Sebelum Piramida: Kota yang Melahirkan Tulisan dan Mengubah Sejarah Manusia

Pendidik yang mengeksplor budaya, sejarah kuno dan literasi
·waktu baca 11 menit
Tulisan dari Def Tanoshii tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika membayangkan awal mula peradaban, piramida-piramida Mesir Kuno sering kali menjadi gambaran pertama yang muncul dalam pikiran. Bangunan-bangunan monumental itu seolah merangkum hampir segala sesuatu yang kita kaitkan dengan sebuah peradaban: arsitektur megah, penguasa yang berkuasa, tenaga kerja yang terorganisasi, agama, matematika, serta masyarakat yang mampu mengerahkan ribuan orang untuk mencapai tujuan bersama. Namun, piramida bukanlah awal dari semuanya. Ketika piramida-piramida besar pertama mulai menjulang di sepanjang Sungai Nil, kota-kota telah berdiri selama berabad-abad di wilayah lain di dunia kuno. Jauh di sebelah timur, di antara dua sungai besar, manusia telah mulai membangun sesuatu yang kelak mengubah jalannya sejarah manusia. Kedua sungai tersebut adalah Tigris dan Eufrat. Di antara kota-kota yang kemudian berkembang di kawasan itu, terdapat satu kota yang memiliki peranan sangat penting: Uruk.
Kisah peradaban tidak bermula dari piramida. Lebih dari lima ribu tahun yang lalu, Mesopotamia bagian selatan menjadi tempat berlangsungnya salah satu perubahan paling menentukan dalam sejarah manusia: munculnya masyarakat perkotaan yang besar dan kompleks. Selama ribuan tahun, wilayah di antara Sungai Tigris dan Eufrat telah dihuni oleh para pemburu, nelayan, dan petani yang memanfaatkan tanah subur, aliran sungai, serta melimpahnya hewan di kawasan tersebut. Perkembangan pertanian memungkinkan manusia menetap secara lebih permanen sekaligus menghasilkan surplus pangan. Namun, kemakmuran juga melahirkan persoalan baru. Semakin banyak makanan yang dihasilkan sebuah komunitas, semakin besar pula kebutuhan untuk menyimpan, mendistribusikan, dan mengelolanya. Lahan pertanian harus digarap, hasil panen dikumpulkan, tenaga kerja diatur, dan berbagai barang didistribusikan kembali. Sebuah desa kecil masih dapat mengandalkan ingatan dan hubungan personal untuk mengatur kehidupannya. Tetapi sebuah permukiman besar tidak lagi dapat berjalan dengan cara yang sama.
Sekitar 3200 SM, Uruk telah menjadi salah satu permukiman terbesar di Mesopotamia selatan, bahkan mungkin merupakan permukiman terbesar di dunia pada masa itu. Uruk bukan lagi sekadar desa yang berkembang menjadi lebih besar. Tempat ini telah berubah menjadi sebuah kota, dengan bangunan-bangunan monumental dari batu bata lumpur, kompleks-kompleks kuil yang sangat luas, serta karya seni yang mengesankan. Dinding-dindingnya dihiasi mosaik yang dibuat dari kerucut-kerucut tanah liat berwarna. Para seniman juga menghasilkan patung-patung berukuran besar dan ukiran relief. Pada masa ini, teknik pengecoran logam dengan metode lost-wax atau cire perdue juga telah muncul. Namun, hal paling revolusioner dari Uruk bukanlah sekadar bentuk bangunan atau kemegahan karya seninya. Perubahan terbesar justru terjadi di balik bangunan-bangunan tersebut di dalam lembaga-lembaga yang mengatur kehidupan kota.
Uruk mencakup wilayah sekitar 250 hektare dan kerap disebut sebagai “kota pertama dalam sejarah dunia.” Di sekelilingnya terdapat berbagai permukiman sekunder yang menjadi bagian dari lanskap perkotaan yang lebih luas. Kompleks-kompleks kuil besar di Uruk bukan hanya berfungsi sebagai pusat keagamaan. Kuil-kuil tersebut juga merupakan lembaga ekonomi utama yang menerima berbagai barang, mengelola sumber daya, dan mengatur tenaga kerja. Salah satu teks tertulis awal dari Uruk bahkan memuat daftar sekitar 120 pejabat. Di dalamnya tercantum berbagai tokoh yang berkaitan dengan pemerintahan kota, hukum, pembajakan atau pengolahan lahan, peternakan, keagamaan, pekerjaan logam, pembuatan tembikar, serta berbagai pekerjaan khusus lainnya. Daftar tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat Uruk telah berubah menjadi sesuatu yang secara mendasar berbeda dari sebuah desa. Di sana sudah terdapat administrator, para pekerja dengan keahlian khusus, tenaga kerja, otoritas keagamaan, serta berbagai lembaga yang bertugas mengoordinasikan bagian-bagian berbeda dari kehidupan ekonomi. Uruk telah berkembang menjadi sebuah sistem.
Namun, munculnya sebuah sistem juga menghadirkan persoalan baru: informasi. Bayangkan bagaimana rasanya mengelola sebuah lahan pertanian yang sangat luas tanpa kertas, spreadsheet, komputer, atau bahkan alfabet. Setiap musim, hasil panen berupa biji-bijian berdatangan. Ikan dibawa masuk. Hewan harus dihitung. Para pekerja menerima jatah makanan. Bahan-bahan mentah berpindah dari satu gudang ke gudang lainnya. Seseorang harus mengetahui apa saja yang masuk, ke mana barang-barang tersebut pergi, dan siapa yang menerimanya. Dalam skala sebesar Uruk, mengandalkan ingatan saja sudah tidak memadai. Solusinya ternyata sangat praktis. Beberapa tanda tertua yang masih bertahan dari Uruk digunakan untuk mencatat komoditas dan jatah makanan para pekerja. Biji-bijian, ikan, serta berbagai jenis hewan direpresentasikan pada lempeng-lempeng tanah liat.
Dengan kata lain, salah satu penemuan intelektual terbesar dalam sejarah manusia tampaknya berawal setidaknya dalam skala besar dari persoalan yang sangat sederhana: bagaimana mencatat dan mengelola berbagai barang. Tanda-tanda paling awal tersebut bersifat piktografis. Sebuah simbol dapat digunakan untuk mewakili sesuatu yang konkret, seperti seekor hewan atau sejumlah biji-bijian. Angka pun dapat ditunjukkan melalui berbagai tanda, seperti garis, lingkaran, dan persegi panjang. Sistem semacam ini cukup efektif untuk mencatat benda-benda fisik. Namun, keterbatasannya segera terlihat. Bagaimana cara menuliskan nama seseorang? Bagaimana mengungkapkan gagasan yang abstrak? Bagaimana mewakili unsur tata bahasa atau sesuatu yang tidak mungkin digambarkan dalam bentuk visual? Untuk mengatasinya, manusia membutuhkan sebuah lompatan konseptual: tanda tidak hanya dapat mewakili benda, tetapi juga dapat mewakili bunyi. Prinsip ini kemudian dikenal sebagai prinsip rebus. Melalui prinsip tersebut, sebuah tanda dapat memperoleh nilai fonetik tertentu. Analogi modernnya, misalnya, menggunakan gambar mata bukan hanya untuk menunjukkan organ mata, tetapi juga untuk mewakili bunyi kata ganti I dalam bahasa Inggris.
Dalam sistem tulisan Mesopotamia awal, sebuah tanda dengan cara yang serupa dapat melampaui fungsi awalnya sebagai representasi sebuah benda. Tanda tersebut kemudian dapat digunakan untuk mewakili bunyi atau rangkaian bunyi tertentu. Ini merupakan langkah yang sangat penting. Sistem yang pada awalnya dirancang terutama untuk mencatat komoditas perlahan berubah menjadi sesuatu yang mampu merepresentasikan bahasa itu sendiri. Bentuk tanda-tandanya pun ikut mengalami perubahan. Alih-alih menggambar gambar-gambar pada permukaan tanah liat yang masih basah, para juru tulis semakin sering menekan tanda berbentuk baji ke permukaan tanah liat menggunakan alat tulis dari alang-alang atau kayu. Para sarjana modern menyebut sistem tulisan ini kuneiform, dari bahasa Latin cuneus, yang berarti “baji.” Perubahan tersebut tidak terjadi secara tiba-tiba. Prosesnya berlangsung secara bertahap. Tanda-tanda piktografis menjadi semakin abstrak, ukurannya semakin kecil, dan bentuknya semakin terstandar. Pada saat yang sama, tanda-tanda fonetik mulai ditambahkan ke dalam sistem. Pada pertengahan milenium ketiga SM, kuneiform telah berkembang menjadi sebuah sistem tulisan yang kompleks. Sistem ini menggabungkan tanda kata dengan tanda fonetik, sehingga para juru tulis dapat mengungkapkan gagasan yang semakin rumit. Saat ini, ribuan lempeng proto-kuneiform yang berkaitan dengan lingkungan budaya Uruk telah diketahui. Keseluruhannya memuat puluhan ribu baris teks.
Namun, terdapat satu persoalan penting dalam kisah ini. Asal-usul tulisan mungkin ternyata jauh lebih kompleks secara geografis daripada yang selama ini digambarkan dalam narasi tradisional. Penelitian arkeologi telah membuka kemungkinan bahwa sistem administrasi yang kompleks dan menggunakan tulisan proto-kuneiform mungkin telah berkembang di beberapa wilayah Suriah dan Turki pada milenium keempat SM. Jika penemuan-penemuan di masa mendatang mengonfirmasi kemungkinan tersebut, lempeng-lempeng dari Uruk mungkin bukan merupakan bukti dari satu momen tunggal ketika tulisan tiba-tiba ditemukan di satu tempat. Sebaliknya, lempeng-lempeng itu bisa menjadi salah satu tahap penting dalam proses perkembangan yang berlangsung lebih panjang. Meski demikian, Uruk tetap memegang posisi sentral dalam kisah ini. Pertumbuhan kotanya yang berlangsung sangat cepat memberikan gambaran yang sangat jelas mengenai hubungan antara urbanisasi, administrasi, dan lahirnya sistem tulisan.
Dan di sinilah kisahnya berkembang jauh melampaui Uruk. Pada awalnya, tulisan digunakan untuk keperluan administrasi. Namun, begitu manusia memiliki sistem yang tahan lama untuk menyimpan informasi, kemungkinan penggunaannya berkembang dengan sangat pesat. Sebuah lempeng tanah liat dapat menyimpan catatan suatu transaksi bahkan setelah orang-orang yang terlibat di dalamnya telah tiada. Tulisan dapat digunakan untuk mencatat pembagian tanah, mendokumentasikan perjanjian, membuat daftar pekerja, atau melacak pergerakan barang yang keluar-masuk dari sebuah lembaga. Seiring waktu, penggunaannya meluas jauh melampaui tujuan awal tersebut. Tulisan mulai digunakan untuk prasasti keagamaan, mencatat pencapaian para raja, menyusun hukum, menghasilkan karya sastra, hingga menyimpan pengetahuan ilmiah dan intelektual.
Teknologi yang pada awalnya diciptakan untuk urusan administrasi telah berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih besar. Dampaknya sangat luas. Tulisan memungkinkan informasi bertahan melampaui ingatan individu dan diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Seorang penguasa dapat meninggalkan prasasti yang mencatat pemerintahannya. Seorang pedagang dapat mendokumentasikan transaksi. Sebuah kuil dapat menyimpan catatan keuangannya. Pemerintahan dapat mempertahankan arsip administratif. Seorang pelajar dapat menyalin karya seorang cendekiawan dari masa sebelumnya. Ketika sistem tulisan dan administrasi semakin tersebar, kota-kota pun berkembang menjadi lembaga politik yang semakin kompleks. Pada akhirnya, negara-kota dapat memperluas kekuasaannya menjadi wilayah yang lebih luas, bahkan berkembang menjadi kekuatan teritorial dan kekaisaran. Perkembangan tulisan juga melahirkan jenis tenaga ahli baru: juru tulis.
Untuk menguasai tulisan kuneiform dibutuhkan pelatihan. Karena itu, muncul sekolah-sekolah juru tulis tempat para siswa berlatih menuliskan secara rutin pada lempeng tanah liat. Kemampuan membaca dan menulis pada awalnya bukanlah keterampilan yang dimiliki semua orang. Literasi berkaitan dengan kelompok khusus yang memiliki keahlian tersebut, sekaligus dengan kewenangan lembaga-lembaga yang mengendalikan informasi. Namun, teknologi yang pada mulanya hanya dikuasai oleh kalangan terbatas ini kelak menjadi sarana untuk melestarikan sebagian dari karya sastra dan pengetahuan tertulis tertua yang pernah dimiliki manusia. Ada sesuatu yang hampir terasa puitis dalam perubahan tersebut. Teks-teks tertua yang masih bertahan terutama membicarakan hal-hal yang sangat sederhana: biji-bijian, ikan, hewan, dan jatah makanan. Berabad-abad kemudian, para juru tulis telah menyalin Epic of Gilgamesh, mencatat pencapaian para raja, melestarikan tradisi keagamaan, dan meneruskan berbagai pengetahuan. Tulisan telah bergerak jauh dari pertanyaan sederhana, “Berapa banyak?,” menuju pertanyaan-pertanyaan yang jauh lebih besar tentang kekuasaan raja, kematian, para dewa, pengetahuan, dan makna menjadi manusia.
Manusia mungkin pada awalnya menulis untuk menghitung dan mencatat berbagai benda. Namun pada akhirnya, kita menggunakan tulisan untuk mengingat diri kita sendiri. Uruk sendiri tidak pernah benar-benar berdiri sendirian. Pengaruh budayanya menjangkau berbagai wilayah di sekitarnya. Tembikar dan arsitektur bergaya Uruk ditemukan di sejumlah wilayah Iran, kawasan Zagros, Suriah, dan Turki bagian selatan. Pada saat yang sama, Mesopotamia sendiri bergantung pada jaringan perdagangan jarak jauh untuk memperoleh berbagai material berharga, seperti lapis lazuli, karnelian, diorit, emas, perak, dan gading. Hubungan tersebut membentuk jaringan yang memungkinkan barang, teknologi, dan gagasan budaya bergerak melintasi wilayah yang sangat luas. Karena itu, Mesopotamia bukan sekadar tempat lahirnya sebuah peradaban yang berkembang secara terisolasi. Kawasan tersebut merupakan bagian dari dunia kuno yang semakin lama semakin saling terhubung.
Sekarang, mari kita kembali ke piramida. Piramida memang merupakan pencapaian yang luar biasa. Namun, bangunan-bangunan tersebut berdiri dalam sebuah dunia yang sebenarnya telah mengalami perubahan selama berabad-abad. Jauh sebelum piramida menjulang di atas Sungai Nil, kota-kota Mesopotamia telah mengembangkan lembaga-lembaga monumental, berbagai pekerjaan khusus, jaringan perdagangan jarak jauh, sistem administrasi, serta bentuk awal tulisan. Uruk sendiri tentu tidak akan selamanya menjadi pusat kekuatan. Negara-kota Sumeria kemudian saling bersaing. Akkad bangkit dan memperluas kekuasaannya. Setelah itu, Babilonia dan Asyur mendominasi kawasan tersebut. Kekaisaran-kekaisaran akan muncul lalu runtuh. Bahasa akan berubah, dan para raja pada akhirnya akan menghilang.
Namun, berbagai eksperimen mendasar yang dilakukan oleh kota-kota awal tersebut meninggalkan warisan yang bertahan dalam rentang waktu yang luar biasa panjang. Mungkin inilah pelajaran paling penting dari Uruk. Peradaban tidak muncul begitu saja dalam satu pagi. Tidak ada satu momen tunggal ketika manusia tiba-tiba melewati sebuah garis tak kasatmata lalu berubah menjadi “beradab”. Sebaliknya, peradaban terbentuk melalui ribuan solusi terhadap persoalan-persoalan dan masalah yang ada. Pertanian menghasilkan surplus pangan. Surplus tersebut mendorong kebutuhan untuk menyimpan dan mendistribusikan makanan. Distribusi dalam skala besar membutuhkan administrasi. Administrasi menciptakan kebutuhan akan pencatatan. Catatan kemudian berkembang menjadi tulisan. Tulisan memperkuat berbagai lembaga, dan lembaga-lembaga tersebut memungkinkan kota berkembang menjadi semakin besar dan kompleks.
Rangkaian proses tersebut tidaklah sederhana dan juga tidak sepenuhnya berlangsung secara damai. Masyarakat perkotaan membawa berbagai bentuk inovasi, tetapi pada saat yang sama juga melahirkan hierarki, persaingan politik, ketimpangan, dan eksploitasi. Meski demikian, kehidupan perkotaan secara fundamental mengubah kemampuan komunitas manusia. Ribuan orang kini dapat berpartisipasi dalam sistem ekonomi yang sama. Berbagai lembaga dapat mengoordinasikan sumber daya dalam skala yang tidak mungkin dilakukan oleh komunitas desa. Dan ketika informasi mulai dapat dicatat secara permanen, pengetahuan tidak lagi harus lenyap bersama orang-orang yang memilikinya. Inilah revolusi yang sesungguhnya. Perubahan besar tersebut bukan sekadar tentang pembangunan sebuah monumen atau munculnya seorang raja yang sangat berkuasa. Revolusi itu terletak pada terciptanya sistem yang mampu mengorganisasi manusia, sumber daya, informasi, dan ingatan dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Piramida memang monumental. Namun, jauh sebelum bangunan-bangunan itu menjulang di atas gurun Mesir, di suatu tempat di Mesopotamia selatan, manusia telah mulai membangun sesuatu yang tidak kalah menentukan bagi masa depan mereka: sebuah kota. Dan di dalam kota tersebut, mereka mulai belajar bagaimana membuat pengetahuan manusia bertahan melampaui kehidupan orang-orang yang menciptakannya. Begitulah Uruk, Sumeria, dan kota-kota Mesopotamia mengubah jalannya sejarah manusia.
