Konten dari Pengguna

KH Hasyim ‘Asyari, Sang Guru Sejati Tebuireng

Tania Rizki

Tania Rizki

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Tania Rizki tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

KH Hasyim Asy’ari lahir dengan nama lengkap Muhammad Hasyim Asy’ari ibn ‘Abd Al-Wahid ibn ‘Abd Al-Halim (mempunyai gelar Pangeran Bona) ibn ‘Abd Al-Rahman (dikenal dengan Jaka Tingkir Sultan Hadiwijaya) Ibn ‘Abd Allah ibn ‘Abd Al-‘Aziz ibn ‘Abd Al-Fatih ibn Maulana Ishaq dari Raden ‘Ain Al-Yaqin (yang disebut Sunan Giri). Beliau lahir di Gedang, desa di daerah Jombang, Jawa Timur, hari Selasa Kliwon 24 Dzu Al-Qa’idah 1287 H. Bertepatan dengan tanggal 14 Februari 1871. KH. Hasyim Asy’ari wafat pada jam 03.45 Dinihari tanggal 25 Juli 1947 bertepatan dengan 7 Ramdhan tahun 1366 H dalam usia 79 tahun. (Lihat buku Intelektualisme Pesantren, Seri 2: 2003, hlm. 319).

Di awali dari mendirikan organisasi Nahdlatul Ulama (NU), bersama dengan ulama besar di Jawa lainnya, KH. Abdul Wahab dan KH Bishri Syansuri. Mbah Hasyim memulai kiprahnya dalam aktifitas gerakan sosial-keagamaan. Bahkan beberapa pandangan mengatakan, getolnya seorang yang biasa dipanggil Mbah Hasyim ini melawan dominasi penjajah di era kolonial Belanda dan Jepang, beliauseringkali terjebak dengan maslah-masalah sosial-politik.

Akan tetapi, bagi beliau hal tersebut lumrah dan beliau melakoninya tanpa menyerah, dengan tujuan agar Indonesia terbebas dari penjajahan kolonial yang mengusik kedamaian bangsa.

Waktu itu tahun 1889, setelah ia pulang dari pengembaraannya menuntut ilmu di berbagai pondok pesantren terkemuka dan di tanah Mekkah, ia mendirikan pesantren untuk mengamalkan ilmu yang telah diperolehnya di Tebuireng. Tebuireng dahulunya merupakan nama dari sebuah dusun kecil yang masuk wilayah Cukir, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Letaknya delapan kilometer di selatan kota Jombang, tepat berada di tepi jalan raya Jombang – Kediri. Menurut cerita masyarakat setempat, nama Tebuireng berasal dari “kebo ireng” (kerbau hitam). Versi lain menuturkan bahwa nama Tebuireng diambil dari nama punggawa kerajaan Majapahit yang masuk Islam dan kemudian tinggal di sekitar dusun tersebut. (nu.or.id)

Dusun Tebuireng sempat dikenal sebagai sarang perjudian, perampokan, pencurian, pelacuran dan perilaku negatif lainnya. Namun sejak kedatangan K.H. Hasyim Asy’ari dan santri-santrinya, secara bertahap pola kehidupan masyarakat dusun tersebut berubah semakin baik dan perilaku negatif masyarakat di Tebuireng pun terkikis habis. Awal mula kegiatan dakwah K.H. Hasyim Asy’ari dipusatkan di sebuah bangunan yang terdiri dari dua buah ruangan kecil dari anyam-anyaman bambu (Jawa: gedek), bekas sebuah warung yang luasnya kurang lebih 6 x 8 meter, yang dibelinya dari seorang dalang. Satu ruang digunakan untuk kegiatan pengajian, sementara yang lain sebagai tempat tinggal bersama istrinya, Nyai Khodijah.

Seiring dengan perjalanan waktu, santri yang berdatangan menimba ilmu semakin banyak dan beragam. Kenyataan tersebut telah mendorong Pondok Pesantren Tebuireng beberapa kali telah melakukan perubahan kebijakan yang berkaitan dengan pendidikan. Sebagaimana pesantren-pesantren pada zaman pendiriannya, sistem pengajaran awal yang digunakan adalah metode sorogan (santri membaca sendiri materi pelajaran kitab kuning di hadapan guru), serta metode weton atau bandongan atau halqah (kyai membaca kitab dan santri memberi makna). Semua bentuk pengajaran tersebut tidak dibedakan dalam jenjang kelas. Kenaikan tingkat pendidikan dinyatakan dengan bergantinya kitab yang khatam (selesai) dikaji dan diikuti santri. Materi pelajarannya pun khusus berkisar tentang pengetahuan agama Islam, ilmu syari’at dan bahasa Arab.

Perubahan sistem pendidikan di pesantren ini pertama kali diadakan K.H. Hasyim Asy’ari pada tahun 1919, yaitu dengan penerapan sistem madrasi (klasikal) dengan mendirikan Madrasah Salafiyah Syafi’iyah. Sistem pengajaran disajikan secara berjenjang dalam dua tingkat, yakni Shifir Awal dan Shifir Tsani.

Tahun 1929, kembali dilakukan pembaharuan, yaitu dengan dimasukkannya pelajaran umum ke dalam struktur kurikulum pengajaran. Hal tersebut adalah suatu tindakan yang belum pernah ditempuh oleh pesantren lain pada waktu itu. Sempat muncul reaksi dari para wali santri, bahkan para ulama dari pesantren lain. Hal demikian dapat dimaklumi mengingat pelajaran umum saat itu dianggap sebagai kemunkaran, budaya Belanda dan semacamnya. Hingga terdapat wali santri yang sampai memindahkan putranya ke pondok lain. Namun, madrasah ini berjalan terus karena Pondok Pesantren Tebuireng beranggapan bahwa ilmu umum akan sangat diperlukan bagi para lulusan pesantren.

Meskipun Mbah Hasyim sudah berpaling dari dunia ini, keberadaan Pondok Pesantren Tebuireng saat ini telah berkembang dengan baik dan semakin mendapat perhatian dari masyarakat luas. Pesantren Tebuireng telah banyak memberikan konstribusi dan sumbangan kepada masyarakat luas baik, terutama dalam dunia pendidikan Islam di Indonesia.