Konten dari Pengguna

Ketahanan Pangan Tak Cukup dari Sawah

Nofi Yendri Sudiar

Nofi Yendri Sudiar

Pemerhati Cuaca, Iklim dan Dosen Fisika Universitas Negeri Padang Peneliti Pusat Riset Perubahan iklim UNP

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nofi Yendri Sudiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber gambar: Generate AI
zoom-in-whitePerbesar
Sumber gambar: Generate AI

Setiap kali isu pangan mencuat, solusi yang ditawarkan hampir selalu sama: tingkatkan produksi. Tambah lahan, perbaiki irigasi, optimalkan pupuk. Seolah-olah persoalannya hanya soal jumlah.

Padahal, di era perubahan iklim, masalahnya jauh lebih kompleks.

Cuaca yang makin tidak menentu membuat musim tanam sulit diprediksi. Risiko gagal panen meningkat. Produksi bisa saja naik di satu waktu, tapi anjlok di waktu lain. Ketahanan pangan, dengan demikian, tidak lagi bisa diukur dari seberapa banyak yang dihasilkan, tetapi dari seberapa tahan sistem itu menghadapi guncangan.

Ironisnya, cara berpikir kita masih tertinggal.

Pertanian tetap diposisikan sebagai sektor produksi semata. Sementara sektor lain, seperti pariwisata, berjalan di jalurnya sendiri—sering kali tanpa keterkaitan dengan sistem pangan atau lingkungan. Akibatnya, peluang untuk membangun ekonomi lokal yang lebih tangguh justru terlewatkan.

Diskusi dengan Eneng Fathonah dari GIZ baru-baru ini membuka satu perspektif yang menarik: bagaimana jika ketahanan pangan tidak hanya dibangun dari sawah, tetapi juga dari cara kita mengelola lanskap dan ekonomi lokal secara terintegrasi?

Di sinilah ide yang selama ini jarang dilirik muncul—menghubungkan pertanian dengan pariwisata.

Sekilas terdengar tidak nyambung. Tapi justru di situlah letak terobosannya.

Selama ini, pariwisata di banyak daerah berkembang dengan pola cepat: menjual pemandangan, membangun spot foto, mengejar jumlah pengunjung. Sementara itu, pertanian dibiarkan menghadapi tekanan iklim dan pasar sendirian. Keduanya tumbuh tanpa arah bersama.

Padahal, jika disatukan dengan pendekatan yang tepat, pertanian bisa menjadi fondasi baru bagi pariwisata yang lebih berkelanjutan.

Bayangkan sebuah desa yang sistem pertaniannya sudah beradaptasi dengan perubahan iklim—mulai dari pola tanam yang fleksibel, diversifikasi komoditas, hingga pengelolaan air yang lebih cerdas. Lanskap ini kemudian tidak hanya berfungsi sebagai ruang produksi, tetapi juga sebagai ruang belajar.

Pengunjung tidak datang sekadar untuk berfoto, tetapi untuk memahami bagaimana petani bertahan di tengah perubahan iklim. Ada wisata panen, jalur edukasi, hingga pusat informasi sederhana berbasis data lokal.

Ini bukan sekadar inovasi. Ini strategi.

Dengan cara ini, petani tidak lagi hanya menjual hasil panen, tetapi juga pengalaman dan pengetahuan. Nilai ekonomi meningkat tanpa harus mengubah karakter lokal. Di saat yang sama, masyarakat menjadi lebih sadar terhadap perubahan iklim karena mereka melihat dan merasakannya langsung.

Pendekatan seperti ini juga bisa menjadi jawaban atas kelemahan klasik implementasi pembangunan berkelanjutan: terlalu banyak konsep, terlalu sedikit praktik. Selama ini, banyak program berhenti di dokumen dan laporan. Padahal, yang dibutuhkan adalah model nyata yang bisa dilihat, dipelajari, dan direplikasi.

Tentu, ini bukan tanpa tantangan. Cara kerja pemerintah yang masih sektoral menjadi hambatan utama. Pertanian dan pariwisata dikelola oleh dinas yang berbeda, dengan logika yang berbeda pula. Tanpa keberanian untuk menyatukan keduanya, ide ini akan sulit berjalan.

Selain itu, kapasitas masyarakat lokal juga harus diperkuat. Desa tidak bisa hanya menjadi objek program, tetapi harus menjadi pelaku utama. Kelembagaan ekonomi lokal, seperti BUMDes atau BUMNag, perlu didorong untuk mengambil peran lebih besar.

Namun, jika berhasil, dampaknya tidak kecil.

Kita tidak hanya membangun ketahanan pangan, tetapi juga menciptakan sumber ekonomi baru. Kita tidak hanya beradaptasi dengan perubahan iklim, tetapi juga menjadikannya sebagai peluang untuk berinovasi.

Di tengah krisis iklim, cara lama jelas tidak cukup. Kita tidak bisa terus mengandalkan peningkatan produksi tanpa memperkuat sistemnya. Yang dibutuhkan adalah cara berpikir baru—yang melihat pertanian bukan sebagai sektor yang berdiri sendiri, tetapi sebagai bagian dari ekosistem ekonomi yang lebih luas.

Ketahanan pangan tidak cukup dibangun dari sawah.

Ia harus dibangun dari cara kita menghubungkan sawah dengan masa depan.