Mengenal Empat Generasi Teknologi untuk Memasak, Kamu Hidup di Generasi Mana?

Mahasiswa S3 Ilmu Pendidikan UNINUS, Chemistry Teacher, Tinggal di Kota Moci
Konten dari Pengguna
20 September 2022 13:13
·
waktu baca 4 menit
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Tantan Hadian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Foto Dokumen Pribadi: Memasak air di Hawu (Tungku Kayu Bakar)
zoom-in-whitePerbesar
Foto Dokumen Pribadi: Memasak air di Hawu (Tungku Kayu Bakar)
ADVERTISEMENT
Teknologi membuat aktivitas manusia lebih mudah, teknologi membuat sesuatu menjadi praktis, dan teknologi membuat segala sesuatu menjadi cepat.
ADVERTISEMENT
Teknologi masak-memasak berubah sesuai dengan tuntutan zaman, dengan harapan siapa pun orang memasak lebih mudah, lebih praktis dan lebih cepat.
Berikut perkembangan teknologi masak-memasak yang sudah ada dari zaman dahulu.
1. Hawu (Tungku)
Saya teringat ketika saya masih kecil, sekitar tahun 80-an, hidup di kampung dengan segala keterbatasan, sangat jarang orang memasak menggunakan kompor minyak tanah, apalagi kompor gas, yang pastinya belum ada.
Penggunaan minyak tanah untuk keperluan memasak, hanya sebatas untuk memulai menyalakan hawu (tungku). Supaya kayu bakar yang akan digunakan untuk memasak cepat terbakar, maka digunakanlah beberapa tetes minyak tanah yang diteteskan pada abu dan kayu bakar yang akan digunakan untuk memasak.
Enaknya, memasak menggunakan tungku ini, sambil menunggu masakan matang, jika cuaca dingin kita bisa siduru (menghangatkan badan dengan api), apalagi sambil minum kopi item atau teh panas dengan bubuy sampeu (bakar singkong).
ADVERTISEMENT
Kayu bakar sudah umum di perkampungan, setiap keluarga pasti memiliki stok kayu bakar yang bertumpuk di belakang rumah, jika ingin memasak tinggal diambil saja.
Namun jangan heran, jika alat-alat memasak dengan menggunakan hawu ini pasti tidak ada yang selamat dari mehong (jelaga yang nempel pada alat memasak), semuanya berwarna hitam, akibat dari pembakaran tidak sempurna kayu bakar.
Nah, yang pasti hasil masakan dengan menggunakan hawu ini lebih enak dan lebih sehat dibandingkan dengan yang menggunakan kompor minyak tanah, kompor gas, atau kompor listrik. Tentunya hal ini perlu dilakukan risetnya oleh para professor atau doktor yang ahli dibidang "perhawuan". Misalnya “Pengaruh Memasak Nasi Menggunakan Hawu dengan Menggunakan Kompor LPG terhadap Rasa Masakan”, ha..ha..ha.
ADVERTISEMENT
2. Kompor Minyak Tanah
Namanya juga kompor minyak tanah, berarti kompornya berbahan bakar minyak tanah. Ada gak ya kompor berbahan bakar bensin? Kayanya gak ada tuh.
Terbayang kalau ada kompor yang berbahan bakar bensin, sifat bensin yang mudah sekali menguap, pasti akan lebih mudah terbakar, pastinya terbakar dengan rumah-rumahnya ya, ssst.
Kompor minyak tanah ini lebih praktis dibanding tungku kayu bakar, dengan menggunakan bahan bakar minyak tanah yang meresap pada sumbu yang terbuat dari benang atau kain tertentu.
Nah, kalau diadakan riset juga bagus tuh, mengapa sumbu kompor minyak tanah tidak cepat habis ya kalau dibakar?
Kompor minyak tanah tentunya tidak perlu pakai kayu bakar ya, jadi jangan heran pada waktu saya masih kecil kompor ini digunakan oleh orang-orang kota. Gak terbayang kan bagaimana jika di perkotaan yang padat penduduknya masih menggunakan hawu, bagaimana cara mendapatkan kayu bakarnya ya? Emmh…
ADVERTISEMENT
Berbeda dengan hawu, karena yang dibakar adalah sumbu kompor yang hanya sedikit bukan seperti kayu bakar, maka kompor minyak tanah ini tidak terlalu banyak menghasilkan jelaga ya. Alat-alat masak pada umumnya tidak terlalu hitam.
3. Kompor Gas
Wah, ini kan zaman sekarang kita nih. Pastinya lebih praktis dari hawu dan kompor minyak tanah ya. Bahan bakarnya pastilah gas, ada LPG (Liquified Petroleum Gas), atau sedikit yang menggunakan LNG (Liquified Natural Gas).
Dari namanya sedikit aneh ya, ada liquified(dicairkan) dan ada gas (wujud gas). Memang gas tersebut berwujud cair ketika dimasukkan ke dalam tabung, namun berubah menjadi gas ketika diluar tabung, ayo kenapa?
Pembakaran dari kompor gas ini hampir sempurna, tidak ada jelaga, alat-alat masak aman tidak hitam lagi. Ya wajar, dalam reaksinya gas LPG maupun LNG hanya memiliki jumlah atom karbon yang dibakar hanya berkisar 1-4 rantai karbon, jauh berbeda dengan kayu atau minyak tanah yang memiliki jumlah karbon yang lebih banyak tiap molekulnya.
ADVERTISEMENT
Namun demikian, mungkin kita sering mendengar kecelakaan akibat meledaknya tabung gas LPG? Cukup mengerikan, jika kita tidak hati-hati dalam menggunakannya.
Akhir-akhir ini, bahkan sudah dimulai dari tahun 2021 pemerintah merencanakan untuk mengganti mengkonversi kompor LPG ke kompor listrik. Entah apa analisis sebenarnya, apakah motif ekonomi, politik, ketersediaan BBMnya dan atau yang lainnya.
Yang jelas, pengajuan anggaran untuk konversi tersebut sudah sampai ke badan legislatif DPR. Ya, sebagai masyarakat kita tinggal menerima saja apa pun keputusannya, seperti dahulu kebijakan pemerintah mengkonversi minyak tanah ke LPG zamannya pa Yusup Kala menjadi Wakil Presiden.
4. Kompor Listrik
Inilah mungkin yang kita nanti-nantikan, setuju atau tidak, jika ini diberlakukan lambat laun penggunaan kompor LPG akan ditinggalkan.
ADVERTISEMENT
Kompor ini sama sekali tidak menggunakan bahan bakar. Ya pasti, karena hanya menggunakan konversi energi listrik.
Tidak akan menemukan jelaga ya, lebih praktis, mungkin lebih hemat biaya, dan yang paling penting kita tidak usah cari-cari tukang gas.
Jika kebijakan ini dibuat secara masif, tentunya harus diperhitungkan matang-matang. Untuk siapa dulu, peralatannya sudah siap atau belum, dan yang paling penting adalah menguntungkan untuk rakyat banyak atau tidak.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020