Guru Zaman Sekarang: Pendidik atau Content Creator?

Mahasiswa Universitas Jakarta, Pendidikan Sosiologi
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Tanaya Dhia Rizqina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dulu, ketika membayangkan seorang guru, mungkin yang terlintas adalah sosok yang berdiri di depan kelas dengan papan tulis dan buku pelajaran. Sekarang, kita bisa menemukan guru di tempat yang berbeda: di layar TikTok. Ada yang membuat video edukasi, membagikan tips belajar, sampai melakukan live untuk mengajar dan berinteraksi dengan penonton.
Fenomena ini menunjukkan bahwa perkembangan teknologi ikut mengubah cara guru berinteraksi dengan peserta didik. Salah satu contohnya adalah Melan Achmad atau “Mbah Guru Matematika” yang mengajar matematika melalui TikTok Live di usia 79 tahun. Kehadiran guru di media sosial kemudian memunculkan pertanyaan yang menarik: apakah guru sekarang memang dituntut untuk masuk ke dunia digital, atau menjadi content creator sebenarnya hanya pilihan pribadi?
Ketika Ruang kelas Berpindah ke Layar
Perubahan tersebut tidak bisa dilepaskan dari kehidupan peserta didik yang semakin dekat dengan teknologi. Informasi dan pengetahuan kini bisa ditemukan melalui berbagai platform digital, sehingga proses belajar tidak lagi hanya berlangsung ketika guru menjelaskan materi di dalam kelas. Pemerintah pun terus mendorong peningkatan kompetensi digital guru, termasuk melalui pelatihan terkait pembelajaran, coding, dan kecerdasan artifisial.
Namun, melek teknologi tidak sama dengan harus menjadi content creator. Guru memang perlu mampu memanfaatkan teknologi yang relevan dengan pembelajaran, tetapi bukan berarti setiap guru harus memiliki akun TikTok yang aktif, membuat konten setiap hari, atau melakukan live streaming. Media sosial hanyalah salah satu pilihan dari banyak teknologi yang dapat digunakan dalam pendidikan.
Tuntutan Profesi atau Pilihan Pribadi?
Ketika melihat guru yang aktif di TikTok, mudah untuk menganggap bahwa mereka sedang mengikuti tuntutan zaman. Padahal, alasan setiap guru bisa berbeda. Ada yang menggunakan media sosial untuk menjelaskan materi, berbagi pengetahuan, membangun komunitas belajar, hingga memperluas jangkauan pembelajaran. Ada pula yang memanfaatkannya untuk personal branding atau penghasilan tambahan.
Di sinilah fenomena tersebut menjadi menarik jika dilihat secara sosiologis. Seorang guru memiliki peran sebagai pendidik dengan berbagai harapan dari masyarakat. Seiring perkembangan teknologi, ekspektasi tersebut ikut melebar: guru diharapkan kreatif, adaptif, dan mampu menggunakan teknologi. Tetapi, apakah tuntutan tersebut kemudian berarti guru harus mampu membuat konten dan tampil di depan kamera? Belum tentu.
Saat Guru Bertemu dengan Peran Content Creator
Ketika guru mulai membuat konten atau melakukan live, sebenarnya muncul pertemuan antara dua peran: guru sebagai pendidik dan content creator sebagai pembuat konten. Keduanya bisa berjalan bersamaan. Guru tetap menjelaskan materi, tetapi di saat yang sama harus memikirkan bagaimana materi tersebut dikemas agar menarik bagi penonton.
Perbedaannya, ruang kelas memiliki tujuan utama pembelajaran, sedangkan media sosial juga memiliki logikanya sendiri. Ada views, likes, komentar, tren, dan algoritma yang ikut menentukan apakah sebuah konten mendapat perhatian. Akibatnya, guru yang masuk ke media sosial berhadapan dengan tuntutan baru: bukan hanya bagaimana materi dipahami siswa, tetapi juga bagaimana materi tersebut bisa menarik perhatian audiens.
Hal ini kemudian membuat batas antara peran guru dan content creator menjadi semakin menarik untuk dibicarakan. Apakah guru sedang menggunakan media sosial sebagai alat pendidikan, atau justru mulai mengikuti aturan main media sosial itu sendiri?
Guru Tidak Harus Viral
Media sosial memang membuka kesempatan bagi guru untuk menjangkau lebih banyak orang. Guru yang sebelumnya hanya dikenal oleh siswa di satu kelas kini dapat membagikan pengetahuannya kepada ribuan bahkan jutaan pengguna. Dalam konteks ini, media sosial bisa menjadi ruang baru untuk belajar dan berbagi pengetahuan. Pemerintah sendiri juga mendorong pemanfaatan media sosial secara positif dalam penguatan literasi digital dan pembelajaran.
Tetapi, menjadi guru yang relevan di era digital seharusnya tidak diukur dari seberapa banyak pengikut atau seberapa sering seseorang muncul di TikTok. Guru tidak harus viral untuk menjadi pendidik yang baik. Teknologi seharusnya menjadi alat yang membantu guru menjalankan perannya, bukan standar baru yang membuat semua guru merasa harus menjadi content creator.
Pada akhirnya, mungkin persoalannya bukan tentang guru harus memilih menjadi pendidik atau content creator. Di era digital, keduanya bisa saja berjalan berdampingan. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana ketika guru masuk ke ruang digital, peran utamanya sebagai pendidik tetap tidak kehilangan makna.
