Konten dari Pengguna

Intergenerational Trauma: Alasan Pola Asuh Orang Tua yang Buruk

Tara Urfani Fasas

Tara Urfani Fasas

Mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Jakarta

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Tara Urfani Fasas tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber : pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Sumber : pexels.com

Pernahkah Anda membayangkan diri Anda menjadi orang tua? Apakah Anda sudah memikirkan seperti apa Anda nanti ketika mengasuh anak?

Menjadi orang tua bukanlah hal yang mudah. Banyak tantangan di dalamnya, apa lagi dalam menjaga pola asuh terhadap anak. Untuk mengasuh anak, tentu diperlukan strategi supaya dapat melahirkan generasi baru yang lebih cerdas dan mandiri.

Di sosial media, terdapat banyak anak dan remaja yang mengaku bahwa mereka mendapatkan pengasuhan yang buruk dari orang tuanya. Pola asuh orang tua yang buruk dapat disebabkan oleh banyak faktor, tetapi faktor utamanya dapat berupa intergenerational trauma atau biasa disebut 'trauma antargenerasi'. Karenanya, diperlukan bahasan lebih lanjut untuk membahas intergenerational trauma.

Mengenal Intergenerational Trauma

Menurut American Psychological Association (APA), intergenerational trauma diekspresikan terhadap keturunan seseorang yang mengalami peristiwa traumatis. Maka, dapat dikatakan bahwa intergenerational trauma merupakan trauma generasi selama bertahun-tahun dalam keluarga. Fenomena ini telah diturunkan ke generasi-generasi selanjutnya yang berasal dari efek penindasan atau traumatis dalam suatu peristiwa sejarah, contohnya adalah trauma berat saat perang.

Trauma memiliki efek jangka panjang yang berpengaruh buruk dalam kesejahteraan mental serta emosional. Maka, dapat dikatakan bahwa generasi orang tua kita mendapat pola asuh yang buruk dari para korban trauma perang yang telah mengalami krisis dunia yang parah, genosida budaya, diskriminasi, rasisme, pelecehan seksual, dan lain-lain.

Mengapa Intergenerational Trauma Menjadi Alasan Pola Asuh Orang Tua yang Buruk?

Dikutip dari Jensen dan Sezibera dalam penelitiannya di Universitas Boston, bahwa pengalaman traumatis dalam satu generasi dapat memengaruhi generasi berikutnya. Orang tua yang memiliki gangguan mental dan emosi karena trauma akan memengaruhi perilaku pengasuhannya terhadap anak, sehingga menjadi efek buruk jangka panjang dalam tumbuh kembang anak. Para korban trauma ini akan menghadapi banyak tantangan saat mereka menjadi orang tua, termasuk kesulitan dalam memperkuat ikatan emosional yang sehat terhadap anaknya.

Menurut Lovejoy dan Graczyk, ibu yang mengalami depresi akan lebih mudah tersinggung, kurang hangat, dan jarang berinteraksi dengan anaknya dibandingkan dengan ibu yang tidak depresi.

Dampak Negatif dari Intergenerational Trauma

Menurut American Psychological Association (APA), dampak negatif dari gejala trauma antargenerasi ini meliputi:

  1. Tingkat kepercayaan diri yang rendah

  2. Kesulitan dalam bersosialisasi dengan orang lain

  3. Rentan terhadap stress

  4. Gangguan pikiran

  5. Terlalu waspada

  6. Pola asuh yang buruk pada anak

Maka, dapat dikatakan bahwa gejala trauma di atas dapat menurun ke generasi-generasi berikutnya. Tentu saja anak banyak belajar melalui pengasuhan langsung dari orang tuanya. Maka dari itu, perilaku orang tua menjadi teladan dan contoh bagi mereka.

Cara Menyembuhkan Intergenerational Trauma

Trauma yang terbentuk dari generasi ke generasi ini harusnya tidak boleh dilanjutkan lagi karena akan memiliki dampak yang lebih buruk. Meskipun sulit untuk disembuhkan, ada beberapa langkah yang bisa digunakan supaya dapat sembuh dari trauma, di antaranya:

  • Bercerita

Untuk memulai penyembuhan trauma, korban dapat melakukannya dengan bercerita supaya mengetahui sejauh mana masalah yang dialami orang tua. Banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa mereka telah terkena gangguan mental, seperti trauma berat, depresi, anxiety, PTSD, dan sebagainya. Hal ini dikarenakan rendahnya kesadaran akan kesehatan mental pada zaman dahulu.

  • Hindari kesalahan masa lalu

Semua pikiran dan perasaan buruk yang timbul karena trauma harus segera diakhiri. Dalam hal ini, keluarga perlu menemukan cara untuk berhenti menularkan trauma dengan mengubah kebiasaan buruk.

  • Hubungi profesional

Jika dengan dua solusi di atas tadi tidak dapat menyembuhkan trauma, maka solusi terakhirnya adalah menghubungi profesional sehingga korban trauma mendapatkan perawatan yang sesuai.

Intergenerational trauma sudah banyak memakan korban hingga saat ini karena pola asuh orangtua yang buruk. Maka dari itu, sebagai orang tua atau calon orang tua, penting bagi Anda untuk mengevaluasi diri dan menyadari akan trauma antargenerasi ini. Kesehatan mental Anda-lah yang terpenting dan hubungilah profesional jika diperlukan.