Anak Tunggal Perempuan Nggak Harus Selalu Kuat untuk Dianggap Hebat

Mahasiswa Ilmu Komunikasi S1 Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Talitha Atha Ghani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perempuan, khususnya anak tunggal, sering diposisikan oleh keluarga dan media sebagai sosok yang harus kuat, mandiri, dan tahan banting seolah itu adalah standar ideal. Padahal kenyataannya, mereka juga rapuh dan butuh ruang untuk lelah. Anak tunggal kerap dianggap “enak” karena mendapat perhatian penuh dari orang tua, padahal di balik itu ada beban ekspektasi yang harus ditanggung sendiri. Terlebih jika ia perempuan, ekspektasi itu sering kali menjadi ganda.
Beban Ekspektasi yang Datang Sejak Dini
Sebagai anak tunggal, tidak ada tempat untuk berbagi peran atau membagi harapan. Semua doa, tuntutan, dan rencana masa depan keluarga sering kali bertumpu pada satu anak. Anak tunggal perempuan tumbuh dengan narasi bahwa ia harus bisa segalanya: mandiri, dewasa lebih cepat, tidak merepotkan, dan mampu menyelesaikan masalah sendiri.
Tanpa disadari, hal ini membuat banyak anak tunggal perempuan terbiasa memendam. Mereka belajar untuk terlihat kuat bahkan ketika sedang tidak baik-baik saja, karena merasa tidak punya pilihan lain. Sayangnya, tuntutan ini kerap mengabaikan satu hal penting: bahwa ia tetap manusia yang bisa merasa takut, lelah, dan ingin bergantung pada orang lain.
Peran Media dalam Membentuk Sosok “Perempuan Kuat”
Media turut memperkuat gambaran bahwa perempuan ideal adalah perempuan yang tangguh, independen, dan selalu mampu bertahan. Dalam film, iklan, maupun media sosial, perempuan sering digambarkan sebagai sosok yang tetap berdiri tegar meski diterpa banyak masalah.
Representasi ini memang terlihat inspiratif, tetapi juga berbahaya. Media jarang memberi ruang pada perempuan yang lelah, bingung, atau memilih berhenti sejenak. Akibatnya, perempuan termasuk anak tunggal merasa gagal ketika tidak mampu memenuhi gambaran tersebut.
Ketika Kuat Menjadi Kewajiban, Bukan Pilihan
Masalah muncul ketika “kuat” tidak lagi menjadi pilihan, melainkan kewajiban. Anak tunggal perempuan sering merasa bersalah saat ingin bergantung pada orang lain, merasa lemah, atau sekadar mengeluh. Ada ketakutan dianggap tidak mampu, tidak dewasa, atau mengecewakan keluarga.
Padahal, menjadi kuat bukan berarti meniadakan rasa lelah. Kemandirian bukan berarti harus selalu sendirian. Setiap orang, tanpa memandang gender atau posisi dalam keluarga, berhak untuk merasa rapuh.
Hebat Tidak Selalu Berarti Kuat
Sudah saatnya definisi “hebat” diperluas. Anak tunggal perempuan tidak harus selalu kuat untuk dianggap berhasil. Hebat juga berarti berani mengakui batas diri, meminta bantuan, dan jujur pada perasaan sendiri. Media dan lingkungan sosial perlu mulai menghadirkan narasi yang lebih manusiawi bahwa perempuan boleh lelah, boleh ragu, dan boleh tidak selalu siap.
Karena pada akhirnya, menjadi manusia seutuhnya jauh lebih penting daripada sekadar memenuhi ekspektasi. Menjadi perempuan yang manusiawi yang punya batas, emosi, dan kebutuhan untuk bersandar seharusnya tidak membuat seseorang kehilangan nilai. Justru dengan memberi ruang pada kerentanan, kita bisa membangun pemahaman yang lebih adil tentang gender, baik di dalam keluarga maupun dalam media yang kita konsumsi setiap hari.
