Konten dari Pengguna

Layar Kecil, Luka yang Nyata: Cyberbullying di Balik Dunia Sekolah

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Tanaya Dhia Rizqina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Remaja laki-laki duduk di tangga, menutupi wajahnya dengan tangan (Sumber: iStock)
zoom-in-whitePerbesar
Remaja laki-laki duduk di tangga, menutupi wajahnya dengan tangan (Sumber: iStock)

Dulu, rasanya rumah adalah tempat paling aman buat anak-anak sekolah pulang dari hari yang berat. Sekarang, ponsel ikut masuk ke kamar, dan bersamanya, masalah dari sekolah pun ikut masuk. Bullying tidak berhenti begitu lonceng pulang berbunyi. Ia berpindah bentuk, dari ejekan di koridor sekolah menjadi komentar jahat di kolom DM, story yang menyindir tanpa nama tapi semua orang tahu maksudnya, atau grup chat yang sengaja menyingkirkan satu nama. Fenomena inilah yang sering disebut cyberbullying, dan dampaknya ternyata jauh lebih dalam daripada yang kelihatan di permukaan layar.

Ketika Bullying Tidak Lagi Mengenal Jam Sekolah

Secara sosiologis, bullying konvensional dan cyberbullying punya logika yang sama: ada relasi kuasa yang tidak setara, di mana satu pihak menyerang dan pihak lain kesulitan membela diri. Bedanya, versi digital ini tidak mengenal batas ruang dan waktu. Penelitian yang membandingkan dampak psikologis dari dua bentuk perundungan ini menemukan bahwa cyberbullying justru bisa memberi dampak psikologis yang lebih lama dibanding bullying konvensional, karena sifatnya yang dapat terus berlangsung tanpa henti.

Itu masuk akal kalau dipikir-pikir. Bullying di sekolah biasanya berhenti begitu anak itu pulang ke rumah. Sementara komentar jahat di media sosial bisa terus dilihat, di-screenshot, disebar ulang, bahkan muncul lagi bertahun-tahun kemudian. Korban jadi tidak punya “zona aman” yang benar-benar aman.

Angka yang Bikin Resah

Kalau masih ada yang menganggap ini bukan masalah besar, datanya justru menunjukkan sebaliknya. Riset di salah satu SMA Nusa Tenggara Barat mencatat bahwa hampir separuh remaja yang disurvei, sekitar 45 persen, mengaku pernah mengalami cyberbullying. Dalam skala nasional, laporan SAFEnet pada triwulan pertama 2024 mencatat lonjakan kasus perundungan siber lebih dari 100 persen dibanding tahun sebelumnya, menjadi 480 kasus, dengan media sosial yang masif di kalangan pelajar disebut sebagai salah satu pemicunya.

Yang lebih meresahkan, tren ini bukan cuma soal Indonesia. UNICEF mencatat bahwa satu dari enam anak di dunia pernah mengalami perundungan digital, dan sepertiga anak muda di 32 negara melaporkan pengalaman serupa. Kepala Perwakilan UNICEF Indonesia bahkan menegaskan bahwa ini bukan fenomena sporadis, melainkan tren global yang patut diwaspadai.

Mengapa Anonimitas Membuat Semuanya Lebih Berbahaya

Salah satu alasan cyberbullying terasa lebih ganas adalah faktor anonimitas. Di dunia nyata, pelaku bullying biasanya dikenali wajahnya. Di dunia maya, akun anonim atau akun palsu membuat pelaku merasa “aman” dari konsekuensi sosial langsung. Rasa tanggung jawab moral jadi melemah ketika seseorang merasa tidak akan tertangkap atau dikenali.

Dari sisi hukum, hal ini juga jadi tantangan tersendiri. Kajian hukum tentang cyberbullying di kalangan pelajar menyoroti bahwa penerapan regulasi seperti UU Perlindungan Anak dan UU ITE masih menghadapi kendala besar, terutama soal anonimitas pelaku dan bukti digital yang cepat hilang. Ketika hukum saja kesulitan mengejar kecepatan dunia digital, bisa dibayangkan betapa rentannya posisi korban remaja yang belum tentu paham harus melapor ke mana.

Dampak yang Dibawa Pulang ke Rumah

Cyberbullying bukan cuma soal kata-kata kasar di layar. Sejumlah studi mengaitkannya dengan penurunan prestasi akademik, meningkatnya gangguan kecemasan, hingga keinginan untuk menarik diri dari lingkungan sosial. Pada kasus yang lebih berat, dampaknya bisa meluas ke trauma psikologis, depresi, bahkan risiko menyakiti diri sendiri.

Hal ini sejalan dengan teori sosiologi tentang bagaimana identitas remaja sangat dipengaruhi oleh validasi sosial dari teman sebaya. Pada usia sekolah, pengakuan dan penerimaan dari teman sebaya adalah salah satu kebutuhan psikososial yang paling besar. Ketika ruang itu, yang seharusnya jadi tempat membangun rasa percaya diri, justru berubah menjadi sumber penghinaan yang terus-menerus, dampaknya pada kesehatan mental jadi jauh lebih dalam dibanding sekadar “diledek teman.”

Antara Korban, Pelaku, dan Penonton yang Diam

Satu hal yang sering dilupakan dalam diskusi soal bullying adalah peran bystander, yaitu orang-orang yang menyaksikan tapi memilih diam. Di dunia digital, jumlah “penonton” ini jauh lebih besar lagi: orang yang me-like komentar julid, yang ikut nge-share screenshot, atau sekadar membaca tanpa melapor. Tanpa sadar, diam dan ikut menonton pun menjadi bagian dari sistem yang membiarkan perundungan terus berlangsung.

Penelitian tentang perundungan siber di kalangan pengurus OSIS pun menemukan pola yang serupa, di mana lebih dari separuh responden melaporkan pernah terlibat, baik sebagai korban, pelaku, atau saksi, dalam interaksi digital yang mengarah pada cyberbullying. Ini menunjukkan bahwa fenomena ini tidak terbatas pada “anak-anak bermasalah” saja, tapi bisa menyentuh siapa pun, termasuk siswa yang dianggap aktif dan berprestasi di organisasi sekolah.

Lalu, Apa yang Bisa Dilakukan?

Tidak ada solusi tunggal untuk masalah yang sudah berakar sedalam ini, tapi beberapa langkah kecil bisa membantu meredam dampaknya. Sekolah perlu punya kebijakan yang jelas soal penanganan perundungan digital, bukan cuma aturan di atas kertas. Orang tua perlu membangun komunikasi terbuka, agar anak tidak merasa sendirian saat menghadapi tekanan dari layar ponselnya sendiri. Dan yang paling penting, literasi digital harus diajarkan sejak dini, bukan sekadar cara memakai aplikasi, tapi juga cara berempati dan bertanggung jawab atas apa yang diketik dan dibagikan.

Sebab pada akhirnya, ruang digital bukan dunia paralel yang terpisah dari kehidupan nyata. Apa yang terjadi di sana ikut menentukan bagaimana seorang anak merasa tentang dirinya sendiri ketika ia menutup gadget dan duduk lagi di kelas keesokan harinya.