Konten dari Pengguna

Déjà vu : Potongan Memori atau Ilusi?

Tania Yohanna

Tania Yohanna

Mahasiswa Psikologi Universitas Brawijaya angkatan 2020

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Tania Yohanna tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah Anda merasa seperti mengalami suatu kejadian yang pernah terjadi sebelumnya? Atau pernahkah Anda mendengar istilah ‘déjà vu’?

Sekitar dua pertiga dari hasil survei mengaku pernah mengalami setidaknya sekali pengalaman déjà vu. Utamanya, orang mengalami fenomena ini ketika sedang berada dalam ruangan, melakukan aktivitas ringan atau bersantai, dan sedang bersama teman atau kerabat; stres dan rasa lelah kerap mengiringi penyebab pengalaman ini. Rentang waktu kejadiannya relatif antara 10 sampai 30 detik dan lebih sering terjadi pada pagi hari dan akhir pekan. Reaksi perseorangan terhadap kejadian ini biasanya mengarah ke positif daripada negatif, seperti kaget, bingung, hingga penasaran. Fenomena dejavu berkurang seiring dengan bertambahnya umur, edukasi, dan penghasilan, serta lebih sering terjadi pada orang yang mampu mengingat mimpinya, suka bepergian, dan memiliki keyakinan yang liberal secara politik dan agama dibandingkan orang yang memiliki keyakinan yang konservatif (Alan S. Brown, 2004).

Déjà vu adalah sebuah fenomena yang terjadi ketika seseorang mengalami perasaaan akan situasi akrab (seperti pernah terjadi) yang secara objektif tidak familiar atau baru. Kesan yang paling mencolok tentang fenomena ini adalah perasaan familiar yang kuat, namun tidak disertai bukti secara objektif untuk membenarkan kesan ini (Alan S. Brown, 2004). Fenomena dejavu terjadi ketika sebuah kejadian memenuhi prediksi dari memori yang hidup dengan mengacu pada perasaan familiar namun secara lebih kabur dan tidak tepat bentuk. Kebanyakan pengalaman dejavu dipicu oleh konteks pengalaman fisik yang umum, walaupun terkadang bisa melalui verbal.

Pengalaman déjà vu sering disamakan dengan flashback karena menimbulkan kesan familiar seperti memori yang muncul kembali akibat pemicu fisik maupun verbal. Memori flashback (memori episodik) ini diproses di lobus temporal, yang didalamnya terdapat sistem memori mesiotemporal. Sistem memori mesiotemporal ini tidak hanya melibatkan hipokampus, melainkan korteks entorhinal dan perirhinal, serta korteks parahippocampal yang saling bertetanggaan, untuk kepentingan pemrosesan memori. Sistem memori mesiotemporal penting untuk pengkodean atau pengambilan memori menyangkut autobiografi dan informasi episodik. Korteks perirhinal penting untuk mengingat objek secara visual dan mengenalinya sedangkan parahippocampal terlibat dalam aspek spasial terhadap memori terkhusus lokasi terhadap objek.

Kegiatan belajar dan mengingat kembali ini sebenarnya bisa dikerjakan sendiri oleh korteks parahippocampal namun tetap memerlukan bagian hipokampus agar asosiasi keduanya berjalan secara fleksibel. Dengan asosiasi ini, maka kemampuannya lebih dapat diterapkan dalam kondisi yang berubah-ubah dan untuk menyatukan informasi yang diperoleh dalam situasi belajar yang berbeda-beda. Hal ini memperlihatkan bahwa kemungkinan dibutuhkannya hipokampus untuk mengingat kejadian sebelumnya. Sementara, aktivasi parahippocampal dapat menggambarkan proses memori lain yang membedakan antara stimuli yang familiar dan tidak.

Lalu, apakah benar kesan familiar ini berasal dari memori episodik atau sekedar ilusi?

Berdasarkan bukti penelitian, déjà vu adalah hasil fenomologis dari kesalahan aktivasi hubungan antara struktur memori mesiotemporal dan area neocortical yang terlibat langsung dalam persepsi akan lingkungan, sehingga menjadi salah mengartikan benda yang dilihat sementara seakan familiar. Perasaan familiar ini disebabkan oleh sistem pengenalan memori (recognition memory system) parahippocampal yang tidak fleksibel dalam keadaan yang terpisah dengan kerja hipokampus (tidak melibatkan hipokampus). Namun, bukan berarti hipokampus tidak bekerja dengan baik. Sebaliknya, kita dapat mengingat pengalaman déjà vu dan mengenalinya sebagai ilusi karena hipokampus yang bekerja normal bekerja sama dengan sistem prefrontal yang bekerja normal pula (Josef S, 2002).

Selain itu, dari perspektif biologis lainnya, déjà vu bisa melibatkan disfungsi dari jalur transmisi informasi persepsi neuron menuju pusat pemrosesan lebih lanjut. Data sensoris yang masuk mengikuti beberapa jalur berbeda untuk menuju ke pusat-pusat ini. Jika dibarengi dengan neurochemical event yang sedikit mengubah kecepatan transmisi menjadi satu jalur, bisa mengarahkan pada ilusi déjà vu. Hal ini disebabkan karena otak bekerja dengan menyatukan berbagai informasi yang diterima dari jalur yang berbeda menjadi satu kesatuan pengalaman. Perubahan kecepatan dari satu jalur ke jalur lainnya menyebabkan otak menginterpretasikan kedua data secara terpisah dan menjadi salinan yang terpisah dari satu pengalaman yang sama, meski dua impresinya hanya terpisah beberapa milisekon (Alan S. Brown, 2004). Hal ini kemudian akan membangkitkan suatu sensasi bahwa apa yang terjadi sekarang pernah terjadi sebelumnya.

Spekulasi yang sama berpusat pada hubungan antara dua belahan (hemisfer) otak. Jika informasi yang datang ditransmisi langsung menuju hemisfer yang dominan, yaitu tempat seharusnya ia diproses dan salinan dari informasi itu melewati jalur hemisfer yang bukan dominan sebelum akhirnya menuju ke hemisfer yang dominan, maka pelambatan pengiriman informasi melewati corpus callosum di antara interhemisfer, dapat menghasilkan ilusi déjà vu (Alan S. Brown, 2004).

Jika benar ilusi, mengapa pengalaman déjà vu menimbulkan perasaan familiar?

Ada beberapa teori yang menjelaskan kemunculan adanya déjà vu. Salah satunya mengatakan bahwa déjà vu merupakan hasil dari sebuah bentuk recognition memory (memori pengenalan) yaitu, familiarity-based recognition memory (memori pengenalan yang didasari sifat familiar). Recognition memory adalah jenis memory yang memungkinkan manusia untuk menyadari bahwa apa yang sedang mereka alami sekarang pernah dialami sebelumnya, seperti wajah yang pernah tampak, atau lagu yang pernah didengar.

Dalam kasus pengalaman déjà vu, seseorang bisa mengalami perasaan mengenali suatu hal ketika menghadapi situasi yang tidak pernah dialami sebelumnya, namun sumber dari perasaan ini masih tidak pasti. Menurut teori proses ganda (dual-process theory), dua proses sama mampu membangkitkan recognition memory: ingatan (recollection) dan keakraban (familiarity) (Anne M. Cleary, 2008). Familiarity-based recognition memory terjadi ketika seseorang mengalami hanya sebuah perasaan yang akrab dengan situasi terkini, tanpa bukti objektif yang jelas.

Dengan begitu, bisa disimpulkan bahwa pengalaman déjà vu adalah ilusi memori yang terjadi ketika kerja otak mengalami malfungsi, dalam kasus ini, perubahan kecepatan diterimanya informasi yang sama dalam satu waktu. Bahkan orang sering memakai istilah déjà vu ketika merasa pernah mengalami kejadian yang sama di masa lampau. Padahal, sumber penyebab, waktu, hingga bukti objektif yang jelas dari ingatan itu belum sama sekali menemukan titik terang dalam penelitian. Mungkin kita mengenali aspek-aspek itu dalam memori, namun tidak mengetahuinya secara pasti.

DAFTAR PUSTAKA

Brown, A. S. (2004). The Déjà vu Experience. Psychology Press.

Bancaud, J., Brunet-Bourgin, F., Chauvel, P., & Halgren, E. (1994). Anatomical origin of déjà vu and vivid ‘memories’ in human temporal lobe epilepsy. Brain, 117(1), 71–90. https://doi.org/10.1093/brain/117.1.71.

Brown, A. S. (2004). The Deja Vu Illusion: Current Directions in Psychological Science. SAGE Journal, 13(6), 256–259. https://doi.org/10.1111/j.0963-7214.2004.00320.x.

Cleary, A. M. (2008). Recognition Memory, Familiarity, and Déjà vu Experiences. SAGE Journal, 17(5), 353–357. https://doi.org/10.1111/j.1467-8721.2008.00605.x.

Spatt, J. (2002). Déjà Vu: Possible Parahippocampal Mechanisms. The Journal of Neuropsychiatry and Clinical Neurosciences, 14(1), 6–10. https://doi.org/10.1176/jnp.14.1.6.