Konten dari Pengguna

Harapan Baru di Tengah Jejak Abrasi Taman Senja Bersama Lembaran Kisah 2026

Tanaya Kenyo

Tanaya Kenyo

Mahasiswa S1 Pariwisata UGM 2023

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Tanaya Kenyo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dahulu, Taman Senja bukanlah tempat yang asing bagi masyarakat Dusun Puyahan. Setiap sore, kawasan ini ramai oleh pengunjung yang datang untuk menikmati suasana pantai, mencicipi jajanan UMKM, atau sekadar menghabiskan waktu bersama keluarga dan teman. Tawa anak-anak, aktivitas para pedagang, dan keramaian wisatawan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di tempat ini.

Gambar: Irham Zulkarnaen, 2021 (Kondisi Taman Senja 2021).
zoom-in-whitePerbesar
Gambar: Irham Zulkarnaen, 2021 (Kondisi Taman Senja 2021).

Namun, waktu tidak selalu berjalan sesuai harapan. Abrasi yang terus menggerus kawasan pesisir perlahan mengubah wajah Taman Senja. Area yang dahulu menjadi ruang berkumpul masyarakat mengalami kerusakan. Aktivitas wisata menurun, jumlah pengunjung berkurang, dan denyut ekonomi yang sempat tumbuh mulai melemah. Bagi sebagian orang, Taman Senja mungkin hanya sebuah destinasi yang kehilangan pamornya. Namun bagi masyarakat setempat, tempat ini menyimpan kenangan, harapan, dan sumber penghidupan yang tidak mudah untuk ditinggalkan.

Gambar: Tanaya Kenyo, 2026 (Kondisi Taman Senja Saat Ini).

Kini, harapan itu mulai tumbuh kembali.

Melalui program Kuliah Kerja Nyata - Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM), mahasiswa Universitas Gadjah Mada bersama masyarakat setempat berupaya menyusun langkah revitalisasi Taman Senja. Revitalisasi ini bukan sekadar memperbaiki fasilitas fisik atau mempercantik kawasan. Lebih dari itu, upaya ini bertujuan menghidupkan kembali fungsi Taman Senja sebagai ruang publik, pusat aktivitas masyarakat, dan daya tarik wisata yang mampu memberikan manfaat ekonomi bagi warga sekitar.

Dalam prosesnya, masyarakat tidak ditempatkan sebagai penerima manfaat semata, melainkan sebagai aktor utama yang memahami kebutuhan dan potensi wilayahnya sendiri. Berbagai gagasan dikembangkan untuk menciptakan kawasan yang lebih nyaman, aman, dan menarik bagi pengunjung, sekaligus tetap mempertahankan identitas lokal yang telah lama melekat pada Taman Senja.

Gambar: Tanaya Kenyo, 2026 (Penyerahan Dokumen Laporan Perencanaan Taman Senja).

Di balik rencana tersebut tersimpan keyakinan sederhana bahwa pariwisata terbaik adalah pariwisata yang tumbuh bersama masyarakat. Keberhasilan sebuah destinasi tidak hanya diukur dari banyaknya wisatawan yang datang, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang dapat dirasakan oleh warga yang hidup di sekitarnya. Karena itu, revitalisasi Taman Senja bukan hanya tentang membangun kembali sebuah kawasan wisata, melainkan juga tentang menghidupkan kembali harapan yang sempat terkikis oleh abrasi.

Suatu hari nanti, ketika pengunjung kembali menikmati langit senja yang berwarna jingga di tempat ini, mereka mungkin hanya melihat sebuah taman yang indah dan ramai. Namun di balik pemandangan tersebut terdapat cerita tentang ketangguhan masyarakat yang memilih untuk bangkit, serta kolaborasi yang membuktikan bahwa sebuah ruang yang pernah terluka masih memiliki kesempatan untuk hidup kembali.

Taman Senja bukan sekadar destinasi wisata. Ia adalah simbol bahwa harapan, seperti matahari yang terbenam setiap sore, selalu memiliki kesempatan untuk muncul kembali di hari berikutnya.