Keselamatan Kerja dan Perilaku Manusia: Perspektif dari Pengalaman Magang

Mahasiswa Psikologi Universitas Brawijaya
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari TALITHA HAPPY SYAKIRAH tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Awalnya, selama menjalani magang di bidang QHSE (Quality, Health, Safety, and Environment) pada sektor konstruksi, keselamatan dan kesehatan kerja (K3) terlihat seperti sekadar kumpulan aturan yang harus dipatuhi. Prosedur sudah tersedia, standar sudah ditetapkan, dan setiap risiko tampak memiliki pengendaliannya masing-masing.
Namun, seiring keterlibatan dalam berbagai kegiatan selama magang, mulai dari penyusunan materi sosialisasi, pengelolaan data, hingga mengikuti audit dan patroli proyek, muncul pemahaman bahwa realitas di lapangan tidak sesederhana itu. Di balik sistem yang sudah tersusun, ada faktor lain yang sangat berpengaruh, yaitu bagaimana individu memahami dan merespons risiko.
Dalam beberapa situasi, terlihat bahwa prosedur yang sudah ada belum tentu selalu dijalankan secara konsisten. Bukan karena tidak tersedia, tetapi karena persepsi terhadap risiko bisa berbeda pada setiap orang. Ada yang lebih waspada, namun ada juga yang merasa sudah terbiasa sehingga cenderung mengabaikan potensi bahaya.
Sebagai mahasiswa psikologi yang menjalani magang di bidang ini, pengalaman tersebut memberikan perspektif baru bahwa keselamatan kerja tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis, tetapi juga dengan proses kognitif dan perilaku individu. Cara seseorang menilai risiko, memahami konsekuensi, hingga mengambil keputusan menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan kerja yang aman.
Selain itu, peran komunikasi keselamatan juga terasa signifikan. Materi yang disusun dengan jelas dan mudah dipahami, serta penyampaian yang tepat, dapat membantu meningkatkan awareness pekerja terhadap risiko yang ada di lingkungan kerja.
Melalui pengalaman magang ini, terlihat bahwa keselamatan kerja merupakan kombinasi antara sistem yang baik dan perilaku yang mendukung. Keduanya perlu berjalan beriringan agar upaya yang dilakukan tidak hanya bersifat formalitas, tetapi benar-benar berdampak.
Pada akhirnya, keselamatan kerja bukan hanya tentang mengikuti aturan, tetapi tentang bagaimana individu memahami makna di balik aturan tersebut dan menerapkannya dalam setiap aktivitas kerja.
