Ukuran Leadership Bukan Gelar Pendidikan

Tardi Setiabudi Dosen Universitas Setia Budhi Rangkasbitung
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Tardi Setiabudi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ruang dinamika sosial dan politik, kita masih menjumpai pandangan bahwa kepemimpinan identik dengan gelar akademik yang panjang di belakang nama. Ini seolah-olah semakin tinggi gelar yang dimiliki seseorang, maka pantas ia menduduki jabatan kepemimpinan. Padahal sejarah dan kenyataan sehari-hari menunjukkan bahwa, leadership tidak pernah diukur oleh ijazah atau derajat formal pendidikan, melainkan oleh kapasitas, integritas dan kemampuannya dalam menggerakan orang lain untuk tujuan bersama.
Gelar akademik adalah simbol pencapaian intelektual dan bukti keberhasilan melewati jenjang pendidikan formal. Namun gelar tidak menjamin kepemimpinan. Seorang berpendidikan paling tinggi boleh saja ahli di bidangnya, tetapi tidak semerta-merta ia mampu memimpin organisasinya atau mengelola manusia. Malah sebaliknya, banyak pemimpin besar lahir dari jalan non akademik tetapi memiliki kepekaan sosial, visi, dan punya keberanian dalam mengambil suatu keputusan.
Leadership pada akhirnya adalah seni memengaruhi, menggerakan, dan menginspirasi orang lain. Seorang pemimpin di ukur dari kemampuannya memberikan arahan, menyatukan perbedaan, serta memastikan roda organisasi berjalan kearah yang lebih baik. Hal ini jelas berbeda dengan sekedar hanya menguasi teori. Kepemimpinan adalah praktik yang selalu diuji setiap hari dalam interaksi dengan manusia, konflik, kepentingan, serta tantangan yang tidak selalu bisa dijawab oleh rumus akademis.
Di sinilah letak perbedaan mendasar: gelar akademik bersifat permanen. Sekali seseorang menyelesaikan pendidikan paling tinggi, maka gelar itu akan melekat pada dirinya seumur hidup, kecuali ada pelanggaran etik berat. Namun Leadership bersifat dinamis dan harus dipelihara. Seorang pemimpin akan hilang kepecayaan ketika gagal menjaga integritas, tidak peka terhadap rakyat, atau terjebak karena kepentingan pribadi. Maka tidak jarang, kita melihat orang yang gelarnya tinggi hilang kewibawaannya di mata publik, karena tidak mampu menunjukkan kepemimpinan sejati.
Fenomena ini jelas terlihat di ranah politik. Tidak sedikit pejabat publik dengan latar pendidikan tinggi gagal memimpin, karena lebih sibuk mempertahankan citra atau kekuasaan ketimbang mengurus rakyat. Di sisi lain, ada sebagian kepala desa yang pendidikannya sederhana, dicintai warganya karena mampu hadir ditengah-tengah masyarakat, mendengar keluhannya, serta menghadirkan solusi.
Ukuran kepemimpinan pada akhirnya kembali pada suatu hal yaitu kepercayaan. Publik tidak menilai panjangnya gelar di belakang nama, melainkan seperapa jauh pemimpin itu memenuhi janji, menegakan keadilan, dan menghadirkan kesejahteraan. Leadership adalah amanah yang diuji melalui kepercayaan publik, bukan melalui nilai akademisi di transkip.
Kecenderungan masyarakat yang masih mengultuskan gelar berpotensi menyesatkan. Budaya ini bisa mendorong munculnya pemimpin instan yang hanya mengandalkan gelar demi legitimasi politik, tanpa memiliki jiwa kepemimpinan. Akibatnya kita sering terjebak memilih pemimpin karena prestise akademik, bukan karena kapasitas dan integritas. Jika hal ini berlanjut, maka kualitas kepemimpinan akan rapuh.
Namun, menegaskan leadership tidak ditentukan dengan gelar bukan dimaksudkan meremehkan pendidikan. Pendidikan sangat penting sebagai bekal pengetahuan, analisa, dan etika. Akan tetapi, pendidikan harusnya menjadi alat untuk memperkuat karakter kepemimpinan, bukan sekedar ornamen status sosial. Pendidikan yang sejati adalah untuk melatih sesorang berfikir, kritis, peduli, dan berani mengambil keputusan. Nilai-nilai inilah yang membentuk kepemimpinan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks, kita membutuhkan seorang pemimpin bukan hanya cerdas di ruang akademik, melainkan juga tangguh di lapangan, berintegritas, dan visioner. Gelar bisa dipelajari, tetapi leadership harus dibuktikan. Gelar boleh memberi legitimasi, tetapi kempemimpinan yang menentukan apakah sesorang layak untuk diikuti atau ditinggalkan. Oleh karena itu masyarakat harus merubah cara pandang: Ukuran leadership bukan pendidikan tinggi formal, melainkan seberapa besar teladan dan manfaat yang ia hadirkan bagi orang banyak.
Tardi Setiabudi: Dosen di Universitas Setia Budhi Rangkasbitung
