AI Bisa Menyampaikan, tapi Apa Bisa Merasakan?

Dosen Fikom UNPAD, Content Creator, Praktisi Komunikasi
ยทwaktu baca 4 menit
Tulisan dari Tantri Annisa Hanjani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebagai pengguna dan seseorang yang aktif membuat konten di media sosial, saya merasakan kecerdasan Artificial Intelligence/AI, (dalam bahasa Indonesia disebut Akal Imitasi) yang kini berperan sebagai "asisten" dalam produksi konten yang saya buat. Brainstorming yang biasanya saya lakukan melalui riset berhari-hari di halaman dunia maya, kini bisa saya lakukan hanya dalam hitungan jam dengan bantuan Gen AI. Caption yang biasanya saya pikirkan berulang kali, kini bisa saya dapatkan lebih catchy dengan cepat. Biasanya, saya harus memikirkan banyak hal untuk memproduksi sebuah konten, tapi sekarang saya merasa "asisten" ini sepertinya lebih telaten daripada diri saya.
Semakin lama, saya menyadari suatu hal, jika semuanya dibantu AI, apakah diri saya masih 'hadir' dalam konten saya sendiri?
AI Membantu Mencari Ide, Bukan Menceritakan Pengalaman
Ketelatenan AI dalam proses produksi konten, memang mampu menganalisis ratusan bahkan ribuan kata, memunculkan cerita dan pesan, dibalut menjadi sebuah caption yang diklaim tepat dan efektif. Tetapi caption yang dianggap tepat secara teknis, belum tentu menyentuh secara emosional. Studi eksperimental yang dilakukan oleh Colleen Kirk dan Julian Giv (2025) menjelaskan fenomena yang disebut AI Authorship Effect, yaitu efek psikologis negatif yang muncul ketika audiens menyadari bahwa pesan emosional ditulis oleh AI, bukan manusia.
Pengujiannya dilakukan dengan membuat 7 eksperimen daring, melibatkan ratusan responden dalam setiap studi. Pada eksperimen tersebut, peserta diminta membaca skenario berupa pesan dari sebuah brand, misalnya ucapan terima kasih atau ucapan duka. Kemudian, peserta diberi informasi tambahan, apakah pesan tersebut ditulis oleh manusia atau AI.
Hasilnya menyebutkan, ketika pesan emosional itu diketahui berasal dari AI, peserta cenderung menganggap pesan tersebut tidak tulus dan kurang autentik, bahkan memicu apa yang disebut dengan moral disgust (perasaan jijik) karena pesan dinilai tidak tulus secara moral. Pesan yang ditulis AI membuat peserta merasa sedang ditipu secara halus, akibatnya peserta juga enggan menyebarkan pesan tersebut hingga menurunkan loyalitas mereka kepada brand.
Temuan ini memperkuat suatu hal penting, bahwa dalam komunikasi publik, khususnya di media sosial, kepercayaan audiens bukan hanya tergantung pada isi pesan, tetapi juga siapa yang menyampaikannya.
AI mungkin mampu menyusun kata-kata yang tertata, tapi tidak dengan menyampaikan rasa. Di sinilah peran manusia diperlukan, dalam membangun koneksi yang bermakna untuk audiensnya.
Antara Kecepatan dan Kedekatan
Setelah saya merenungkan kembali, saya melihat media sosial ada di persimpangan antara wadah mengekspresikan emosi serta wadah berstrategi untuk mengejar efisiensi. Kadang keduanya malah saling bertabrakan. Dulu, media sosial menjadi tempat penggunanya untuk mencurahkan isi hati, sekarang menjadi tempat penuh konten instan yang disusun rapi. AI telah menawarkan efisiensi yang lebih dari apa yang diminta, bisa membaca tren, menyusun ide hingga menyesuaikan gaya bahasa. Tapi di dalam proses itu, apakah kita perlahan sudah kehilangan spontanitas, kejujuran dan jejak diri dalam setiap konten yang kita buat sendiri?
Kreator atau Kurator?
Saat AI mulai membantu lebih banyak dalam proses kreatif saya, saya pun mulai bertanya: seberapa besar bagian dari diri saya yang masih benar-benar 'hadir' dalam konten itu?
Saya tidak anti dengan AI, justru saya merasakan sendiri manfaatnya. Saya bisa lebih produktif dan lebih siap untuk tampil dengan konten yang saya buat. Tapi dibalik semua kemudahan itu, saya merasa ada bagian dari proses yang terlewat.
Dalam model otentisitas komunikasi digital (Lee, 2020), persepsi keaslian dibentuk oleh tiga hal: siapa yang menyampaikan (sumber), apa yang disampaikan (pesan), dan bagaimana interaksinya berlangsung (relasi). Bagi saya, ketiganya harus terasa manusiawi.
Tantangan pentingnya bukan lagi tentang bagaimana membuat konten yang menarik. Tapi bagaimana tetap hadir secara utuh di dalamnya. Bagaimana memastikan bahwa yang ditangkap audiens bukan hanya informasi tetapi juga pesan jujur yang sesuai dengan nilai, suara dan pengalaman saya sendiri.
Tetap Hadir di Era AI
Sebaik apapun AI membantu, saya percaya bahwa bagian penting datang dari rasa. Bagi saya, hadir dalam konten yang saya buat bukan soal kesempurnaan tapi lebih kepada kejujuran dan perasaan bahwa diri saya benar-benar ada di dalamnya.
