Kenapa Hanya Anak yang Durhaka?

Seorang penuh ingin tahu tentang keilmuan psikologi dan budaya.
Tulisan dari tambara boyak tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Keheningan yang selama ini telah dirasakan kemudian terusik dari teriakan seorang anak kecil yang meminta ampun berkali-kali. Tak ayalpun ku coba untuk memperhatikan asal suara anak kecil tersebut. Di ujung jendela terlihat seorang ibu memukul anak kandungnya berkali-kali dengan sebilah kayu panjang. Salah satu tangan Ibu tersebut memegang tangan dari si anak mencegahnya untuk melarikan diri, sementara tangan yang satunya tak henti-hentinya melayangkan pukulan keras ke sekujur tubuh anaknya. Teriakan ampun yang terlontar setiap kali bilah kayu itu mengenai tubuh mungilnya, tidak mampu meredam kemarahan sang ibu. Sontak seakan-akan waktu di sekitarku terhenti sejenak. Mataku nanar menyaksikan peristiwa itu.
Tubuhku bergetar kaget setiap kali si ibu melayangkan pukulan kerasnya ke tubuh si anak. Sang Ibu tak henti-hentinya menghujat si anak dengan kata Nakal, setiap kali si anak meminta ampun setiap kali pula si ibu memukulnya dengan ayunan yang jauh lebih keras. Kenapa Selalu Anak yang Durhaka?
Apakah Hak Orang Tua yang kemudian Melahirkan dan Mengasuh menjadi sebuah pembenaran kalau setiap kesalahan ataupun konflik yang terjadi dalam keluarga membuat si anak selalu menjadi yang durhaka??? Tanpa mengurangi rasa hormatku yang begitu mendalam kepada semua orang tua yang ada di jagad raya ini. Ada kejanggalan ketika terjadi konflik dalam rumah tangga, Si Anak yang selalu menjadi pelaku "Durhaka". Ada sebuah pemakluman dari sebagian besar masyarakat kalau pendiam itu adalah sabar dan aktif itu adalah nakal. Setiap kali terjadi perbedaan pendapat antara orang tua dan anak, kemudian si Anak pun akan selalu terbantahkan hanya dikarenakan Si orang Tua selalu merasa dirinya sudah sangat Ahli terkait asam garam dunia kehidupan, pernyataan ini bukan untuk menggugat orang tua, namun hanya sekadar ingin menjalin benang komunikasi yang selama ini terputus.
Seorang anak dilahirkan ke dunia ini dengan begitu banyak kelebihan yang dimilikinya. Ada yang ceria, ada yang pendiam, ada yang sederhana dan lain-lainnya. Sebuah kebersyukuran besar yang perlu dipanjatkan karena penciptaan manusia dengan berbeda untuk membuat dunia ini menjadi lebih indah dan seimbang.
Seorang anak adalah anugerah terindah dalam sebuah pernikahan. Tanggung jawab orang tualah yang harus mendidik dan memberikan warna bagi dirinya kelak. Namun, terkadang beberapa orang tua memaksakan si anak untuk dewasa sebelum waktunya. Bahkan seakan ingin mengubahnya menjadi robot orang tua. Terlalu over protective, sering juga terlalu memudahkan..
Saat pembicaraan orang tua melihat perkembangan anak yang menurut segala kemauan orang tua, melihat si anak kemudian jarang berbicara dan bersifat pasif, itupun segera diacungi jempol sebagai anak yang sabar. Disisi lain saat ada anak yang hiperaktif, ke mana-mana kerjaannya melompat dan berteriak, itupun segera ditandai sebagai anak yang nakal.
Seorang psikolog anak dari Jerman bernama Torey Hayden berkata bahwa terlalu banyak pemaparan kondisi psikologis anak yang sering dipuji sebagai anak sabar ternyata lebih cenderung memiliki sifat Psikopat. Entah apakah para orang tua pernah menyempatkan diri mereka untuk membaca sejarah nyata para pembesar dan orang-orang hebat di dunia ini, rata-rata mereka di cap nakal sewaktu kecil dan mereka adalah anak-anak yang berbeda dari kebanyakan anak-anak lain.
Terlalu mudah bagi sebagian orang tua untuk mencap anak sebagai nakal saat anak mulai memberontak. Pernahkah terpikir ketika orang tua mulai sering tidak jujur pada hal kecil kepada anak, si anak pun akan mulai belajar untuk menjadi pembohong. Atau saat orang tua sudah terlalu sering berkata-kata kasar kepada anak dengan semua larangan-larangan dan petuahnya, kemungkinan besar si anak akan belajar memaki.
Jadi sebenarnya sangat sederhana untuk memaknai kata Durhaka, sepenuhnya tidak berada pada sisi anak. Terkadang durhaka itu tanpa sengaja diciptakan sendiri oleh orang tua dengan proses didikan mereka terhadap anak.
