Konten dari Pengguna

Mengapa Siswa Tak Lagi Memilih Jurusan Fisika?

Nofi Yendri Sudiar

Nofi Yendri Sudiar

Pemerhati Cuaca, Iklim dan Dosen Fisika Universitas Negeri Padang Peneliti Pusat Riset Perubahan iklim UNP

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nofi Yendri Sudiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi mahasiswa ujian. Foto: exam student/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi mahasiswa ujian. Foto: exam student/Shutterstock

Minat siswa terhadap jurusan Fisika di perguruan tinggi semakin merosot. Di banyak kampus, termasuk Universitas Negeri Padang (UNP), tren ini bukan lagi sekadar kekhawatiran, melainkan kenyataan. Mahasiswa baru jurusan Fisika terus berkurang dari tahun ke tahun. Pertanyaannya, mengapa?

Untuk menjawab itu, kami melakukan survei terhadap 1.074 siswa kelas XI dan XII dari berbagai SMA di Sumatera Barat, Riau, Jambi, dan Kepulauan Riau. Survei dilakukan secara acak pada 3–10 Juni 2025, dengan tingkat kepercayaan 95 persen dan margin of error 3 persen. Hasilnya cukup mengkhawatirkan. Fisika tidak lagi dianggap menarik oleh sebagian besar siswa. Mereka menganggap Fisika sebagai mata pelajaran yang sulit, penuh rumus, membingungkan,

Gambar merupakan milik sendiri.

Selain itu, banyak siswa tidak tahu prospek kerja lulusan Fisika, atau bahkan merasa jurusan ini tidak menawarkan masa depan yang cerah.

Kondisi ini semakin diperparah oleh implementasi Kurikulum Merdeka yang, sejak 2022, menempatkan mata pelajaran Fisika (juga Biologi dan Kimia) sebagai mata pelajaran pilihan bagi siswa kelas XI dan XII. Artinya, Fisika tidak lagi menjadi pelajaran wajib bagi semua siswa jurusan IPA. Siswa boleh memilih untuk tidak mengambil Fisika sama sekali dan beralih ke mata pelajaran lain yang mereka anggap lebih mudah atau relevan. Dalam praktiknya, banyak siswa memilih untuk “meninggalkan” Fisika, karena merasa tidak akan mengambil jurusan sains di perguruan tinggi.

Dalam konteks ini, Kurikulum Merdeka memang memberi kebebasan pada siswa. Namun tanpa panduan yang kuat dan pemahaman akan pentingnya literasi sains, kebebasan itu bisa menjadi jebakan jangka panjang khususnya bagi masa depan pendidikan sains dan teknologi di Indonesia.

Yang menarik, para siswa dalam survei kami tidak serta-merta menolak Fisika. Mereka hanya ingin pendekatannya diubah. Saran-saran yang mereka berikan cukup jelas: lebih banyak praktik dan eksperimen sederhana, pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan, pembelajaran di luar kelas, serta pengenalan prospek karier yang lebih nyata dan komunikatif. Bahkan ada siswa yang meminta agar kampus membuat video promosi yang lebih menarik dan mudah dipahami.

Dengan kata lain, masalahnya bukan pada Fisika sebagai ilmu, tetapi pada cara kita mengemas dan menyampaikannya. Dalam dunia yang kian visual dan kontekstual ini, generasi muda lebih mudah terhubung dengan sesuatu yang praktis, nyata, dan menyenangkan. Ketika Fisika diajarkan sebagai kumpulan rumus tanpa makna, maka wajar jika siswa menjauh.

Belakangan, angin perubahan mulai berembus. Menteri Pendidikan yang baru, seiring dengan evaluasi atas Kurikulum Merdeka, mengumumkan rencana mengembalikan sistem peminatan IPA, IPS, dan Bahasa di jenjang SMA. Kebijakan ini tentu mengundang pro dan kontra. Namun jika diterapkan dengan baik, pengembalian peminatan bisa menjadi peluang untuk menyelamatkan eksistensi pelajaran seperti Fisika.

Sistem peminatan memberi ruang bagi pendalaman materi dan struktur pembelajaran yang lebih terarah. Fisika kembali menjadi bagian inti dari jurusan IPA. Ini bisa mendorong siswa untuk lebih memahami pentingnya Fisika sebagai fondasi teknologi, inovasi, dan pemikiran ilmiah. Namun, sistem ini juga harus dibarengi dengan upaya serius dari sekolah dan perguruan tinggi untuk membuat Fisika terasa lebih hidup, relevan, dan terhubung dengan masa depan.

Pendidikan Fisika tak bisa lagi bertumpu pada ceramah satu arah dan latihan soal yang membosankan. Kurikulum, metode ajar, dan cara promosi jurusan harus berubah. Guru perlu diberi pelatihan agar mampu mengaitkan Fisika dengan persoalan riil di masyarakat, mulai dari energi, transportasi, cuaca ekstrem, hingga teknologi digital. Di tingkat perguruan tinggi, jurusan Fisika perlu lebih aktif menunjukkan bahwa lulusan mereka bisa bekerja di berbagai bidang strategis dari data science, sektor energi, keuangan, hingga industri teknologi dan pendidikan.

Pada akhirnya, kita tidak sedang menghadapi krisis dalam Fisika itu sendiri, melainkan krisis cara kita mengenalkannya. Sains tidak boleh hanya menjadi pengetahuan di atas kertas. Ia harus hadir sebagai alat memahami dunia dan membentuk masa depan. Jika kita ingin Jurusan Fisika kembali diminati, maka kita harus mampu menjawab satu pertanyaan sederhana yang diajukan siswa hari ini: “Untuk apa saya belajar Fisika?”

Jika kita gagal menjawabnya, maka kita akan terus kehilangan generasi muda yang seharusnya menjadi ilmuwan, inovator, dan pemimpin teknologi masa depan.