Setelah Konsumen Membeli: Cara Menjaga Pelanggan di Tengah Persaingan Bisnis

Mahasiswa Universitas Pamulang yang memiliki minat pada isu manajemen, organisasi, kepemimpinan, dan pengembangan sumber daya manusia.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Pratama Aditya Putra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mendapatkan konsumen baru mungkin menjadi salah satu hal yang paling sering dipikirkan ketika sebuah bisnis mulai berjalan. Promosi dibuat, konten diunggah, diskon ditawarkan, dan berbagai cara dilakukan agar orang tertarik mencoba produk.
Namun, ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting: setelah konsumen membeli, lalu apa?
Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan ketika persaingan bisnis semakin terbuka. Konsumen sekarang tidak hanya memiliki banyak pilihan toko dan produk, tetapi juga dapat dengan mudah membandingkan harga, melihat ulasan, mencari alternatif, dan berpindah ke bisnis lain.
Perkembangan perdagangan digital di Indonesia juga menunjukkan persaingan yang semakin luas. Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Statistik E-Commerce 2024 mencatat jumlah usaha e-commerce meningkat 15,30 persen dibandingkan tahun sebelumnya. BPS juga mencatat bahwa 96,91 persen usaha e-commerce didominasi oleh UMKM.
Angka tersebut memberikan gambaran bahwa semakin banyak pelaku usaha yang masuk ke pasar digital. Bagi konsumen, kondisi ini berarti pilihan menjadi semakin banyak. Bagi pelaku usaha, tantangannya bukan hanya bagaimana mendapatkan pembeli, tetapi juga bagaimana membuat pembeli tersebut mau kembali.
Pembelian Pertama Bukan Berarti Pelanggan Tetap
Seseorang yang membeli sebuah produk belum tentu langsung menjadi pelanggan yang loyal. Bisa saja pembelian terjadi karena sedang ada diskon, penasaran dengan produk, melihat rekomendasi di media sosial, atau memang sedang membutuhkan barang tersebut.
Setelah transaksi selesai, konsumen akan menilai kembali pengalaman yang mereka dapatkan. Apakah produknya sesuai? Bagaimana pelayanannya? Apakah proses pembeliannya mudah? Bagaimana ketika ada masalah dengan pesanan?
Hal-hal seperti ini sering kali tidak terlihat dalam angka penjualan pada hari itu. Namun, pengalaman tersebut dapat memengaruhi keputusan konsumen ketika mereka membutuhkan produk yang sama di kemudian hari.
Di sinilah bisnis perlu melihat hubungan dengan konsumen secara lebih panjang. Penjualan pertama memang penting, tetapi pembelian ulang juga menjadi bagian dari keberlangsungan sebuah usaha.
Pelanggan Tidak Selalu Mencari Harga Termurah
Persaingan bisnis sering kali membuat harga menjadi senjata utama. Potongan harga dan berbagai promosi memang dapat menarik perhatian konsumen. Namun, mempertahankan pelanggan hanya dengan mengandalkan diskon tentu memiliki keterbatasan.
Konsumen bisa saja datang karena harga murah, tetapi belum tentu kembali ketika menemukan harga yang lebih murah di tempat lain.
Karena itu, ada hal lain yang perlu diperhatikan, seperti kualitas produk, pelayanan, kemudahan transaksi, serta bagaimana bisnis menangani keluhan pelanggan.
Misalnya, seorang konsumen membeli produk melalui marketplace. Barang yang diterima sesuai pesanan dan kualitasnya baik. Ketika beberapa minggu kemudian konsumen memiliki pertanyaan, penjual juga memberikan respons dengan cepat. Pengalaman sederhana seperti itu dapat membuat konsumen memiliki alasan untuk kembali ketika membutuhkan produk yang sama.
Artinya, hubungan dengan pelanggan tidak berhenti ketika pembayaran selesai.
Setelah Transaksi, Hubungan Justru Bisa Dimulai
Dalam manajemen pemasaran, mempertahankan pelanggan dikenal dengan istilah customer retention. Konsep ini pada dasarnya berkaitan dengan upaya bisnis agar konsumen tetap menggunakan atau membeli kembali produk maupun layanan yang ditawarkan.
Retensi tidak selalu harus dilakukan melalui program yang rumit. Bisnis kecil pun bisa memulainya dari hal sederhana.
Pelayanan yang cepat, informasi produk yang jelas, kemudahan ketika terjadi masalah, hingga komunikasi yang tidak berlebihan bisa menjadi bagian dari pengalaman pelanggan.
Bisnis juga dapat memanfaatkan data transaksi untuk memahami kebiasaan konsumennya. Misalnya, melihat produk apa yang paling sering dibeli, kapan pelanggan biasanya melakukan pembelian kembali, atau produk apa yang sering dibeli bersamaan.
Dari informasi tersebut, bisnis dapat membuat penawaran yang lebih sesuai. Konsumen tidak terus-menerus menerima promosi yang tidak berkaitan dengan kebutuhannya.
Pendekatan seperti ini menjadi semakin relevan ketika konsumen memiliki banyak pilihan. Bisnis tidak hanya perlu membuat orang tertarik untuk membeli, tetapi juga memberikan alasan agar mereka tidak mudah berpindah.
Tantangannya Adalah Membuat Konsumen Mau Kembali
Mempertahankan pelanggan memang penting, tetapi bukan berarti setiap konsumen harus dipaksa untuk terus membeli. Yang lebih penting adalah menciptakan pengalaman yang membuat konsumen merasa produk dan layanan yang diberikan memang layak untuk dipilih kembali.
Bagi pelaku usaha, hal tersebut berarti perlu melihat pelanggan bukan hanya sebagai angka penjualan. Di balik satu transaksi terdapat pengalaman yang dapat menentukan apakah hubungan tersebut berhenti pada pembelian pertama atau berlanjut ke transaksi berikutnya.
Pada akhirnya, persaingan bisnis tidak hanya terjadi ketika konsumen memilih produk. Persaingan juga terjadi setelah transaksi selesai.
Ketika pilihan semakin banyak, konsumen memiliki alasan yang semakin besar untuk berpindah. Karena itu, kemampuan bisnis dalam menjaga kualitas produk, memberikan pelayanan yang baik, memahami kebutuhan konsumen, dan membangun hubungan yang wajar dengan pelanggan menjadi bagian penting dari manajemen bisnis.
Mendapatkan pembeli mungkin menjadi awal dari sebuah transaksi. Namun, membuat mereka percaya dan bersedia kembali adalah tantangan yang berbeda.
