Konten dari Pengguna

Idul Fitri dan Revivalisme Politik Islam

Tamsil Linrung

Tamsil Linrungverified-green

Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI), Wakil Ketua Dewan Pertimbangan MUI, Pendiri Jaringan Sekolah Insan Cendekia Madani (ICM)

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Tamsil Linrung tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Oleh Tamsil Linrung, Senator DPD RI

(Disarikan dari Khutbah Idul Fitri di Insan Cendekia Madani, 13 Mei 2021)

dokumen pribadi
zoom-in-whitePerbesar
dokumen pribadi

Di bulan Syawal yang bening nan syahdu, gelombang manusia, tua, muda, laki-laki maupun perempuan berduyun-duyun menuju masjid dan lapangan terbuka untuk melaksanakan shalat Idul Fitri. Seruan takbir, tahmid dan tahlil mengagungkan nama Allah, mengangkasa sejak hilal Syawal terbit di cakra pandang, kemarin petang. Gema kemenangan seantero persada, menjadi deklarasi syukur kepada Allah SWT. Dilantunkan oleh 1,9 miliar umat Islam.

Enam hari yang lalu, tepatnya Jumat, 7 Mei 2021, kami menggagas sebuah pertemuan di kawasan Sekolah Insan Cendekia Madani (ICM) yang dihadiri sejumlah tokoh perekat bangsa, antara lain Ketua DPD RI La Nyalla Mattalitti, Mantan Panglima TNI Jenderal TNI (purn) Gatot Nurmantyo, ekonom senior Rizal Ramli, dan sejumlah tokoh bangsa lainnya.

Pertemuannya cukup sederhana, silaturahim dan buka puasa bersama. Tapi semangatnya Insya Allah jauh lebih besar dari itu. Pertama, secara eksternal, silaturahim kebangsaan ini diharapkan menjadi momentum pelopor pemersatu yang menggiring umat kembali bergandeng tangan, membangun tatanan kehidupan sosial dan politik yang lebih baik, rukun, sehat dan bermartabat.

Umat Islam perlu dan wajib bersatu, terlebih di masa-masa seperti ini, dimana Islam dan umat Islam seringkali didiskreditkan dalam banyak hal. Dilabeli dengan berbagai stigma. Namun kita percaya, cahaya agama Allah SW tidak akan pernah padam. Islam akan terus menyinari di setiap sudut bumi dan semesta dimana matahari terbit.

Sebagai hamba, kita dituntun berikhtiar. Untuk menghalau berbagai upaya meredam kebangkitan Islam. Harus ada pemantik secara kolektif. Amal jama’i dan gerakan bersama. Sekolah Insan Cendekia Madani, sesuai nama, visi, dan misinya, senantiasa mencoba berkiprah ke arah itu, setapak demi setapak meniti jalan bakti terbentuknya masyarakat madani, Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur.

Kedua, dari sisi internal, kami ingin agar lembaga pendidikan Islam punya peran signifikan bagi pembangunan bangsa, selain tetap menjaga fungsinya mencerdaskan kehidupan bangsa dan menyiapkan calon pemimpin masa depan dari generasi muda Islam yang unggul, beriman dan berilmu pengetahuan.

Untuk itu, kesadaran politik generasi muda harus dibangun sejak dini. Mereka adalah calon pemimpin masa depan yang diharapkan membawa Indonesia menjadi negeri yang makmur, sejahtera, dan diridhai Allah SWT. Itu pula alasan pertemuan para tokoh pemersatu bangsa di atas kami adakan di sekolah ini, yakni sebagai sarana bagi generasi muda Islam mengintip dan memahami realitas dan dinamika politik tanah air dalam porsi yang sepantasnya.

Tidak akan tegak Islam tanpa jamaah, dan tidak akan tegak suatu jamaah tanpa pemimpin. Namun seorang pemimpin akan menimbulkan lebih banyak mudharat bila dia tidak memiliki ketaatan.

Oleh karena itu, penting bagi kita, para pendidik dan orang tua bekerjasama menyiapkan generasi yang unggul dalam iman dan ilmu pengetahuan. Sebab hanya dengan perpaduan dua hal inilah Allah SWT akan mengangkat kita, kaum muslimin, muslimat, dan martabat Indonesia secara umum.

Allah SWT berfirman dalam QS Al-Mujadilah ayat 11: "...Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat..."

Jadi, iman dan ilmu pengetahuan adalah satu paket. Fisikawan Albert Einstein mengatakan, Ilmu tanpa agama adalah buta, dan agama tanpa ilmu adalah lumpuh.

Meski tidak secara langsung berbicara dalam konteks kepemimpinan, namun ayat di atas menyiratkan pentingnya ilmu pengetahuan dan iman sebagai kesatuan utuh dan komprehensif dalam menyiapkan generasi calon pemimpin masa depan. Sekaligus, juga menyiratkan kepada kita untuk memilih pemimpin yang memiliki iman dan ilmu pengetahuan. Pemimpin yang kompeten mewujudkan keadilan.

Lalu, siapakah pemimpin yang adil itu? Pemimpin yang adil tidak lain adalah pemimpin yang dibekali iman dan ilmu pengetahuan yang baik sehingga dapat mengoptimalisasi amanah yang diembannya.

Dengan kedua bekal itu, pemimpin yang adil dan amanah tidak akan membiarkan kesenjangan semakin melebar, tidak membiarkan satu orang menguasai berjuta-juta hektar tanah, sementara ratusan juta rakyat lainnya tidak memiliki akses memadai terhadap sumber daya alam negerinya sendiri.

Pemimpin yang adil dan amanah akan berusaha mengatasi kesenjangan sosial, sehingga seluruh sumber daya negara dapat diakses oleh rakyat secara berkeadilan, bukannya menumpuk pada segelintir orang saja. Kebun sawit tidak akan dimonopoli hanya segelintir orang, begitu pula dengan pertambangan, properti, real estate, dan seterusnya.

Pemimpin yang adil dan amanah tidak akan membiarkan monopoli mengcengkeram negerinya, sebab hal tersebut bertentangan dengan agama.

Allah SWT memberi petunjuk-Nya melalui QS Al-Hasyr ayat 7: “…..Supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya”.

Pemimpin yang adil dan amanah tidak akan membiarkan hukum terkoyak ketidakadilan. Pun tidak akan melemahkan lembaga penegak hukum, yang berarti memberi ruang kepada para koruptor mengambil hak-hak rakyat secara dzalim.

Pemimpin yang adil dan amanah, satu kata dan perbuatan. Bila ia berjanji, maka ia menepati janjinya. Bila bertutur, kata-katanya sesuai dengan kenyataan, bukan omong kosong politik atau janji manis belaka.

Mencetak pemimpin yang beritegritas dan punya kompetensi mumpuni, memang bukan perkara remeh dan singkat. Tetapi juga tidak sulit-sulit amat. Negeri ini hanya perlu membuka keran yang luas bagi munculnya figur-figur alternatif. Hal itu membutuhkan upaya kita bersama.

Rakyat akan susah memilih figur terbaik bila yang ditampilkan yang itu-itu saja. Paling banter yang bisa rakyat lakukan adalah ikhtiar memilih yang terbaik dari "menu sederhana" yang jangan-jangan sudah basi, namun disuguhkan dalam setiap sajian pemilihan kepemimpinan.

(Bersambung ke bagian Ke II)