Kumpulan Cerita Hewan Anak (Fabel)

Mahasiswa Sastra Inggris UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Konten dari Pengguna
25 November 2022 6:26
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Thasyalina amarthalia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Cerita 1:

Si Kera Yang Sombong

https://www.istockphoto.com/id/vektor/pemandangan-hutan-yang-sejuk-dengan-kartun-grass-hill-dan-trees-gm1194795330-340345142
zoom-in-whitePerbesar
https://www.istockphoto.com/id/vektor/pemandangan-hutan-yang-sejuk-dengan-kartun-grass-hill-dan-trees-gm1194795330-340345142
Segerombolan kera yang angkuh agresif bergelantungan diatas pohon, ekornya yang panjang melilit dahan pohon, matanya sambil menatap buah- buahan segar yang ada diatas pohon, terkumpul sudah semua buah-buahan yang mereka panen hari ini, hampir semua berbagai jenis buah-buahan mereka miliki. Mereka memakan buah-buhan tersebut dengan lahap sambil berpesta merayakan hasil panennya.
ADVERTISEMENT
Sementara itu, datanglah seekor kancil dengan wajah yang suram,badan kurus kering dan matanya merah, kancil tersebut sudah tiga hari tidak makan karena buah-buahan yang kancil panen telah gagal. Sang kancil memohon kepada para monyet untuk memberikannya sebuah apel merah yang telah mereka panen hari itu.
“Wahai kera apakah aku boleh meminta sebuah apel merah yang kau panen, perutku sangat lapar sudah tiga hari aku tidak makan.”
Tetapi, sang kera merasa sedikit angkuh dan egois karena dia tidak mau berbagi buah-buahan selain berbagi dengan kera-kera lainnya.
“Tidak…! Saya tidak mau berbagi makanan dengan binatang lain selain dengan kera-kera lainnya.”
Kancil sedikit terkejut dengan ucapan kera itu, ia sedih dan dia merasa kecewa terhadap kera karena mereka tidak mau berbagi buah-buahan kepadanya, padahal sesama binatang harus saling memberi dan tolong menolong agar kehidupan di hutan bisa aman dan tentram. Kancil lalu pergi meninggalkan segerombolan kera tersebut dengan rasa putus asa.
ADVERTISEMENT
Saat tibanya matahari mulai terbenam, seketika hujan membasahi hutan diiringi dengan angin yang meniup kencang hutan tersebut.
“Hujan.. Hujan…! Air sebentar lagi akan naik kedaratan dan angin akan semakin kencang.”
Segerombolan kera pergi berlari menyelamatkan diri dari terpaan air hujan, mereka semua berpencar dan lari terbirit-birit. Sementara itu, seekor kera yang egois kesusahan untuk melarikan diri, dengan perutnya yang besar penuh dengan makanan dan sebuah pisang ditangannya ia bergelantungan dari dahan pohon satu ke dahan pohon lainnya, tak lama kemudian tangannya terlepas dari dahan pohon.
“ Aaaaaaa…. Tolong… ( byurrr)
Lalu, ia pun terjatuh ke sungai dimana sungai tersebut airnya sedang meluap besar. Perutnya pun merasa sakit karena ia kelelahan bergelantungan di dahan pohon. Air yang besar membawa kera tersebut jauh ke tengah hutan belantara yang rimbun dan gelap, hanya ada sedikit cahaya matahari yang menerangi hutan tersebut.
ADVERTISEMENT
Tiba saatnya hujan mulai reda dan kera pun mulai sadar, ternyata ia tersesat jauh terpisah dari gerombolannya. Ia merasa terkejut dan ketakutan karena saat ia mulai sadar dihutan tersebut sangatlah gelap, hanya ada beberapa cahaya yang menerangi hutan tersebut. Degan kaki yang pincang karena terluka saat ia terbawa arus kera tersebut hanya bisa menyusuri hutan sambil mencari bantuan , sudah 1 hari berlalu tetapi tetap saja tidak ada seorangpun yang ada dihutan tersebut, kera hanya bisa pasrah dan memutuskan untuk mencari tempat berlindung agar ia bisa istirahat dengan nyaman malam ini. Tak lama kemudian kera menemukan pohon yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu jauh dari sungai, ia menghampiri pohon tersebut sambil melihat keadaan apakah pohon tersebut akan aman dan nyaman. Kera memutuskan akan tinggal di atas pohon tersebut dan ia pun segera beristirahat karena malam akan segera tiba.
ADVERTISEMENT
Matahari muncul perlahan menandakan pagi akan segera tiba, kera kembali terbangun dari tidurnya yang nyenyak tersebut, ia memutuskan untuk mencari makanan yang tidak jauh dari tempat tinggalnya, kera hanya menemukan 2 buah mangga dan 1 buah apel di dekat sungai. Ia kembali ketempat ia beristirahat semalam, buah ini hanya cukup untuk 2 hari saja itu pun menurutnya kurang, tetapi kera berusaha untuk memakan perlahan agar nantinya dia tidak kelaparan. Saat kera sedang menyantap makanan tersebut ia mendengar suara dari balik semak-semak.
“ Krusuk…Krusuk…Krusuk….”
“ Hai apakan ada seseorang disana..?”
Ia berharap itu adalah seseorang yang bisa membatunya untuk mencari jalan pulang. Kera menghampiri semak-semak tersebut dan ternyata ia melihat seekor harimau yang sedang tertidur pulas, kera terkejut dan bergegas berusaha untuk kabur dari tempat tersebut.
ADVERTISEMENT
“Kertakkk….”
Ternyata kera menginjak dahan kayu yang membuat harimau tersebut menjadi bangun, seketika suasanan menjadi panik dan kera terus berlali, tetapi ia tidak bisa berlari dan bergelatung dengan cepat karena luka pada kaki kera masih saja belum sembuh. Harimau tersebut terus saja mengejar kera yang sudah lari dari hadapannya, kera hampir saja tercengkram oleh harimau yang akhirnya lolos. Saat dipersimpangan jalan kera bertemu dengan kancil, kancil mengajak kera tersebut untuk bersembunyi di dalam gua kecil yang tertutupi oleh pohon pohon besar disekitarnya.
" Kera ayo kita sembunyi "
Mereka terus bersembunyi bersama hingga harimau pergi jauh dari hutan tersebut, saat keadaan mulai aman kera dan kancil akhirnya keluar dari gua. Setelah itu kera berterimakasih kepada kancil karena telah membatunya kabur dari kejaran harimau dantak lupa ia pun meminta maaf atas kejadian saat kancil yang sedang memita sebuah apel tetapi kera tidak mau mambaginya. Kera menyesali semua perbuatannya dan ia berjanji tidak akan mengulangi hal tersebut lagi kepada siapapun.
ADVERTISEMENT
“ Kancil terimakasih telah membantu ku…”
“ Dan aku minta maaf atas kejadian dulu saat kau memita sebuah apel..”
Kancilpun menerima permintaan maaf kera dengan senang hati dan kancil tidak menyimpat dendam sedikitpun kepada kera.
“ Tidak apa kera, aku memaafkan mu..”
Akhirnya mereka berdua kembali pulang bersama dan mencari teman- teman mereka yang terpisah jauh.
~Tamat~
Cerita 2:

Tiga Sekawa

https://filiasukanulis.com/peran-generasi-muda-dalam-upaya-perlindungan-hutan-di-indonesia/
zoom-in-whitePerbesar
https://filiasukanulis.com/peran-generasi-muda-dalam-upaya-perlindungan-hutan-di-indonesia/
Pada suatu hari segerombolan tikus sedang bermain di dekat hutan, mereka adalah tiga sekawan yang saling akrab satu sama lain dan tikus tersebut memiliki nama masing- masing, ada Dono, Regi dan Dika. Mereka kemana- mana selau bersama mulai dari mandi, makan,dan tidur mereka tidak jauh dari satu sama lain.
ADVERTISEMENT
Suatu hari ketika mereka sedang bermain di depan halaman rumah, datanglah Budi teman bermainnya dengan membawa roti di tangannya.
“ Hai kawan ! Sedang apa kalian ?”. (kata Budi)
“ Kami sedang bermain bola “
“ Ehh kamu bawa apa ?” (Dono kembali bertanya)
“ Aku membawa sebungkus roti yang aku temukan tadi dijalan ” (Sahut Budi)
“ Kami mau “ (jawab ke 3 trio sekawan itu serentak)
Kemudian Budi memberikan sebungkus roti itu kepada mereka, Budi berpesan agar rotinya dibagi 3 dan cuci tangan dulu sebelun memegang dan memakan rotinya agar tidak sakit perut.
Namun rupanya trio sekawan itu tak menghiraukan nasehat Budi, bahkan mereka berebut untuk mengambil dan memakan roti tersebut.
ADVERTISEMENT
Ketika malam hari trio sekawan itu tiba-tiba merasakan sakit perut yang hebat dan merengek kesakitan.
“ Aduh! Aduh! Perutku sangat sakit!” (Regi merengek)
“ Iya benar perutku juga sakit sekali “ ( Sahut Dika)
Rupanya mereka bertiga diare dan terus-terusan buang air besar sehingga badan mereka menjadi lemas dan tidak berdaya. Mereka ingat bahwa tadi siang mereka sudah makan roti pembarian dari Budi dan memakannya langsung tidak cuci tangan terlebih dahulu alhasil mereka semua diare dan menyesali perbuatan tersebut. Nah itulah ganjaran bagi anak yang serakah dan malas cuci tangan. Tetapi mereka b erjanji mulai sekarang akan melajar untuk menjadi lebih bersih dan higienis.
~Tamat~
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020