Konten dari Pengguna

Healing ala Gen Z: Antara Tren Konten Media Sosial dan Kesehatan Mental

Tamara Titania

Tamara Titania

Mahasiswa unand

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Tamara Titania tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dokumentasi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Dokumentasi Pribadi

Fenomena healing kini menjadi bagian dari gaya hidup Gen Z. Awalnya, istilah ini identik dengan proses memulihkan diri untuk menjaga kesehatan mental. Namun, seiring waktu, maknanya meluas dan sering dikaitkan dengan aktivitas rekreasi bernuansa estetik.

Media sosial berperan besar dalam membentuk tren ini. Di TikTok maupun Instagram, konten bertema healing dipenuhi pemandangan indah, suasana nyaman, hingga aktivitas santai yang terlihat menyenangkan. Tak jarang, tempat wisata atau kafe mendadak viral karena dianggap cocok sebagai lokasi healing yang “Instagramable”.

Bagi sebagian orang, healing bukan hanya untuk relaksasi, tetapi juga demi menghasilkan konten yang layak dibagikan. Foto atau video estetik kadang menjadi motivasi utama, bahkan melebihi tujuan awal untuk beristirahat dan menenangkan pikiran.

Di balik popularitasnya, tren ini menyimpan dilema. Di satu sisi, healing membantu mengurangi stres, memberikan suasana baru, dan mengisi kembali energi positif. Di sisi lain, jika motivasinya semata untuk memenuhi ekspektasi visual di media sosial, healing justru bisa menambah tekanan. Perasaan membandingkan diri dengan unggahan orang lain kerap membuat seseorang malah semakin cemas.

Gen Z juga dihadapkan pada tuntutan untuk selalu produktif. Waktu istirahat sering kali dipandang sebagai kemewahan atau memunculkan rasa bersalah. Akibatnya, healing yang seharusnya menjadi ruang jeda justru berubah menjadi “tugas” baru: mencari lokasi unik, mengatur estetika foto, hingga memastikan setiap momen terekam sempurna.

Untuk mengembalikan makna sejatinya, healing sebaiknya dilakukan sesuai kebutuhan pribadi. Menikmati momen tanpa terlalu fokus pada kamera, memilih aktivitas yang benar-benar menenangkan, dan mengurangi tekanan pencitraan di media sosial bisa membuat healing lebih bermakna.

Perlu diingat, healing tidak harus selalu berupa liburan jauh atau aktivitas mahal. Menghabiskan waktu di rumah, membaca buku, berkebun, atau sekadar berjalan santai di taman juga dapat menjadi cara efektif menjaga kesehatan mental. Yang terpenting adalah memberi ruang bagi diri sendiri, tanpa membandingkan prosesnya dengan orang lain.

Dengan begitu, healing dapat menjadi bagian dari gaya hidup sehat yang benar-benar membantu menjaga keseimbangan mental di tengah derasnya arus informasi dan tuntutan digital.