Mindless Scrolling: Gimana Screen Time Mengubah Cara Kerja Otak

Mahasiswi S1 Akuntansi Universitas Pamulang yang senang menghabiskan waktu luang saya dengan mempelajari berbagai hal baru yang menyenangkan dan bermanfaat.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Natasya Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di era digital seperti sekarang, menggunakan ponsel seolah sudah jadi bagian dari bagian harian kita dalam sehari-hari. Bangun tidur cek notifikasi, pas nunggu kelas scrolling media sosial, bahkan saat mau tidur pun masih sempat-sempatnya scrolling media sosial. Tanpa disadari, durasi menatap layar atau screen time kita dalam sehari bisa melampaui batas waktu yang disarankan.
Ponsel memang bikin banyak hal jadi jauh lebih praktis dan serba cepat. Tapi di balik kemudahan penggunaan ponsel, pernahkah kamu merasa cara berfikir atau kemampuan fokusmu pelan-pelan berubah? Durasi screen time yang tinggi ternyata gak cuma berdampak ke kesehatan mata, tapi juga membentuk ulang pola pikir dan cara kerja otak kita. Dampak Positif: Cepat Memproses Informasi dan Wawasan yang Sangat Luas

Jika dipakai dengan bijak, screen time sebenarnya memberikan dampak positif yang lumayan besar bagi perkembangan kognitif. Anak muda zaman sekarang cenderung lebih fleksibel dan cepat beradaptasi dengan teknologi baru. Akses informasi yang terbuka lebar juga memudahkan kita untuk belajar hal-hal baru dalam waktu singkat. Mulai dari ikut kursus online, baca informasi terbaru, sampai memantau isu-isu global di media sosial, semuanya bisa melatih perspektif kita jadi lebih terbuka dan kritis dalam melihat suatu masalah di segala aspek.
Dampak Negatif: Rentang Perhatian Memendek dan Budaya Instan
Sayangnya, kini masalah mulai muncul ketika penggunaan layar ini sudah melebihi batas alias excessive screen time. Konsumsi konten atau video berdurasi pendek yang serba cepat melatih otak kita untuk terbiasa dengan dorongan instan (instant gratification). Dampaknya, rentang perhatian anak muda jadi semakin pendek. Kita jadi gampang merasa bosan dan kesulitan saat harus fokus pada tugas-tugas yang membutuhkan ketenangan dan ketelitian seperti membaca buku, menyusun laporan, atau mendengarkan penjelasan dalam waktu yang lama.
Selain itu, kebiasaan membaca cepat (skimming) di layar membuat kita terbiasa memproses informasi secara dangkal. Kita jadi malas melakukan analisis mendalam terhadap informasi tersebut dan cenderung mudah percaya pada informasi yang sebenarnya belum tentu benar. Belum lagi dampak dari social comparison di media sosial yang sering kali memicu rasa cemas dan merasa tidak cukup, merasa tertinggal (FOMO), dan merusak rasa percaya diri. Gimana Cara Mengatasinya?
Tentu aja kita gak bisa dan gak perlu menjauhi teknologi sepenuhnya. Kuncinya ada pada kesadaran kita sendiri untuk membatasi penggunaan teknologi agar tidak dikendalikan oleh algoritma di media sosial.
Ada beberapa langkah sederhana yang bisa mulai kita terapkan dalam sehari-hari:
1. Pasang batasan waktu aplikasi (screen time limit): Beri batasan khusus untuk aplikasi hiburan atau media sosial yang paling sering menghabiskan waktumu.
2. Ubah konsumsi pasif jadi aktif: Kurangi sekadar mindless scrolling. Gunakan waktu di depan layar untuk hal-hal yang lebih produktif seperti membaca informasi penting, belajar skill baru, atau berdiskusi.
3. Terapkan digital detox sebelum tidur: Jauhkan ponsel minimal satu jam sebelum tidur agar produksi hormon melatonin tidak terganggu dan kualitas tidur tetap terjaga.
Pada akhirnya, gawai dan media sosial hanyalah sebuah alat. Seberapa bermanfaat atau merugikannya teknologi tersebut, kembali lagi ke bagaimana cara kita mengelolanya. Sebelum kembali mengusap layar HP-mu hari ini, coba tanyakan pada diri sendiri: Apakah durasi layarmu hari ini bikin kamu tambah berkembang, atau justru bikin pikiranmu makin tumpul?
