Dari Cianjur ke Panggung Nasional: Perjuangan KH. R. Muhammad Nuh bin Idris

Pegiat Student Rihlah Indonesia
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Tatang Hidayat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

KH. R. Muhammad Nuh bin Idris merupakan ayahnya ulama legendaris nusantara, KH. Abdullah bin Nuh. Namanya jarang dituliskan dan jarang disebut dalam deretan ulama-ulama besar Sunda awal abad ke-20. Sementara faktanya KH. R. Muhammad Nuh (1878-1966) adalah salah satu ulama Sunda perintis awal abad ke-19 yang belajar di Mekkah bersama-sama dengan beberapa ulama sunda besar lainnya seangkatan seperti KH. Abdul Halim (Majalengka) dan KH. Ahmad Sanusi (Sukabumi) serta para ulama lain dari Biladil Jawi yang seangkatan seperti KH. Hasyim Asya’ary (NU) dan KH. Ahmad Dahlan (Muhammadiyah) (Moeflich Hasbullah, 2025).
Jaringan ini menghubungkan dirinya dengan beberapa ulama besar tanah sunda lainnya pada masa itu seperti Ajengan Muhammad Syatibi Gentur (Cianjur), Ajengan Syuja’i Kudang (Tasikmalaya). KH. R. Muhammad Nuh bin Idris, Ajengan Bakri Sempur (Purwakarta), Ajengan Ahmad Sanusi (Gunung Puyuh Sukabumi), Ajengan Falak Pagentongan (Bogor), Ajengan Alqo Sukamiskin (Bandung), Ajengan Abdul Halim (Majalengka), Ajengan Abbas Buntet (Cirebon) dan lain-lain (Moeflich Hasbullah, 2025).
KH. R. Muhammad Nuh juga menjadi salah satu simpul utama dari jaringan intelectual sunda pada paruh pertama abad ke-20. Ia adalah junior seperguruan dari Kiai Hasyim Asy’ary. Keduanya sama-sama murid dari Syaikh Mukhtar Bogor, Syaikh Mahfuzh Tremas, Syaikh Sa’id Yamani Al-Makki, Syaikh ‘Umar Hamdan Al Mahrasi, dan ulama-ulama Mekkah berhaluan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah (Moeflich Hasbullah, 2025).
KH. R. Muhammad Nuh menorehkan banyak peninggalan penting sejarah. Sepulang dari Makkah, mendirikan perguruan /Madrasah Al-I’anah di Cianjur pada 17 September 1912 yang hingga kini masih berdiri dan menjadi kebanggaan masyarakat Cianjur. Muhammad Nuh juga seorang ulama yang hafidz Al Quran dan muqodam perkembangan tarekat TIjani di Cianjur, terkait juga dengan perkembangan Sarekat Islam (SI) di Cianjur dan persiapan NATICO I (National Congress, CSI di Bandung 17-24 Juni 1916) yang monumental itu karena selama tahun 1915-1919, ia diangkat menjadi advisor (penasehat) Sarekat Islam O.S Tjokroaminoto (Moeflich Hasbullah, 2025).
Terhubung dengan Nama Al-I’anah
Madrasal Al-I’anah berdiri pada Selasa, 17 September 1912 / 6 Syawal 1330 H. Penamaan Al-I’anah terhubung dengan nama sebuah kitab fiqih yang terkenal di Dunia pesantren di nusantara yakni kitab I’anah al-Thalibin atau judul lengkapnya Hasyiah I’anah al Thalibin ‘ala Hall Alfazh Fath Al-Mu’in karya Al-‘Allamah Abu Bakr Utsman bin Muhammad Syata al Dimyathi Al Bakri (1226-1310 H/ 1890 M).
KH. Ahmad Dahlan (Muhammadiyah), Kitab Al-I’anah dan KH. R. Muhammad Nuh
Madrasah Al-I’anah berdiri 17 September 1912 sebulan sebelum Muhammadiyah didirikan 18 November 1912. Nama Al I’anah pertama Kali dikenal KH. Ahmad Dahlan saat dirinya Kali pertama belajar di Makkah sebagai Muhammad Darwis dan berguru langsung dengan Sayyid Abu Bakar Syatha penyusun kitab tersebut. Untuk kedua kalinya ke Makkah, Ahmad Dahlan berguru (1903-1905) dan pulang ke Yogyakarta, maka antara tahun 1907-1908 berdakwah hingga ke daerah kaum Cianjur menemui sesama murid sewaktu di Makkah yaitu KH. R. Muhammad Nuh bin Idris. Dalam pertemuan itulah nama Al-I’anah diperbincangkan keduanya. Selain itu, atas saran dan dorongan KH. R Muhammad Nuh bin Idris, ia bersedia menikahi Nyai Siti Aisyah, putri penghulung Hooft Cianjur pada tahun 1908. Setahun kemudian, lahir putri tunggalnya Siti Dandanah (1909-1972) (Hamijaya, 2025).
Antara Tarekat Tijaniah dan Al Kholidiyah di Cianjur
Tarekat Naqsabandiyah Al Kholidiyah lebih dahulu di Cianjur dibawa oleh Krh. Hasan Al Kholidi bin R. H. Muhyidin Natapraja bin Dalem Muhyidin (Wiratanu V) pada tahun 1836. Tarekat Kholidiyah ini yang pernah diberitakan dengan sebutan Geger Tjiandjoer (1885) dengan fitnah akan melakukan pemberontakan. Saat terjadinya peristiwa itu, KH. Muhammad Nuh berusia 7 tahun. Perkembangan yang pesat di bawah kepemimpinan cucunya M. Isa Al Kholidi beliau dikenal dengna sebutan Mama Guru Isa yang mendirikan Madrasah Gedong Asem (1911).
Tijaniah di Cianjur: Sayyid Ali Al-Thoyyib
G.P Pijper menyebut Syaikh ‘Ali Al-Thayyib sebagai penyebar tarekat Tijaniyah yang bermukim di Cianjur, Bogor, Tasikmalaya dan kemudian wafat di Makkah. G.P Pijper dalam bukunya berjudul Fragmenta Islamica mengaku telah bertemu dan melakukan wawancara dengan Sayyid Ali Al Thoyyib di Lereng Gunung Gede Cianjur. Dengan demikian, di awal abad ke-19 di Cianjur berdiri dan berkembang tigas madrasah yaitu Al Muawwanah (Tijaniah), Gedong Asem (Al Kholidiyah) dan Madrasah Al I’anah. Madrasah Al I'anah adalah pusat pertama Tijaniyah karena KH. Muhammad Nuh adalah muqodam tarekat Tijaniyah.
Kiprah Sosial Politik dan Karya KH. R. Muhammad Nuh bin Idris
Pada saat gempa bumi cianjur terjadi Jumat, 28 Maret 1879 M / 5 Rabiul Akhir 1296 H. Saat itu, KH. Muhammad Nuh berusia 7 bulan. Dalam peristiwa itu pula saat tibanya sholat ashar di Masjid Agung Cianjur, ayahnya R. H. Idris bin R. H. Muhyi wafat akibat tertimpa bagian reruntuhan gempa. Berdasarkan perhitungan, KH. Muhammad Nuh dilahirkan pada September 1878 M / Ramadhan 1295 H. sedangkan wafatnya pada ahad malam Senin, 21 Maret 1966/29 Dzulqodah 1385 H.
Melihat kepada nasabnya, KH Rd Nuh bin Rd H Idris bin Rd H Arifin bin Rd H Sholeh bin Rd H Musyidin Nata Praja bin Rd Aria Wiratanudatar V (Dalem Muhyiddin) bin Rd Aria Wiratanudatar IV(Dalem Sabiruddin) bin Rd Aria Wiratanudatar III (Dalem Astramanggala) bin Rd Aria Wiratanudatar II (Dalem Wiramanggala) bin Rd Aria Wiratanudatar I (Dalem Cikundul).
Saat beliau tinggal di cianjur, beberapa tokoh yang sezaman, yaitu Bupati R.A.A Prawiradiredja II (1862-1910). Sebagai donator terbitnya koran pertama berbahasa melayu di Priangan, Soenda Berita (1903-1904) yang dikelola priyayi jawa R.M. Tirto Adi Suryo.
Saat itu Cianjur dipimpin bupati Rd.Aom Muharam / R.A.A Wiranatakusumah V (1912-1920) yang mendukung perkembangan SI di Cianjur dan persiapan NATICO I serta berdirinya perguruan Al I’anah 17 September 1912. Di tahun 1915-1919 KH. Muhammad Nuh diangkat sebagai advisor (penasehat) Sarekat Islam H.O.S Tjokroaminoto. Pada saat itu terjadi peristiwa SI Afdeling B, beliau sempat mendapat tekanan yang berat dari pemerintah kolonial Belanda.
Komunikasi dengan tokoh tokoh CSI seperti Abdoel Moeis dan H.O.S Tjokroaminoto berlangsung antara 1914-1917. Salah satu situs tentang kedatangan H.O.S Tjokroaminoto di Kawasan Cianjur diantaranya adanya lahan pesawahan yang dimiliki Tjokroaminoto yang disebut Blok Tjokro di Ciranjang (Kp. Seuseupan, Desa Sindangsari). Kawasan pesawahan tersebut berdiri sejak 1984 dengan nama yang berbeda yaitu blok sampih. Menurut cerita pak Tjokro saat itu didampingi tokoh SI yaitu Bapak Basyir dan Bapak Usip Lurah Gununghalu.
Sebagai ulama yang tinggal di Makkah, KH. Muhammad Nuh menulis setidaknya dua kitab berjudul Al-Ajwibah Asy-Syafiyah li Dzawil ‘Uqulis Salimah tentang fatwa Fiqiyyah Ahlus Sunnah Wal Jamaah Asy Syafiiyyah dan kitab kajian ilmu falak (Astronnomi) yang berjudul Risalah Al Qiblah. Selain itu, beliau menguasai kitab Ihya ‘Ulumuddin nya Al Ghazali yang diajarkan langsung kepada putranya KH. Abdullah bin Nuh.
Kitab-kitab yang diajarkan oleh KH. Muhammad Nuh diantaranya Tafsir Jalalain, Ihya Ulumuddin, SAbilal Muhtadien serta Bughayatul Nusytarsyidin, serta berbagai nasihat serta pandangan-pandangan yang dinukil dari berbagai kitab yang kemudian dijadikan buku dengan judul “Lenyepaneun”. Selain itu, beliau juga meringkas tafsir jalalain, yang mengajarkan Nahwu serta Balaghah dan lain lain.
Sebagai ulama yang terjun di Dunia politik Islam, konsistensi dalam memperjuangkan aspirasi umat Islam berlanjut hingga era kemerdekaan, di mana beliau aktif membersamai partai Masjoemi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia) dan bahkan sempat diamanahi sebagai anggota Konstituante Republik Indonesia periode 1956–1959. Beliau tercatat sebagai anggota Konstituante No. 247 disebut K.R.R.H. Moh Noh Idris (1956-1959).
Pengajian madrasah kaum begitu dikenal orang suatu pengajian bagi pria dan wanita yang didirikan beliau sebelum Al I’anah didirikan. YPI Al I’anah karya beliau yang kedua diusahakannya sampai mendapatkan akde badan huku pada waktu itu Namanya I’anatuttolibin wal miskin (Menolong pelajar dan yang tak mampu).
Peristiwa Bersejarah selama masa hidup KH. R. Muhammad Nuh
Selama masa kehidupan beliau di Cianjur 1878 – 1966 berbagai peristiwa bersejarah perlu mendapat berbagai catatan sebagai berikut :
Pertama, Geger Cianjur 1885.
Kedua, Terbitnya koran pertama di Cianjur berbahasa melayau yaitu Soenda Berita.
Ketiga, Terbitnya Majalah Al Moemin: Redaktur KH. Abdullah bin Nuh dan R.N. Aboebakar.
Keempat, Rapat Umum tentang Chilafat 30 November 1924 di Cianjur. Harian Hindia Baroe, 4 Desember 1924 memberitakan tentang pertemua Sub Comite Chilafaat Tjiandjoer yang dihadiri oleh 3000 orang dari berbagai kota seperti Cianjur dan Sukabumi, pertemuan ini membahas tentang perjuangan khilafah.
Kelima, Kongres Nasional Pertama Central Sarekat Islam 17-24 Juni 1916 di Bandung. Tahun-tahun itu pula, SI dikenal oleh tokoh KH. Muhammad Nuh yang memang memiliki akses dengan pendopo. Sebab, selain jarak rumahnya di kaum sangatlah dekat, beliau juga termasuk tokoh ulama yang memiliki hubungan kerabat dengan bupati-bupati Cianjur sebelumnya.
Wafatnya KH. R. Muhammad Nuh
KH. R. Muhammad Nuh wafat pada ahad malam Senin, 21 Maret 1966/29 Dzulqodah 1385 H di era kepemimpinan bupat Letkol R. Rakhmad dan Letkol Sarmada.
Kiai Haji Raden Muhammad Nuh bin Idris wafat dengan meninggalkan warisan amal jariyah yang masif—mulai dari institusi pendidikan yang dicintainya, ribuan murid yang meneruskan estafet dakwah, hingga catatan keteladanan seorang ulama yang utuh memadukan kedalaman tasawuf, ketajaman intelektual, dan ketegasan sikap politik demi kemaslahatan umat dan bangsa.
Daftar Pustaka
Hamijaya, N. A. (2025) KH. R. Muhammad Nuh bin Idris Pendiri Madrasah Al I’anah Cianjur (Ulama, Muqoddam Tijani, Advisuur SI dan Politisi Masjoemi. Cianjur: Pusbangter
