ‘berpasrah’ dalam ketidakpastian, kala itu. Tidak mengapa jika gagal, bagi Budi, gagal di usia muda masih memiliki seribu peluang untuk bangkit atau bahkan kembali menjadi profesional. Tahun 1993 menjadi titik awal, tonggak kebangkitan Budi ketika mendirikan usaha bernama ProLease.
“Setelah dari Ciputra saya buka konsultan properti. Saya melihat bahwa peluang masih sangat besar, khususnya di shopping center. Sampai tahun 1997/1998, sebelum krismon (baca; krisis moneter) kami manangani sekitar 400 ribu meter persegi shopping center di seluruh Indonesia. Jadi saya ini developer anaknya krismon,” jelas Budi.
Berikut petikan perbincangan lengkap bersama Presiden Direktur Synthesis Development ketika ditemui di salah satu proyek yang sedang dikembangkannya, Synthesis Residence Kemang, Jl. Ampera Raya No. 1 A Jakarta Selatan.
Bagaimana cerita Anda memulai karir sebagai developer?
Tahun 1993 saya keluar dari Mal Citraland, sebulan setelah saya married. Yang paling berat adalah harus meyakinkan istri saya. Saya bilang bahwa jika sampai tiga tahun saya tidak berhasil, saya pun masih bisa bekerja kembali ke perusahaan orang, karena usia saya masih muda, 28 tahun. Akhirnya, saya memulai dari konsultan properti dengan bendera usaha saya, ProLease yang khusus menangani shopping center. Kami membantu mereka mulai dari riset, market study, perencanaan, pembangunan, hingga pemasaran. Namun dalam perjalanannya ada juga tawaran untuk membantu bangun perumahan, pergudangan, dan lainnya.
Lalu apa proyek pertama yang Anda garap saat itu?
Tahun 1993 itu juga kami mulai proyek pertama Plaza Malioboro di Yogyakarta, dan berjalan sukses. Sebagai proyek perdana, kami dipercayakan mengangani keseluruhan proses pembangunannya, mulai dari desain, layout, hingga pemasarannya. Jadi memang ini adalah awal sekaligus penentu langkah kami selanjutnya. Setelah krismon tahun 1997/1998, banyak developer yang menahan diri, sehingga kami pun sangat kesulitan mendapatkan proyek. Tapi Puji Tuhan karyawan kami sekitar 500 orang, tak satupun yang kami PHK. Bahkan saya bilang ke mereka, kalau kamu tidak mendapatkan pekerjaan yang lebih solid, kamu diam-diam saja di sini.
Di tahun-tahun tersebut memang sangat sulit mendapatkan proyek. Akhirnya kami pun memanfaatkan aset-aset yang tidak didevelop dengan cara menjalin kerja sama dengan perusahaan pemilik gedung tersebut. Contohnya adalah Graha Asia Work di belakang Sarinah. Tadinya gedung itu terbengkelai kami desain kembali dan sewakan kepada Asia Work. Satu lagi zaman dulu ada QB World Plaza di Pondok Indah. Itu juga kami yang kerjakan. Sampai akhirnya kami dapatkan proyek Plaza Semanggi tahun 1999.
Berarti saat krismon itulah Anda terlahir sebagai seorang developer?
Bisa dibilang seperti itu. Saya ini developer anaknya krismon. Kalau tidak ada krismon, mungkin saya tetap menjadi konsultan. Disaat krisis tersebutlah kami mendapatkan tekanan tapi juga ada opportunity.
Setelah sebagai konsultan di ProLease, apakah kemudian Anda mendirikan perusahaan properti sendiri?
Setelah kami memulai develop Plaza Semanggi, dari situlah kami masuk ke dalam developer. Waktu itu mula-mula kita tidak pernah punya wacana untuk membangun suatu grup sendiri. Buat saya sudah cukup senang bisa membantu orang/pengembang lain dengan cara bermitra. Jadi seperti di Plaza Semanggi, dimana pada 1999 tersebut tidak ada kredit perbankan, maka kami mengalang beberapa teman pengembang untuk bekerja sama. Kami ajak Hari Darmawan Corporation, Piko Group, CNI dan Agung Podomoro, juga Lippo Group. Setelah Plaza Semanggi sukses kami bangun, tahun 2007 Lippo mengusulkan supaya Plaza Semanggi ini dijual ke REIT (Real Estate Investment Trust) di Singapura. Akhirnya kami sama-sama sepakat untuk menjualnya.
Setelah itu kami bubar, tapi saya dengan Pak Trihatma Kusuma Haliman (baca; Chairman Agung Podomoro Group) masih lanjut. Sekitar tahun 2007 kami sama-sama bangun The Lavande Residence di Tebet, Jakarta Selatan. Setelah itu kami sama-sama lagi bangun Kalibata City, tahun 2008. Kemudian berlanjut hingga saya juga membantu Pak Tri mendevelop project di Bandung, yaitu Festival City Link, tahun 2010.
Di tahun yang sama juga saya bersama dengan Grup Kompas Gramedia (PT Dyandra Media International) bangun Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC) di Kawasan Wisata Nusa Dua, Bali. Jadi memang pasa masa-masa itu saya selalu bermitra dengan perusahaan lain untuk bersama-sama membangun.
Kemudian Anda mendirikan perusahaan sendiri?
Jadi kebersamaan saya dengan Pak Tri hingga perusahaan go public. Saya berpikir bahwa, jika sebuah perusahaan sudah go public berarti sudah bisa jalan lebih pasti, kan? Nah, dari situlah saya memutuskan untuk berjalan sendiri juga, sekitar tahun 2010/2011, yang kemudian berkibarlah bendera Synthesis Development.
Berarti Bassura City menjadi proyek pertama melalui Synthesis ini?
Sebenarnya waktu bekerja sama dengan Pak Tri itu juga menjadi portfolio saya, sehingga kita sebut sebagai proyek-proyek awal Synthesis Development. Tapi kalau mau dibilang fully Synthesis Development project, maka itu mulainya di tahun 2011, yakni Bassura City di Jakarta Timur. Kemudian berlanjut ke Synthesis Residence Kemang, Synthesis Square di Gatot Subroto, dan di Prajawangsa City di Cijantung.
Lantas apa sebenarnya yang menjadi pembeda antara Synthesis Development dengan developer lainnya?
Kalau kita perhatikan produk-produk Synthesis Development, pasti yang hadir adalah produk terbaik dan terjangkau, karena ini merupakan komitmen kami sejak awal mendirikan perusahaan ini. Banyak orang bisa membuat produk yang terbaik, tapi belum tentu terjangkau. Inilah yang selalu saya tegaskan pada karyawan perusahaan kami, bahwa kalian kerja di Synthesis Development bukan semata-mata untuk mengejar profit. Tetapi kita tetap mengutamakan people, orangnya dulu, baru ke produk. Setelah itu baru kita berpikir ke profit.
People di sini berarti bukan cuma kami para stakeholder, tapi juga kalian para karyawan dan terutama juga para pembeli. Saya bilang walaupun kita jual barang murah, seperti di proyek Kalibata City - pada awalnya dijual Rp 4 juta per meter persegi (Rp 144 juta/unit 2 BR) – kamu tidak boleh membeda-bedakan, siapapun calon pembeli kita. Inilah yang membuat kami di Synthesis akan terus membuat produk yang terbaik dan terjangkau.
Selain itu, hal apa lagi yang Anda tanamkan pada karyawan di Kantor?
Pertama adalah soal trust atau kepercayaan. Ini adalah hal yang amat sangat penting. Kepercayaan itu ada kelasnya, mulai dari hal kecil atau sederhana hingga pada persoalan-persoalan yang lebih besar. Pada saat kamu menjual sesuatu, apakah pembeli percaya pada Anda? Perlu juga sebuah kepercayaan ketika kamu mengorganisir tim kamu dalam sebuah organisasi perusahaan. Kepercayaan juga ibadah. Nah kami tumbuh sampai sejauh ini karena dipercaya dan mempercayai orang lain.
Kedua, bangun sesuatu harus dengan sepenuh hati. Jangan sampai cuma sepotong-sepotong, atau ala kadarnya. Orang akan bisa expert apabila sudah melewati 10.000 jam. Sebenarnya ada banyak hal, tapi kurang lebih dua poin ini yang menjadi paling penting.
Kabarnya Anda juga punya perusahaan di bidang usaha lain?
Kalau Synthesis Development hanya bergerak di bidang properti. Kami juga punya beberapa perusahaan di bidang lain, seperti perkebunan dan pertanian. Seperti yang saya bilang tadi, kalau ada kesempatan untuk berbagi di bidang lain, kenapa tidak? Oleh karena itu, usaha kami seperti di yang perkebunan kopi di Kerinci, Jambi, ini pun lebih kami arahkan ke community development. Jadi perusahaan berbasis komunitas ini kami hadirkan untuk membantu para petani yang tadinya petani kentang yang hidupnya susah, kami ajari dan bimbing mereka untuk bertani kopi di atas lahan sekitar 500 hektar. Di dalam community development ini, kami tidak miliki 1 hektar pun kebun kopi. Semuanya milik masyarakat. Jadi kami yang memberi mereka bibit, mengajari mereka bertanam, dan kami juga yang menampung hasil panen mereka. Bahkan kami juga sudah diminta oleh kepala daerah lain untuk mengembangkan community development di daerah mereka.
Lalu bagaimana dengan masa-masa kritis Anda ketika merintis dan menjalankan usaha hingga saat ini?
Tentu masa terberat yang saya rasakan adalah pada saat menjalankan profesi konsultan di ProLease, karena di era krismon. Banyak pengembang yang tiba-tiba menghilang, padahal penyewa sudah bayar kepada si pengembang. Saya sebagai konsultan tentu berusaha meminta uang mereka kembali, tapi memang tidak mudah karena semuanya terdampak krisis. Tapi Puji Tuhan sampai sekarang kami masih mendapatkan kepercayaan daripada riteler. Ini bisa terbukti pada saat akan menjalankan proyek di Bandung, bahwa para riteler masih sangat percaya pada saya.
Saat ini Anda sudah sukses sebagai seorang developer. Apakah profesi saat ini adalah jawaban atas mimpi masa lalu Anda?
Saya ingat zaman dahulu kita cuma punya dua pilihan, mau jadi insinyur atau dokter. Akhirnya saya ambil insinyur dan kemudian terjun ke dunia bisnis. Semua berjalan begitu saja, tidak ada rencana, tidak ada mimpi. Semua ini karena bimbingan Tuhan. Apapun yang ada saat ini kita mesti bersyukur dan berusaha supaya jangan sampai berlebihan, karena bisa sampai serakah. Makanya pendidikan itu penting, karena bisa mengangkat harkat hidup. Dan ini pula yang selalu ditegaskan orang tua kami, meski mereka membebaskan anak-anaknya memilih jurusan yang disukai.
Lalu bagaimana ketiga saudara Anda, apakah mereka juga terjun ke dunia properti?
Saya lahir dalam keluarga berkecukupan tapi tidak berkelabihan. Kami empat bersaudara. Dua saudara saya berkecimpung di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Namun kakak sulung saya yang sudah pensiun akhirnya bergabung dengan saya dan menjalankan salah satu usaha kami di bidang pertanian kopi.
Lantas apa sesungguhnya makna dari semua pekerjaan yang Anda lakukan hingga saat ini?
Kita cuma bisa mengerjakan yang terbaik sekemampuan kita. Selebihnya Tuhan yang menentukan hasilnya akan seperti apa. Saya merasakan semua ini sebagai suatu anugerah. Tuhan membimbing saya dengan pelan-pelan. Bagaimana karir awal saya bekerja untuk orang lain, kemudian sebagai konsultan, dan hingga saat ini bekerja di perusahaan sendiri. Dan saya tidak pernah bermimpi sewaktu zaman kuliah dulu akan bisa menjadi pengusaha seperti ini. Dan semuanya ini sudah pasti merupakan bagian dari tanggung jawab. Sehingga dengan anugerah seperti ini maka kitapun harus bisa berbagi pada orang banyak. Pada awalnya memang pasti ada kekhawatiran. Tapi dalam pergumulan tetap kita percaya bahwa Tuhan membimbing kita dan bisa menjadi seperti sekarang ini. Dan memang patut kita berserah pada-NYA.
Adakah obsesi atau mimpi Anda yang belum tercapai?
Seberapa potensi yang kita miliki dan yang bisa kita berikan, itu semua dari kita sendiri. Jadi kalau ditanya, apakah saya punya mimpi pribadi untuk diri saya, maka saya tetap bersyukur dan berserah. Tentunya bahwa saya tetap berusaha mencari apa yang bisa saya lakukan yang kemudian dapat bermanfaat juga bagi banyak orang. Kalau kerjanya cuma cari duit saja juga buat apa. Ini justru bisa membuat kita sombong dan serakah.
Lalu apa sesungguhnya makna sukses bagi Anda?
Antara sukses dan tujuan hidup merupakan dua hal yang berbeda. Kalau kamu tidak tahu tujuan hidup kamu, kamu tidak punya ukuran untuk sukses. Kalau kamu tahu tujuan hidup kamu, maka kamu bisa mengukur, apakah sudah mencapai kesuksesan atau belum. Saya pernah punya teman, sukses buat dia adalah angka. Dalam tiga tahun tercapai angka tersebut, kemudian dia ubah lagi angka itu. Terus apa lagi dong? Itu kan berarti bukan sukses. Jadi bagi saya, sukses itu apabila kita menyadari bahwa tujuan kita sudah tercapai atau belum. Jadi saya tidak setuju jika sukses itu hanya diartikan sebatas materi.
Bilamana Anda pernah mengalami sebuah pergumulan hebat dalam hidup Anda?
Pergumulan itu bukan berarti selalu pada saat kamu merasa lagi susah. Pergumulan ini bisa saja justru pada saat kamu mendapatkan sebuah tawaran yang lebih baik. Pergumulan ini bisa juga karena kamu mendapatkan kesempatan untuk mem-bypass sesuatu. Jadi banyak pergumulan yang terjadi dalam hidup saya. Misalkan saat di konsultan dan tiba-tiba klien hilang semua, namun harus mengambil keputusan untuk tidak mem-PHK karyawan. Saya mencoba mencari jalan, mencari nikmat dari Tuhan untuk bisa mengerjakan sesuatu. Pergumulan juga terjadi ketika yang pada awalnya saya cuma terima jasa dan beralih masuk ke dalam investasi. Ini juga merupakan sebuah pergumulan yang berat. Atau pada saat uang untuk beli tanah tidak cukup.
Makanya saya sangat berterima kasih kepada semua orang yang sudah percaya pada Synthesis Development. Bukan cuma kepada para teman-teman pengembang, tapi juga kepada orang-orang yang sudah membeli dan mempercayakan uangnya untuk investasi di produk kami ini. [pius klobor]
