Konten dari Pengguna

Zakat untuk Kelaparan Dunia, Mungkinkah?

Syuhelmaidi Syukur

Syuhelmaidi Syukur

Praktisi Filantropi Islam, Chairman Harika Foundation, Founder MRI (Masyarakat Relawan Indonesia)

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syuhelmaidi Syukur tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menyongsong World Zakat Forum, International Conference 2017 yang hari ini dibuka oleh Menteri Agama RI, kami ingin sedikit urun rembug terkait optimalisasi zakat. Acara yg dihadiri oleh peserta dari 16 Negara ini membahas tentang kebijakan pengelolaan zakat berbagai negara, baik regulasi zakat, fiqih zakat kontemporer sampai pada zakat on SDGs.

Zakat untuk Kelaparan Dunia, Mungkinkah?
zoom-in-whitePerbesar

Dalam beberapa diskusi yang kami lakukan, zakat termasuk kategori pemenuhan darurat masyarakat. Sehingga hampir semua lembaga zakat baik milik pemerintah porsi bantuan untuk fakir miskin menjadi sangat dominan. Hasil riset zakat dari PUSKAZ (Pusat Kajian Zakat) BAZNAS berupa 2017 Outlook Zakat Indonesia, penyaluran Fakir Miskin secara Nasional 74,36%.

Seperti tabel di bawah:

Zakat untuk Kelaparan Dunia, Mungkinkah? (1)
zoom-in-whitePerbesar

Sementara itu ada tuntutan agar zakat dapat berkontribusi dalam pengentasan kemiskinan. Bahkan Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf, bapak Tarmidzi Tohor, menyampaikan bahwa mekanisme by name by address yang dilakukan lembaga zakat harus bisa menunjukkan kontribusinya dalam pengentasan kemiskinan. Sayang dalam kajian PUSKAZ tidak dijelas program pemberdayaan yg dilakukan oleh lembaga zakat. Sehingga tidak tergambar upaya-upaya pengentasan kemiskinan oleh BAZNAS dan LAZ.

Kemiskinan Kultural vs Struktural

Menyoal kemiskinan minimal ada 2 kategori yang umum terjadi di masyarakat. Yaitu kemiskinan kultural dan struktural. Kemiskinan kultural terjadi karena memang masyarakat secara kulturalnya miskin, belum mendapatkan pengetahuan yg cukup untuk mengangkat harkat hidupnya menjadi lebih baik. Keterbatasan akses ekonomi baik produksi maupun ditribusi. Mengatasinya dengan membuka akses ekonomi, edukasi dan pendampingan yang berkelanjutan.

Berbeda kemiskinan struktural, kemiskinan ini terjadi karena faktor eksternal atau kebijakan yang tidak menguntungkan masyarakat. Penguasaan sumber daya oleh segelintir orang, praktek monopoli dan oligopoli di tengah masyarakat. Mengatasinya tentu dengan memberikan perlindungan dan Pengembangan kepada sektor UKM agar tumbuh dan bertahan dalam kondisi sulit.

Dalam hal ini lembaga zakat dapat berperan sebagai partner pemerintah dalam melakukan pemberdayaan masyarakat. Sehingga terjadi sinergi yang baik antara pemerintah dan unsur masyarakat. Kemiskinan akan bisa diatasi bersama-sama, selama programnya jelas akan terjadi kontribusi yang positif.

Kelaparan Dunia Melanda Beberapa Negara

Ada lagi kemiskinan yang terjadi karena bencana, baik karena bencana alam ataupun konflik bahkan peperangan. Hal ini tentu tidak kita inginkan, dampaknya yang masif maka kita tidak bisa tinggal diam. Beberapa informasi berikut semoga membuka mata kita:

http://www.aljazeera.com/news/2017/03/famine-united-nations-170310234132946.html

Release terbaru oleh UN dijelaskan 20 juta orang mengalami krisis kelaparan terparah di empat negara yaitu Somalia, Nigeria, Sudan Selatan dan Yaman. Akibat kekeringan yang melanda negara tersebut, diperparah dengan perang saudara yang melanda negara tersebut. Inilah bencana kemanusiaan terbesar. Gabungan antara bencana alam dan konflik!

Zakat untuk Kelaparan Dunia

Empat negara di atas adalah negara penduduk muslim, artinya mereka yang kelaparan mayoritas Muslim. Posisi mereka tak jauh dari negara muslim petro dollar di timur tengah. Yang secara penghimpunan zakat berlebih, bisa disalurkan kepada mereka. Bersyukur beberapa lembaga kemanusiaan dan lemabag amil zakat dari Indonesia sudah ada keinginan membantu mereka.

Tim ACT bahkan sdh berada di Somalia mendistribusikan paket pangan untuk rakyat Somalia yang kelaparan. Rencananya segera akan menyusul pengiriman tim ke Nigeria, Sudan Selatan, dan Yaman. Beberapa report dari lapangan bisa dilihat di act.id

https://act.id/news/detail/sos-somalia--1-:-stok-pangan-terus-melorot--air-nyaris-nihil

Resolusi membantu kelaparan Dunia

Agar agenda World Zakat Forum kali ini lebih bermakna, maka harus bisa melahirkan resolusi konkret untuk sama-sama membantu 20 juta warga yang mengalami kelaparan terparah tahun ini. Ditambah lagi Nigeria dan Sudan juga merupakan anggota dari World Zakat Forum sekaligus pembicaraan dalam International Conference 2017. Tentu resolusi ini akan membawa kebahagiaan tersendiri bagi mereka.

Wallahu a'lam bishowab, semoga bisa menjadi masukan bagi World Zakat Forum 2017.

Penulis, juga presiden Global Zakat, ACT.