Konten dari Pengguna

Memahami Mengapa Kita Cepat Lupa dan Bagaimana Cara Mengatasinya

Tasya Putri Wardani Alting

Tasya Putri Wardani Alting

Mahasiswa program studi Psikologi Universitas Brawijaya

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Tasya Putri Wardani Alting tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi orang kebingungan. Sumber: iStock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi orang kebingungan. Sumber: iStock

Pernahkah kalian merasa sering cepat lupa ketika meletakkan suatu barang yang kalian miliki? atau mungkin kalian sudah berusaha keras belajar, namun ketika menghadapi ujian, materi yang kalian pelajari hilang begitu saja? Hal ini terjadi bukan karena kurang istirahat, namun ini merupakan bentuk cara kerja alami dari sistem memori pada otak manusia.

Menurut studi neurosains, daya ingat atau memori manusia berkaitan dengan bagaimana proses belajar seseorang. Hal ini karena memori itu sendiri memungkinkan seseorang untuk mengambil dan menyimpan informasi yang ia pelajari ke dalam otaknya. Sehingga, daya ingat seseorang bergantung pada proses belajarnya, begitupun sebaliknya, proses belajar seseorang bergantung pada daya ingatnya.

Untuk itu, kita harus benar-benar memahami cara kerja memori manusia agar kita dapat mencapai proses pembelajaran yang optimal dan mengatasi permasalahan lupa pada kehidupan sehari-hari kita.

Menurut neurosains, masalah lupa ini merupakan bentuk kegagalan dalam sistematis otak manusia dalam memproses, menghubungkan, dan menyimpan informasi secara permanen pada bank memori jangka panjang (Long Term Memory) karena kurangnya upaya mempertahankan dan melakukan pengulangan informasi sehingga informasi tersebut hanya tersimpan sementara di memori jangka pendek (Short Term Memory) selama 15-30 detik saja dan lekas menghilang karena tidak berhasil diolah untuk disimpan secara permanen di memori jangka panjang. Selain itu, kurangnya pemberian pemaknaan kuat pada informasi membuat informasi tersebut akan cepat terlupakan karena dalam proses pembelajaran, informasi yang diterima harus masuk akal dan memiliki arti relevansi informasi yang diterima dengan pengalaman pelajar tersebut.

Ilustrasi otak tengah. Sumber: iStock

Dalam memastikan informasi yang diterima dapat tersimpan dengan baik di bank memori jangka panjang, maka limbic system (otak tengah) yaitu hippocampus pada otak memiliki peran yang sangat penting. Hippocampus adalah bagian otak yang terletak di lobus temporal yang berfungsi sebagai penjaga pintu bank memori atau yang memfilter informasi apakah perlu masuk dan diproses ke dalam memori jangka panjang atau tidak. Sehingga, ketika sebuah informasi akan diproses untuk disimpan, informasi tersebut akan diantar oleh segenap panca indera, lalu diperiksa melewati thalamus atau pusat inti otak, setelah informasi tersebut dianggap penting, hippocampus akan mengirimkan informasi tersebut untuk diolah dan disimpan secara permanen di bank memori jangka panjang.

Memori jangka panjang sendiri terbagi menjadi 2 jenis memori, yaitu memori eksplisit dan memori implisit. Memori eksplisit merupakan memori yang merekam ingatan yang berbentuk kata-kata seperti mengingat tanggal lahir atau mengingat suatu peristiwa atau pengalaman. Sedangkan memori implisit merupakan memori yang menyimpan keterampilan motorik atau suatu kebiasaan yang tidak diungkapkan dengan kata-kata seperti mengendarai motor atau menulis diatas kertas.

Lalu bagaimana caranya agar informasi penting yang kita terima sehari-hari dapat diproses dan tersimpan secara permanen di bank memori jangka panjang?

Kita hanya perlu memahami cara kerja memori dalam otak kita, lalu menyusun strategi untuk memastikan informasi yang kita terima bisa diproses dan tersimpan di bank memori jangka panjang. Menurut ilmuwan neurosains, terdapat 3 strategi yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan daya ingat, seperti:

  1. Melakukan Pengulangan Informasi Penting (Repetition). Seperti yang sudah dijelaskan, memori jangka pendek hanya menyimpan informasi selama 15-30 detik saja, sehingga agar informasi dapat tersimpan dengan permanen, kita butuh melakukan pengulangan informasi tersebut. Ketika kita sering mengulang hal yang kita anggap penting, maka sensasi sistem saraf kita akan selalu diperkuat dalam pusat memori otak kita.

  2. Belajar Yang Terorganisir dan Sistematis. Karena proses belajar kita bergantung terhadap daya ingat kita, maka proses proses belajar yang terorganisir dengan baik akan membuat daya ingat kita terstruktur dan sistematis dalam menyimpan informasi. Ini akan mempermudah untuk kembali mengingat informasi saat dibutuhkan. Selain itu, informasi yang kita terima harus memiliki arti dan relevansi terhadap pengalaman atau diri kita sendiri agar dapat dengan mudah disimpan di bank memori jangka panjang.

  3. Mengonsumsi Makanan Sehat Bergizi. Selain menyusun strategi belajar, aspek fisik juga perlu diperhatikan. Dengan mengonsumsi makanan sehat, terutama makanan yang mengandung protein, akan membantu proses kerja dan regenerasi sistem saraf yang secara langsung mendukung proses daya ingat.

Memahami cara kerja memori kita dalam otak akan memudahkan kita untuk meningkatkan daya ingat kita. Lupa bukan tanda kurang istirahat semata, namun merupakan hasil dari kegagalan mentransfer informasi dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang yang permanen, yang disebabkan kurangnya pengulangan, pengorganisasian, dan pemaknaan informasi tersebut.

Dengan menerapkan strategi yang disarankan, maka kita memaksa otak untuk memproses informasi secara mendalam yang dapat memperkuat jaringan sinapsis dan membuat informasi tersebut dapat tersimpan di bank memori jangka panjang kita. Kita harus terus mengoptimalkan proses kerja otak kita dengan berpikir dan belajar, agar otak kita terus berkembang. Jika kita tidak mengoptimalkan proses kerja otak, maka otak akan mereduksi dan cepat pikun. Sehingga, penting bagi kita untuk memahami proses kerja otak dan menerapkan strategi pengoptimalan daya ingat agar otak kita terus berkembang dengan baik.