Konten dari Pengguna

Apa Itu Alexithymia ?

Tasya Vania Liani

Tasya Vania Liani

Seorang Mahasiswa Psikologi di Universitas Brawijaya

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Tasya Vania Liani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebagai manusia yang hakikatnya merupakan makhluk sosial, sudah pasti kita tidak dapat hidup sendiri dan memerlukan peran dari orang di sekitar kita. Berangkat dari hal tersebut, terciptalah sebuah proses yang kita sebut “interaksi”. Seperti yang telah kita ketahui, salah satu syarat terjadinya sebuah interaksi adalah komunikasi. Kemudian komunikasi tersebut akan menimbulkan ekspresi atau yang biasa kita kenal sebagai “ekspresi wajah” yang fungsinya untuk mengungkapkan emosi kita.

Bagi yang belum tahu, emosi ini berperan penting dalam suatu interaksi atau hubungan karena emosi dapat menjadi indikator untuk menilai baik atau buruknya hubungan tersebut. Selain itu, prinsip dari emosi ini sendiri juga untuk menggambarkan perasaan manusia dalam menghadapi berbagai situasi yang berbeda.

Namun, kalian pernah ga sih, merasa sulit atau bingung bagaimana cara mengungkapkan atau bahkan mendeskripsikan emosi kalian kepada orang lain? Di dunia ini, pasti tidak semua orang mampu mengungkapkan atau mengekspresikan emosi mereka baik kepada orang lain, maupun dirinya sendiri. Fenomena tersebut bisa kita sebut sebagai “Alexithymia”.

credit : pinterest

Alexithymia Itu Apa Sih?

Alexithymia merupakan sebuah kondisi di mana penderitanya mengalami kesulitan dalam membedakan perasaan dan sensasi somatik dari dorongan emosi. Istilah “Alexithymia” sendiri sudah ada sejak awal tahun 1972, diperkenalkan oleh seorang profesor dan ahli kejiwaan dari Harvard Medical School. Terminologi alexithymia diambil dari bahasa Yunani yang secara harfiah berarti “tidak ada kata-kata untuk emosi”.

Dengan demikian, alexithymia bisa kita simpulkan sebagai ketidakmampuan seseorang dalam mengidentifikasi, menggambarkan, dan mengungkapkan emosinya kepada orang lain.

Banyak Ga Sih yang Menderita Alexithymia?

Di zaman yang serba mengandalkan teknologi ini, kita sadar bahwa sebagian besar dari masyarakat lebih mementingkan kebutuhan duniawinya, seperti mengejar karir. Prioritas dalam mengejar karir ini menjadikan masyarakat lebih fokus pada hal-hal materil sehingga tanpa sadar mengenyampingkan hal vital lainnya, semisal mental atau perasaan mereka sendiri. Sudah pasti hal tersebut dapat mengakibatkan dampak negatif, khususnya dalam peran emosi.

Contoh dari dampak negatif ini, di antaranya mereka dapat kehilangan kesadaran emosional, ikatan sosial, dan hubungan interpersonalnya.

Menurut riset terbaru yang dilakukan oleh SISSA (Scuola Internazionale Superiore Study Avanzati) di Trieste dan dipublikasikan melalui jurnal ilmiah, terbitan tahun 2018, telah ditemukan bahwa 10 persen populasi di dunia menderita alexithymia.

Penderita Alexithymia selama ini dikenal sebagai sosok yang logis, tidak sentimentil, dan tidak bersahabat. Di samping itu, dalam mengambil keputusan, penderita alexithymia juga lebih mendasari prinsip daripada perasaannya sehingga ketika dihadapi dengan sebuah pertanyaan “Bagaimana perasaannya?”, mereka kebingungan untuk mendeskripsikannya.

Secara umum, penderita Alexithymia paham akan dirinya yang sedang merasakan emosi “senang”, tetapi mereka tidak tahu bagaimana cara mengungkapkannya kepada orang lain.

Dapat kita simpulkan lagi, penderita alexithymia juga bukan tidak sensitif terhadap rangsangan yang diberikan, melainkan mereka tidak bisa menjelaskan atau mengungkapkan perasaannya.

Menurut Moorman, Alexithymia ini terdiri dari dua aspek :

  1. Kognitif merupakan kemampuan verbal (verbalize), mengidentifikasi (identify), dan menganalisa (analyze)

  2. Afektif merupakan kemampuan untuk mengelola emosi dan berfantasi atau imajinas

Alexithymia Itu Penyakit Jiwa atau Gangguan Mental?

Berdasarkan sumber bacaan artikel yang saya gunakan sebagai bahan acuan, dijelaskan bahwa alexithymia ini bukan merupakan penyakit jiwa ataupun gangguan mental, tetapi lebih bersifat subklinis.

Akan tetapi, alexithymia tetap diakui sebagai fenomena psikologis dan kondisi alexithymia ini juga sering dikaitkan bahkan muncul bersamaan dengan gangguan mental lainnya, seperti depresi, PTSD, autisme, dan skizofrenia.

Faktor-Faktor Apa yang Bisa Mempengaruhi Alexithymia?

Penyebab dari alexithymia ini masih belum diketahui secara pasti. Akan tetapi, para ahli telah menduga bahwa terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhinya.

Pertama, kecerdasan emosi. Kecerdasan emosi ini merupakan kemampuan yang dimiliki seseorang untuk mengontrol emosi dalam dirinya dan orang lain.

Kedua, attachment style ‘gaya kelekatan’. Hal ini merupakan bentuk dari keterikatan emosi antarindividu dan faktor ini memiliki peranan yang penting.

Ketiga, faktor lingkungan atau “post traumatic stress disorder”. Menurut Thompson (2009), trauma merupakan salah satu penyebab terjadinya alexithymia.

Keempat, faktor genetik. Jika ada kerabat atau keluarga kita yang memiliki riwayat alexithymia, besar kemungkinan bagi kita untuk dapat terjangkit alexithymia.

Faktor yang terakhir, kerusakan otak. Penderita alexithymia mengalami kerusakan otak yang berhubungan pada bagian otak yang disebut anterior insula, bagian tersebut memiliki hubungan dengan sistem limbik di mana sistem ini merupakan struktur pada otak yang berkaitan dengan perasaan dan memori.

Sebagai tambahan, bagian otak “insula” memiliki beberapa fungsi, yaitu persepsi rasa bau, kontrol visceral dan somatoperception, vestibular (keseimbangan tubuh dan kontrol tubuh), integrasi informasi emosional dan perseptif, keterlibatan dalam kecanduan, serta yang terakhir fungsi ini berhubungan dengan alexithymia, yakni pengakuan empati dan emosional.

Bagaimana Karakteristik dari Penderita Alexithymia ?

Menurut Taylor, Bagby, dan Parker (1997), alexithymia ini memiliki empat karakteristik :

Pertama, kesulitan untuk mengenali perasaan. Di sini individu akan mengalami kesulitan untuk membedakan perasaan dengan sensasi tubuh mereka saat mengalami dorongan emosional (Nemiah, Freyberger, dan Sifneos dalam Taylor dan Bagby, 2013).

Kedua, kesulitan untuk mendeskripsikan perasaan melalui kata-kata. Seperti yang telah saya jelaskan di awal penderita mengalami kendala jika ditanya bagaimana perasaannya, mereka akan kebingungan dengan kata-kata apa yang akan mereka gunakan agar orang lain mengerti perasaan mereka.

Ketiga, keterbatasan imajinasi. Imajinasi yang dimaksud di sini adalah kemampuan individu untuk menciptakan gambaran secara mental di dalam pikirannya berdasarkan pengalaman konkret-sensori (Thompson,2009).

Thompson (2009) juga menjelaskan bahwa proses imajinasi memiliki fungsi yang penting sebagai kemampuan untuk membayangkan emosi, harapan, keinginan, meregulasi intensitas dan ekspresi emosi, dan untuk membayangkan atau menempatkan diri sebagai orang lain “empati”.

Untuk karakteristik yang terakhir, externally oriented cognitive style. Apa itu externally oriented cognitive style? Externally oriented cognitive style adalah kondisi di mana seseorang memunculkan hal-hal dan peristiwa ke pemahaman di luar individu dari pikiran dan perasaan yang ada di dalam diri individu.

Dalam kasus yang umum, hal tersebut terjadi pada penderita alexithymia level tinggi, contohnya penderita akan lebih mudah untuk menganalisis dibandingkan menggambarkannya.

Selain itu, pada penderita alexithymia level tinggi juga akan mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan orang di sekitarnya.

Bagaimana Cara Penanganannya?

Dari penjabaran diatas, dapat kita ketahui bahwa alexithymia merupakan suatu kondisi yang tidak ideal. Namun, bukan berarti alexithymia tidak bisa kita sembuhkan. Ada beberapa penanganan yang bisa dilakukan untuk para penderita.

Pertama, melakukan terapi perilaku kognitif atau yang kita kenal dengan “Cognitive Behavioural Therapy” (CBT). Dalam terapi ini, kita akan diobati secara bertahap untuk menghadapi hal-hal yang kita takuti.

Selain itu, kita juga diyakinkan bahwa tidak akan ada hal buruk yang terjadi jika kita bisa melawan ketakutan kita.

Kedua, terapi berkelompok, terapi ini memiliki kegunaan untuk menghilangkan perasaan sendiri atau terisolasi pada diri pasien sehingga bisa membantu menghilangkan kecemasan yang dia rasakan dan mendorongnya untuk mau membicarakan isi hatinya.

Terakhir, mengunjungi psikoterapi (terapi bercerita), seperti yang kita ketahui, di sini psikoterapi memiliki tujuan untuk memperkuat motivasi penderita alexithymia agar mereka dapat melakukan hal yang benar, tidak hanya itu, terapi ini juga tidak menggunakan obat-obatan.

Namun, pada penderita alexithymia yang sudah pada tahap depresi, mereka akan diberikan obat-obatan yang sifatnya sebagai antidepresan.

Oleh karena itu, bila kita merasa diri kita termasuk ke dalam karakteristik alexithymia, kita bisa segera konsultasi ke para ahli agar dapat segera ditangani dan tidak berlanjut semakin parah.

Daftar Pustaka

Febriansyah. (2019, Desember 18). Mengenal Alexithymia Kondisi yang Bikin Susah Ungkapkan Emosi. tirto.id.

https://tirto.id/mengenal-alexithymia-kondisi-yang-bikin-susah-ungkapkan-emosi-enGP

Maulanski. (2016, Desember 2). Definisi Kelekatan -Attachment: Variabel Psikologi. PsikologiHore. https://psikologihore.com/definisi-kelekatan-attachment/

Fajariyah, P. N. (2020, Desember 14). “Resillience Ability”, Katakan Tidak Pada Merasa Menjadi Pribadi Tidak

Berguna. kompasiana.

Ringkas Kata. (2020, Agustus 10). Penderita Alexithymia Sulit Ungkapkan Perasaan Pada Orang Lain, Ini

Tanda-Tandanya.

http://www.ringkaskata.com/2020/08/10/penderita-alexithymia-sulit-ungkapkan-perasaan-pada-orang-lain-ini-tand

a-tandanya/

National Geographic. (2019, Desember 19). Alexithymia, Kondisi yang Membuat Seseorang Sulit Mengenali dan

Menyampaikan Emosi.

https://nationalgeographic.grid.id/read/131958973/alexithymia-kondisi-yang-membuat-seseorang-sulit-mengenalidan-menyampaikan-emosi?page=all

Psikologiuinjkt. (2019, Agustus 15). Peter Paul Moorman: Visiting Professor dari Universitas Amsterdam

Memberikan Kuliah Tentang Alexithymia.

http://psikologi.uinjkt.ac.id/peter-paul-moorman-visiting-professor-dari-universitas-amsterdam-memberikan-kuliah

-tentang-alexithymia/

Setiawan, S. (2020, November 28). “Emosi” Pengertian Menurut Para Ahli & Bentuk (Positif-Negatif). guru

pendidikan. https://www.gurupendidikan.co.id/pengertian-emosi/

Detikhealth. (2010, Januari 17). Alexithymia, Jika Hidup Terlalu Logis dan Tak Pakai Perasaan.

https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-1818166/alexithymia-jika-hidup-terlalu-logis-dan-tak-pakai-perasaan

Yusainy, C. (2017). Feeling Full or Empty Inside? Peran Perbedaan Individual dalam Struktur Pengalaman

Afektif. Jurnal Psikologi, 44(1), 1-17.

https://media.neliti.com/media/publications/139390-ID-feeling-full-or-empty-inside-peran-perbe.pdf

http://eprints.mercubuana-yogya.ac.id/5654/3/BAB%20II.pdf

Muhardi, F. (2019). Hubungan Level Alexithymia dengan Keterampilan Interpersonal Pada Remaja. etd.unsyiah.

https://etd.unsyiah.ac.id/baca/index.php?id=63118&page=1

Idnmedis. (n.d). Alexithymia: Penyebab, Gejala, dan Pengobatan. https://idnmedis.com/alexithymia

Putra, A. (2020, September 13). Alexithymia Membuat Seseorang Sulit Mengungkapkan Emosi, Ketahui

Penyebabnya. SehatQ.

https://www.sehatq.com/artikel/alexithymia-membuat-seseorang-sulit-mengungkapkan-emosi-ketahui-penyebabn

ya

Id sainte. Anatomi Insula dan Fungsi Bagian Otak Ini.

https://id.sainte-anastasie.org/articles/neurociencias/la-nsula-anatoma-y-funciones-de-esta-parte-del-cerebro.htm